3 Bohong yang Diperbolehkan dalam Islam, Apa Saja?

N Zaid - Berita Bohong 28/06/2026
Boleh berbohong dalam Islam. Foto: Pixabay
Boleh berbohong dalam Islam. Foto: Pixabay

Oase.id - Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berkata jujur. Kejujuran merupakan salah satu akhlak mulia yang diperintahkan Allah subhanahu wata'ala, sedangkan kebohongan termasuk perbuatan tercela yang dapat mengantarkan seseorang kepada dosa.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang akan terus berkata jujur hingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka." (HR. Bukhari No. 6094 dan Muslim No. 2607)

Meski demikian, syariat Islam memberikan keringanan dalam kondisi tertentu. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa ada tiga keadaan di mana ucapan yang tidak sepenuhnya sesuai fakta diperbolehkan demi mewujudkan kemaslahatan yang lebih besar dan mencegah kerusakan.

1. Berdusta untuk Mendamaikan Dua Orang yang Berselisih

Islam sangat menganjurkan perdamaian. Karena itu, seseorang diperbolehkan menyampaikan perkataan yang dapat memperbaiki hubungan dua pihak yang sedang bertikai, meskipun perkataan tersebut bukan ucapan persis sebagaimana adanya.

Ummu Kultsum binti Uqbah radhiyallahu 'anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

"Bukanlah pendusta orang yang mendamaikan manusia, lalu ia menyampaikan perkataan yang baik atau mengatakan hal-hal yang baik." (HR. Bukhari No. 2692 dan Muslim No. 2605)

Misalnya, seseorang berkata kepada dua sahabat yang sedang bertengkar, "Dia sebenarnya sangat menghargaimu dan ingin berdamai," padahal ucapan itu disampaikan untuk membuka jalan rekonsiliasi, bukan untuk merugikan salah satu pihak.

2. Berdusta Saat Perang

Dalam peperangan yang dibenarkan syariat, strategi dan penyamaran menjadi bagian dari taktik menghadapi musuh.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

"Perang itu adalah tipu daya." (HR. Bukhari No. 3030 dan Muslim No. 1739)

Karena itu, menyembunyikan informasi, mengelabui musuh, atau memberikan informasi yang menyesatkan dalam konteks peperangan diperbolehkan selama bertujuan melindungi kaum Muslimin dan bukan untuk berkhianat terhadap perjanjian yang sah.

3. Perkataan Suami kepada Istri atau Istri kepada Suami demi Menjaga Keharmonisan

Islam juga memberikan kelonggaran dalam hubungan suami istri apabila tujuannya untuk menumbuhkan kasih sayang, bukan mengambil hak pasangan atau melakukan penipuan.

Dalilnya berasal dari hadis Ummu Kultsum radhiyallahu 'anha:

"Aku tidak pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan keringanan untuk berdusta kecuali dalam tiga perkara: ketika perang, mendamaikan manusia, dan ucapan seorang suami kepada istrinya atau istri kepada suaminya." (HR. Muslim No. 2605)

Contohnya seperti suami berkata, "Masakanmu adalah yang paling enak," atau istri mengatakan, "Aku sangat bahagia bersamamu," sebagai ungkapan kasih sayang dan untuk mempererat hubungan rumah tangga. Para ulama menjelaskan bahwa kebolehan ini tidak mencakup kebohongan yang menghilangkan hak pasangan, seperti berbohong soal harta, perselingkuhan, atau kewajiban nafkah.

Bukan Berarti Bebas Berbohong

Para ulama menegaskan bahwa tiga kondisi di atas bukanlah izin untuk berdusta secara mutlak. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa apabila tujuan baik tersebut masih bisa dicapai dengan menggunakan kalimat yang bersifat sindiran (tauriyah) atau ucapan yang tidak mengandung dusta secara langsung, maka cara itu lebih utama.

Kebohongan yang diperbolehkan dalam hadis juga dibatasi hanya sebatas kebutuhan dan tidak boleh digunakan untuk mengambil hak orang lain, menzalimi, menipu, atau melakukan maksiat.

Kejujuran Tetap Menjadi Prinsip Utama

Islam tetap menjadikan kejujuran sebagai akhlak yang harus dijaga dalam seluruh aspek kehidupan. Adapun kebolehan berdusta dalam tiga keadaan tersebut merupakan bentuk keringanan syariat (rukhsah) demi menjaga kemaslahatan yang lebih besar, seperti menciptakan perdamaian, melindungi umat saat perang, dan menjaga keharmonisan rumah tangga.

Karena itu, seorang Muslim hendaknya tetap berhati-hati dalam berbicara dan tidak menjadikan hadis ini sebagai alasan untuk membenarkan kebohongan di luar batas yang telah ditetapkan oleh syariat.


(ACF)