AlUla Bidik Jadi Pusat Industri Film MENA, Bangun Studio dan Siapkan Talenta Lokal

N Zaid - Tradisi dan Budaya 07/02/2026
AlUla. Foto: Arabnews
AlUla. Foto: Arabnews

Oase.id - AlUla di Arab Saudi memposisikan diri sebagai pusat industri film kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA). Wilayah yang dikenal dengan lanskap gurun dan situs warisan budayanya itu kini dikembangkan menjadi lokasi produksi film terpadu untuk mendorong lapangan kerja, pariwisata, dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Direktur Eksekutif Film AlUla, Zaid Shaker, dan Chief Tourism Officer Royal Commission for AlUla, Philip J. Jones, menyampaikan rencana tersebut dalam wawancara terbaru. Fokus utamanya adalah membangun ekosistem perfilman, menarik beragam produksi, serta menjadikan film sebagai pendorong kunjungan wisata sepanjang tahun.

Shaker mengatakan pengembangan AlUla tidak hanya berorientasi pada penyediaan lokasi syuting, tetapi juga pembentukan industri yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal.

Menurut dia, investasi besar telah digelontorkan untuk fasilitas dan pelatihan agar sineas mendapatkan kebutuhan lengkap di satu lokasi — mulai dari keahlian teknis, infrastruktur produksi, hingga variasi lanskap. Dalam jarak tempuh singkat, satu lokasi bisa menghadirkan beberapa tampilan visual berbeda, sehingga lebih efisien bagi rumah produksi.

Studio Berstandar Internasional dan Lokasi Alam Jadi Andalan

Strategi utama AlUla mencakup pembangunan studio berteknologi tinggi yang dioperasikan bersama MBS Group, induk Manhattan Beach Studios — studio yang digunakan untuk produksi sekuel film “Avatar”.

Jones mengatakan kombinasi studio modern dan bentang alam AlUla menjadi nilai jual utama bagi produser. Mereka bisa mendapatkan lokasi luar ruang yang unik sekaligus fasilitas studio tertutup dalam satu kawasan. Menurutnya, AlUla tidak ingin dikenal sebagai lokasi dengan satu jenis tampilan saja, tetapi menawarkan banyak pilihan visual.

Film Romantis Jadi Proyek Unggulan

Salah satu proyek unggulan saat ini adalah film komedi romantis “Chasing Red”. Proyek ini dipilih untuk menunjukkan bahwa AlUla tidak hanya cocok untuk film perang atau drama berat, tetapi juga genre ringan.

Shaker menjelaskan film tersebut memanfaatkan fasilitas studio sekaligus berbagai lokasi luar ruang. Meski ceritanya bisa dibuat di tempat lain, pemilihan AlUla dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa genre komedi romantis pun bisa diperkuat oleh karakter visual lokasi setempat.

Film ini juga menjadi proyek pertama dalam skema kontrak produksi jangka lebih luas. Jika berhasil, diharapkan membuka peluang bagi berbagai genre lain untuk diproduksi di AlUla.

Program Pelatihan Libatkan Ratusan Anak Muda Saudi

Pengembangan tenaga kerja lokal menjadi pilar utama program ini. Sejak awal tahun, lebih dari 180 anak muda Saudi telah mengikuti pelatihan, dan sekitar 50 orang dijadwalkan terlibat langsung dalam produksi yang sedang berjalan.

Pelatihan dimulai dari posisi dasar seperti asisten produksi, lalu berlanjut ke bidang kamera, pencahayaan, rigging, dan pengelolaan data. Selain keterampilan teknis, tersedia juga kelas apresiasi film yang membahas kritik, komposisi visual, dan perbedaan film seni dengan film komersial.

Jones menilai keberadaan tenaga lokal terlatih membuat biaya produksi lebih efisien karena rumah produksi tidak perlu mendatangkan banyak staf dari luar negeri. Tahun ini, AlUla tercatat menjadi tuan rumah bagi 85 produksi, melampaui target awal.

Partisipasi Perempuan Dominan

Program pelatihan juga mencatat partisipasi perempuan lebih dari 55 persen. Shaker menyebut angka ini signifikan karena membuka peluang bagi perempuan Saudi masuk ke industri yang selama ini didominasi laki-laki, sekaligus membentuk budaya kerja baru di lokasi produksi.

Target Lebih dari 100 Produksi pada 2026

Menatap 2026, AlUla menargetkan lima hingga enam film panjang serta lebih dari 100 produksi gabungan, termasuk film, iklan, dan proyek lainnya. Pemerintah setempat juga mendorong investasi sektor swasta untuk menambah studio agar beberapa produksi bisa berjalan bersamaan.

Dari sisi pariwisata, dampak industri film dinilai terjadi dalam dua tahap. Dalam jangka pendek, produksi mendatangkan kru yang mengisi hotel, restoran, dan menggunakan jasa lokal. Dalam jangka panjang, film menjadi etalase visual yang menarik wisatawan datang langsung.

Shaker menyebut AlUla sedang membangun fondasi sektor budaya yang diharapkan memberi dampak ekonomi selama puluhan tahun. Targetnya, AlUla tidak hanya menjadi lokasi syuting pilihan, tetapi juga destinasi kunjungan global. (arabnews)


(ACF)