Serangan Drone Hantam Masjid dan Pusat Tahfiz di Sudan, Tiga Anak Tewas dan 13 Luka
Oase.id - Serangan drone menargetkan sebuah masjid dan pusat hafalan Al-Qur’an di Negara Bagian Kordofan Utara, Sudan, menewaskan tiga anak dan melukai sedikitnya 13 orang lainnya. Serangan ini memicu kecaman luas karena menyasar fasilitas pendidikan keagamaan yang digunakan warga sipil.
Menurut asosiasi dokter Sudan, serangan diduga dilakukan oleh kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Insiden tersebut terjadi di Kota Rahad (Rehed), dan menghantam lokasi yang dipakai khusus untuk kegiatan pendidikan agama dan tahfiz Al-Qur’an.
Fasilitas Sipil Kembali Jadi Sasaran
Serangan menggunakan pesawat tanpa awak itu menambah daftar panjang serangan terhadap area sipil di tengah konflik bersenjata yang berlangsung di Sudan sejak April 2023. Sejumlah sekolah, pusat ibadah, dan kawasan permukiman berulang kali terdampak pertempuran antara faksi-faksi bersenjata.
Laporan media internasional dan lembaga kemanusiaan mencatat peningkatan serangan drone di kawasan Kordofan dalam beberapa bulan terakhir. Anak-anak termasuk kelompok yang paling sering menjadi korban.
Eskalasi kekerasan juga memicu gelombang pengungsian besar-besaran karena warga terpaksa meninggalkan rumah demi mencari tempat yang lebih aman.
Krisis Kemanusiaan Makin Memburuk
Data dari International Organization for Migration (IOM) menunjukkan puluhan ribu orang mengungsi dalam beberapa pekan terakhir seiring meluasnya kekerasan di wilayah Sudan bagian tengah dan barat.
Perang berkepanjangan telah memperparah krisis kemanusiaan di negara itu. Warga menghadapi kelaparan, runtuhnya infrastruktur dasar, serta minimnya jaminan keamanan. Penargetan lembaga pendidikan dan tempat ibadah semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga sipil.
Komunitas internasional berulang kali menyerukan perlindungan bagi warga sipil dan penghentian serangan terhadap objek nonmiliter. Namun, hingga kini serangan masih terus terjadi. Pengamat menilai, tanpa gencatan senjata permanen dan proses politik yang kredibel, risiko tragedi serupa akan terus berulang.(Ilkha)
(ACF)