Doa-Doa Untuk Pemimpin

N Zaid - Doa Sehari-hari 18/02/2024
Foto: Pixabay
Foto: Pixabay

Oase.id - Pemilihan Presiden masih bergulir namun berdasarkan hitung cepat berbagai lembaga survei, pasangan Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka telah memenangkan kontestasi dengan satu putaran karena perolehannya berada di atas 50+1% suara. Meski proses penghitungan resmi masih berlangsung, namun kubu Prabowo-Gibran sudah merasa memenangkan Pilpres. Sementara, kubu lain dan pendukungnya masih menunggu perhitungan resmi KPU.

Dalam kontestasi tentu ada yang menang dan kalah, tidak terkecuali dalam pemilihan pemimpin yang dilakukan dengan sistem demokrasi pemilihan umum ini. Pihak yang tidak puas, memang bisa melakukan gugatan hasil pemilu melalui jalur hukum yang tersedia. Namun, yang perlu diingat, sebagai umat Islam, kita harus senantiasa merujuk pada dalil syariat, tidak terkecuali menyikapi kepemimpinan negara. 

Ada adab-adab yang harus dijaga dalam berhubungan dengan penguasa yang sah. Ketika, nanti secara resmi pemimpin yang baru ditunjuk, maka siapa pun harus menerimanya. Pihak yang tidak puas dan tidak suka dengan pemimpin baru diharamkan untuk menghina dan mencaci-makinya. Seburuk apa pun pemimpin itu di mata kita. 

Ini adalah perintah agama, sebagaimana Rasulullah mewasiatkan nasihatnya tentang menaati pemimpin. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak)”. (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”

Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847. Lihat penjelasan hadits ini dalam Muroqotul Mafatih Syarh Misykah Al Mashobih, 15/343, Maktabah Syamilah)

Ketaatan itu toh bukan ketaatan membabi buta. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

Adapun jika mereka memerintahkan kita untuk bermaksiat kepada Allah, maka kita dilarang untuk mendengar dan mentaati mereka. Karena Rabb pemimpin kita dan Rabb kita (rakyat) adalah satu yaitu Allah Ta’ala oleh karena itu wajib ta’at kepada-Nya. Apabila mereka memerintahkan kepada maksiat maka tidak ada kewajiban mendengar dan ta’at.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada kewajiban ta’at dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (bukan maksiat).” (HR. Bukhari no. 7257)

Ada berbagai dalil lain, yang memerintahkan kita untuk beradab menghadapi pemimpin, meskipun mereka bukan orang yang kita sukai. 

Kisah di bawah ini, bisa jadi renungan bahwa pentingnya menaati pemimpin. Dan bagaimana seharusnya rakyat menyikapinya.

Dari ‘Abdush Shomad bin Yazid Al Baghdadiy, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

لو أن لي دعوة مستجابة ما صيرتها الا في الامام

“Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.”

Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” (Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashfahaniy, 8: 77, Darul Ihya’ At Turots Al ‘Iroqiy)

Ustaz Syafiq Riza Basalamah juga dalam salah satu kajian berpesan bahwa lebih utama kita mendoakan pemimpin agar bisa berkuasa dengan lebih amanah, karena hal itu lebih maslahat ketimbang mencacinya, terutama di depan umum.

Dikutip dari Rumaysho, berikut sejumlah doa untuk para pemimpin agar mereka bisa menjalankan tugasnya dengan baik. 

1. Berlindung dari Pemimpin yang Kekanak-kanakan

ALLAHUMMA INNI A’UDZUBIKA MIN IMAAROTISSHIBYAAN WAS SUFAHAA’.

Artinya: “Ya Allah, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari pemimpin yang kekanak-kanakan dan dari pemimpin yang bodoh.” (Ini adalah doa dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disebutkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 66)

2. Meminta yang Terbaik

ALLAHUMMA WALLI ‘ALAINAA KHIYARONAA WA LAA TUWALLI ‘ALAINAA SYIRORONAA

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah orang terbaik kami sebagai pemimpin kami. Jangan Engkau berikan kekuasaan itu pada orang yang jahat dari kami.”

3. Agar Pemimpin Menjadi Lebih Baik dan Mendapat Petunjuk 

ALLAHUMA ASH-LIH WULAATA UMUURINAA. AALLAHUMA WAFFIQHUM LIMA FIIHI SHOLAAHUHUM WA SHOLAAHAL ISLAM WAL MUSLIMIIN. AALLAHUMA A’INHUM ‘ALAL QIYAAM BI MAHAAMIHIM KAMA AMARTAHUM, YA ROBBAL ‘AALAMIIN. ALLAHUMA AB’ID ‘ANHUM BITHONATAS SUU’ WAL MUFSIDIIN WA QORRIB ILAIHIM AHLAL KHOIRI WAN NAASHIHIIN, YA ROBBAL ALAMIN. ALLAHUMA ASH-LIH WULAATA UMUURIL MUSLIMIIN FII KULLI MAKAAN.

Artinya: “Ya Allah, perbaikilah keadaan pemimpin kami. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin. Ya Allah, bantulah mereka untuk menunaikan tugasnya sebagaimana yang Engkau perintahkan, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jauhkanlah mereka dari teman dekat yang jelek dan teman yang merusak. Juga dekatkanlah orang-orang yang baik dan pemberi nasihat yang baik kepada mereka, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, perbaikilah keadaan setiap pemimpin urusan kaum muslimin di mana pun mereka berada.”

Demikian Islam menganjurkan kita untuk mendoakan pemimpin karena itu lebih utama dan membawa maslahat, ketimbang mencaci makinya bahkan memberontak karena hanya akan membawa kerusakan yang lebih besar. 


(ACF)