Kisah Mualaf Jacquline Young: Perjalanan 8 Tahun Mencari Kebenaran hingga Mantap Masuk Islam

N Zaid - Mualaf 11/02/2026
Jacqueline Young. Foto: SC YouTube Dondy Tan
Jacqueline Young. Foto: SC YouTube Dondy Tan

Oase.id - Perjalanan spiritual setiap orang tidak pernah sama. Ada yang singkat, ada pula yang panjang dan penuh pergulatan batin. Itulah yang dialami Jacquline Viana Young, seorang perempuan keturunan Tionghoa asal Cilegon yang kini menetap dan bekerja di Bandung. Dalam sebuah podcast Bersama pendakwah Koh Dondy Tan, Jacquline membagikan kisahnya menemukan Islam setelah melalui pencarian panjang selama bertahun-tahun.

Masuk Islam bukan keputusan spontan. Baginya, ini adalah hasil dari proses berpikir, bertanya, membaca, dan mengalami langsung dinamika keyakinan sejak masa sekolah.

Tumbuh di Keluarga Kristen, Aktif Beribadah Sejak Kecil

Jacquline lahir dan besar dalam keluarga Kristen. Ia aktif mengikuti kegiatan gereja sejak kecil dan terbiasa membaca Alkitab setiap pagi.

“Aku dari kecil Kristen. Sabtu-Minggu ke gereja. Bahkan aktif juga di komunitas agama di sekolah,” tuturnya.

Saat SMA, ia sempat bersekolah di Tiongkok selama sekitar satu setengah tahun. Sepulangnya ke Indonesia, rasa ingin tahunya tentang agama justru makin kuat. Namun saat itu, ia sama sekali tidak memiliki niat untuk berpindah keyakinan.

Pertanyaan tentang Konsep Ketuhanan Jadi Titik Awal

Perjalanan pencariannya bermula dari percakapan dengan seorang teman Muslim yang menanyakan konsep Tuhan dalam Kristen, khususnya tentang Trinitas.

“Ada teman nanya, Tuhan itu bagaimana? Kenapa harus tiga tapi satu? Waktu itu aku jawab seperti yang diajarkan. Tapi pas ditanya lebih dalam, aku sendiri bingung menjelaskannya,” katanya.

Ia mencoba mencari jawaban ke pembimbing rohani dan pengajar gereja. Namun respons yang diterimanya dirasa belum memuaskan. “Jawabannya lebih ke ‘imani saja’. Tapi aku merasa manusia diciptakan untuk berpikir. Masa enggak boleh bertanya?”

Dari situ, rasa penasarannya terhadap Islam mulai tumbuh.

Mulai Membaca Al-Qur’an Diam-Diam

Seorang teman kemudian memberinya Al-Qur’an terjemahan. Dari situlah Jacquline mulai membaca dan membandingkan dengan kitab yang selama ini ia pelajari.

“Aku baca pelan-pelan. Kadang aku sandingin dengan ayat di Alkitab. Aku memang terbiasa baca kitab suci tiap pagi,” ujarnya.

Namun proses ini sempat terhenti ketika ibunya menemukan Al-Qur’an di kamar kosnya.

“Mama tanya ini siapa yang ngasih. Temanku sampai dimarahin. Qur’annya diminta balikin. Tapi beberapa waktu kemudian aku minta lagi, karena memang masih ingin belajar.”
Tersentuh Surat Ar-Rahman

Di antara banyak bacaan dan referensi, ada satu hal yang sangat membekas: Surat Ar-Rahman.

“Aku pertama kali benar-benar tersentuh itu justru dari Surat Ar-Rahman. Aku dengar hampir tiap malam. Katanya bisa menenangkan, dan memang terasa menenangkan,” katanya.
Ia bahkan sering tertidur dengan earphone masih terpasang karena mendengarkan lantunan ayat tersebut.

Belajar Salat Sebelum Syahadat

Uniknya, Jacquline sudah belajar dan mempraktikkan salat bahkan sebelum resmi bersyahadat. Ia mempelajari gerakan dan bacaan dari buku dan rekaman.

“Aku sampai ngafalin doa salat pakai headset. Waktu itu belum tahu juga hukumnya bagaimana, yang penting hafal dulu,” ujarnya.

Ia berusaha salat lima waktu, meski mengakui masih bolong-bolong di awal. Saat itu ia mengira dirinya sudah otomatis menjadi Muslim karena sudah menjalankan salat.

“Aku kira kalau sudah salat berarti sudah Islam. Ternyata harus syahadat dulu secara resmi.”

Resmi Mualaf di Masjid Salman ITB Tahun 2021

Setelah melalui proses panjang sekitar delapan tahun sejak pertanyaan pertamanya tentang konsep Tuhan, Jacquline akhirnya mantap mengucap syahadat pada 2021 di Masjid Salman ITB, 
Bandung.

“Aku bersyahadat di Masjid Salman. Dari situ juga dapat pembimbing, belajar baca Qur’an, belajar dasar-dasar Islam,” jelasnya.

Ia mengikuti kelas rutin selama sekitar dua tahun, mempelajari iqra, salat, dan kisah para nabi.

Reaksi Keluarga: Kecewa tapi Tetap Menerima

Keluarga baru mengetahui keislamannya satu hingga dua tahun setelah ia bersyahadat. Ibunya sempat sangat kecewa.
“Kata pertama mama: ‘Maaf ya, mama gagal membimbing kamu.’ Itu bikin aku sedih. Tapi akhirnya mama bilang itu hak aku memilih agama,” kenangnya.

Hingga kini hubungan tetap berjalan baik, meski ibunya belum sepenuhnya nyaman melihatnya berhijab. Dalam beberapa situasi keluarga, ia memilih menyesuaikan demi menjaga hubungan.

Tantangan di Lingkungan Kerja dan Sosial

Jacquline yang kini bekerja sebagai guru Mandarin di sekolah internasional juga menghadapi tantangan soal identitas keislamannya. Tempatnya bekerja tidak memperbolehkan atribut agama, termasuk hijab.

“Di luar kerja aku pakai hijab kalau ke masjid atau kajian. Pelan-pelan saja,” katanya.

Ia juga pernah mengalami penolakan saat melamar kerja di tempat lain setelah mengucapkan kata “alhamdulillah” saat wawancara.

“Interview kerja lima menit, ceramahnya dua jam,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Merasakan Ketenangan dan Doa Lebih Mudah Dikabulkan

Meski menghadapi berbagai tantangan, Jacquline mengaku merasakan ketenangan setelah masuk Islam.“Sekarang rasanya lebih bahagia. Salat itu sudah jadi kebutuhan,” katanya.

Ia juga merasakan perubahan dalam kehidupan spiritualnya.

“Entah kenapa, setelah masuk Islam, doaku terasa lebih cepat diijabah. Banyak hal yang aku minta dimudahkan.”

Pesan Jacquline: Cari Kebenaran dengan Pikiran Terbuka

Bagi Jacquline, Islam dipilih bukan karena kemudahan, justru sebaliknya.

“Di Islam ibadahnya lebih disiplin. Salat lima waktu, belajar Qur’an, banyak yang harus dijalani. Tapi justru di situ aku menemukan jawaban yang dulu aku cari,” ujarnya.

Perjalanannya menunjukkan bahwa hidayah bisa datang melalui proses panjang — dari rasa ingin tahu, keberanian bertanya, hingga kesungguhan mencari kebenaran.

 

 


(ACF)
TAGs: Mualaf