Kisah Sahabat yang Meminta Izin Berzina, Pelajaran Hikmah dari Rasulullah

N Zaid - Dosa 31/01/2026
Ilustrasi: Pixabay
Ilustrasi: Pixabay

Oase.id - Dalam salah satu ceramahnya, Ustadz Syafiq Riza Basallamah mengisahkan sebuah peristiwa penting yang terjadi pada masa Rasulullah ﷺ. Kisah ini, menurutnya, menjadi pelajaran besar tentang cara Islam menghadapi dosa dengan hikmah, bukan dengan kemarahan.

Ustadz Syafiq menceritakan, ada seorang sahabat yang datang menghadap Nabi Muhammad ﷺ dengan permintaan yang mengejutkan. Sahabat tersebut secara terbuka meminta izin untuk berzina, meskipun ia mengetahui dengan jelas bahwa zina adalah perbuatan yang diharamkan dalam Islam.

“Dia tahu hukum zina itu haram, tapi tetap minta izin. Mungkin dia merasa nafsunya sangat kuat,” ujar Ustadz Syafiq.

Permintaan itu memicu kemarahan para sahabat yang lain. Namun Rasulullah ﷺ tidak merespons dengan amarah. Nabi justru memanggil pemuda itu dengan lembut dan memintanya untuk mendekat.

“Nabi berkata, ‘Sini kau mendekat,’ sampai anak muda itu benar-benar dekat, bahkan Rasulullah bisa menyentuh dadanya,” tutur Ustadz Syafiq.

Setelah itu, Rasulullah ﷺ mulai menasihatinya dengan pendekatan yang menyentuh hati. Nabi tidak langsung menyebut dosa atau ancaman hukuman, melainkan mengajukan pertanyaan yang sederhana namun mendalam.

“Nabi bertanya, 'Engkau mau enggak ibumu dizinai orang?'” kata Ustadz Syafiq menirukan dialog tersebut.

Pemuda itu langsung menjawab bahwa ia tidak rela jika hal itu terjadi pada ibunya. Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun yang rela kehormatan ibunya dirusak. Begitu pula dengan anak perempuan, saudari, atau bibi.

“Engkau rida anak perempuanmu dizinai? Engkau rida saudaramu, bibimu dizinai orang? Enggak ada orang yang mau,” lanjut Ustadz Syafiq mengutip penjelasan Rasulullah ﷺ.

Melalui dialog itu, Nabi ﷺ menanamkan kesadaran bahwa setiap perbuatan zina bukan hanya soal pelaku dan korban, tetapi juga menyangkut kehormatan sebuah keluarga. Wanita yang dizinai adalah anak orang, ibu orang, dan bagian dari keluarga yang harus dijaga.

Ustadz Syafiq menegaskan pesan utama dari kisah tersebut.
“Ketika antum berzina, ketahuilah yang antum rusak itu keluarganya orang. Kalau antum tidak menjaga keluarganya orang, bagaimana Allah akan menjaga keluarga antum?” ujarnya.

Di akhir nasihatnya, Rasulullah ﷺ mengarahkan pemuda itu untuk bertobat dengan sungguh-sungguh. Bukan hanya menyesali perbuatan, tetapi juga bertekad untuk menjaga diri dan kehormatan orang lain ke depannya.

“Kalau sudah terlanjur, bertobatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha. Apa yang sudah terjadi, tinggalkan. Sekarang jaga diri,” kata Ustadz Syafiq menutup kisah tersebut.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa Islam mengajarkan penyelesaian masalah dengan kelembutan, logika, dan empati. Dosa tidak dihadapi dengan celaan, melainkan dengan nasihat yang membuka hati dan menguatkan iman.


(ACF)
TAGs: Dosa