Pernah Suatu Ketika, Cuma Nabi yang Tak Terserang Wabah

Sobih AW Adnan - Nabi Muhammad Saw 08/03/2020
Photo by Khaled Alzarroug from Pixabay
Photo by Khaled Alzarroug from Pixabay

Oase.id- Meskipun Nabi Muhammad Saw dan rombongan berhasil lolos dari kejaran kafir Quraisy dan tiba di Madinah, ternyata tantangan umat Islam tak berhenti begitu saja. Di kota yang sebelumnya bernama Yatsrib tersebut, masyarakat setempat sedang dicekam wabah.

Epidemi yang membuat suhu badan mendadak panas drastis itu dengan cepat menyebar hingga ke pendatang. Masyarakat lokal, kaum Anshar, serta Muhajirin, akhirnya tumbang menderita demam.

Beberapa sahabat, bahkan sudah nyaris putus asa atas derita yang dirasakannya. Di antara yang terserang demam akut adalah Amir bin Fuhairah, Bilal bin Rabah, dan Abu Bakar As-Shidiq.

Bahkan, ketika ditanya putrinya, Aisyah, tentang keadaan dan kondisi yang dirasakannya, Abu Bakar menjawab, "Setiap orang disambut ucapan selamat pagi oleh keluarganya, padahal maut lebih dekat kepadanya dari pada tali terompahnya."

Aisyah paham, ayah tercintanya itu berucap tanpa disengaja. Ia semacam tengah mengigau lantaran kelewat demam.

Baca: Bayi Muhammad Pemanggil Hujan

 

Aisyah melemparkan pertanyaan serupa kepada Amir. 

"Bagaimana keadaanmu, Amir?" Tanya Aisyah.

Amir menjawab, "Kurasakan kematian sebelum mengalaminya. Sesungguhnya pengecut selalu berteriak dari atas. Setiap orang berusaha sekuat tenaga bagai sapi jantan yang melindungi kulit dengan tanduknya."

Demikian pun Bilal. Ketika demam mendera, ia cuma bisa berbaring dan berseru;

"Duhai, bisakah aku bermalam di Fakh, yang dikelilingi idzkhir dan jalil. Mungkinkan aku meneguk air telaga Majinnah lagi, dan menatap gunung Syamah dan Thufail di hadapanku?"

Aisyah panik. Yang ia ingat cuma satu, hanya Nabi Muhammad Saw yang saat itu masih terlihat kuat dan bugar, seperti biasanya.

 

Aisyah segera menemui Rasulullah dan menceritakan semua kondisi para sahabat dan racauannya. Usai menyimak laporan Aisyah, Nabi Saw berdoa, "Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Mekah, atau lebih dari itu. Berkahilah mudd dan sha'nya, dan alihkanlah wabahnya ke Mahya'ah."

Beruntunglah Allah Swt tetap melindungi Rasulullah dari paparan wabah. Sebab, usai Nabi berdoa, umat Islam pun harus kembali berjuang mempertahankan diri dari ancaman musuh yang seolah tiada henti-hentinya.

 


Sumber: Disarikan dari kisah dalam As-Sirah An-Nabawiyah li Ibni Hisyam karya Abu Muhammad Abdul-Malik bin Hisyam atau masyhur disebut Imam Ibnu Hisyam. 


(SBH)