Lima Jalan Menuju Hati yang Jernih, Ustadz Mujiman: Bersihkan Syirik hingga Jauhi Riya
Oase.id - Memiliki hati yang bersih dan sehat atau salamatul qalb merupakan dambaan setiap Muslim. Namun, mencapai kejernihan hati bukan perkara mudah. Dalam salah satu kajiannya, Ustadz Mujiman mengutip penjelasan Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Ad-Da’ wa Ad-Dawa’ tentang lima perkara yang harus dilakukan agar seorang hamba memperoleh hati yang selamat.
Menurutnya, kejernihan hati hanya bisa diraih dengan membersihkan berbagai penyakit hati sekaligus menegakkan lawan dari penyakit tersebut.
“Kita tidak bisa mencapai salamatul qalb, tidak bisa mencapai kejernihan hati kecuali kita bisa melakukan lima perkara. Jadi kalau kita bisa menghapus lima perkara dan melakukan lima perkara, maka kita bisa mendapatkan hati yang sehat,” ujar Ustadz Mujiman.
1. Membersihkan Hati dari Syirik dan Menegakkan Tauhid
Langkah pertama adalah menjauhkan diri dari segala bentuk kesyirikan yang dapat merusak bahkan membatalkan tauhid.
Ustadz Mujiman menegaskan bahwa orang yang masih menggantungkan harapan kepada selain Allah tidak akan mendapatkan ketenangan hati. Ia mencontohkan sebagian orang yang sangat bergantung pada jimat hingga merasa cemas ketika benda tersebut tertinggal.
“Ketika pakai jimat merasa ampuh, merasa hebat. Begitu jimatnya ketinggalan, merasa ampuhnya hilang. Tawakalnya bukan lagi kepada Allah, tetapi kepada jimat,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa syirik bukan hanya mengeruhkan hati, tetapi juga menghapus pahala amal.
“Kalau kamu syirik, amalmu batal. Salatnya rusak, puasanya rusak, bacaan Qurannya sia-sia karena menyekutukan Allah,” tegasnya.
Meski hidup di era digital dan teknologi, Ustadz Mujiman menilai praktik syirik masih banyak ditemukan dengan bentuk yang lebih beragam, mulai dari ritual pesugihan, penglarisan, pengasihan, hingga praktik-praktik pengobatan yang menyimpang dari syariat.
2. Menjauhi Bid’ah dan Menghidupkan Sunnah
Perkara kedua yang harus dibersihkan adalah bid’ah dalam urusan ibadah, yakni amalan yang tidak memiliki tuntunan dari Rasulullah ﷺ.
Dalam ceramahnya, Ustadz Mujiman menjelaskan bahwa yang dimaksud bid’ah adalah penambahan dalam inti ibadah, bukan sarana atau fasilitas pendukung.
Ia mencontohkan penggunaan mikrofon, telepon genggam, atau pesawat terbang sebagai sarana yang tidak termasuk bid’ah karena bukan bagian dari inti ibadah.
“Kalau ada tuntunannya kita kerjakan, kalau tidak ada maka kita tinggalkan. Yang namanya bid’ah itu adalah inti ibadah. Kalau inti ibadah ditambah-tambah, itu tidak boleh,” jelasnya.
Menurutnya, umat Islam sebenarnya tidak perlu sibuk mencari amalan-amalan baru karena masih banyak sunnah Rasulullah ﷺ yang belum diamalkan secara konsisten.
Mulai dari salat rawatib, salat dhuha, qiyamul lail, hingga berbagai sunnah harian lainnya masih sering terabaikan.
“Masih banyak sunnah Nabi yang belum kita amalkan. Maka cukup kita kerjakan sunnah-sunnah Rasulullah ﷺ,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa mengikuti sunnah merupakan salah satu sebab datangnya cinta dan ampunan Allah.
3. Memerangi Syahwat yang Menyelisihi Perintah Allah
Langkah berikutnya adalah membersihkan hati dari syahwat yang mengarahkan seseorang kepada kemaksiatan.
Ustadz Mujiman menjelaskan bahwa manusia memang diciptakan memiliki syahwat. Namun, tugas seorang mukmin adalah mengendalikan syahwat agar tetap berada dalam koridor syariat.
“Syahwat itu cenderung kepada yang haram. Serakah, tamak, iri, dengki, marah, ngamukan, ini hubungannya dengan syahwat,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa syahwat dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti syahwat harta, syahwat perut, maupun syahwat kemaluan.
Ketika seseorang memperturutkan hawa nafsunya tanpa batas, maka ia berpotensi menghalalkan segala cara demi memenuhi keinginannya.
Karena itu, menjaga diri dari makanan haram dan berbagai aktivitas maksiat menjadi bagian penting dalam proses membersihkan hati.
4. Menghindari Kelalaian yang Menjauhkan dari Zikir
Perkara keempat adalah menjauhi sifat lalai (ghaflah), yakni kondisi ketika seseorang terlalu tenggelam dalam aktivitas dunia hingga melupakan Allah.
Ustadz Mujiman menjelaskan bahwa berbeda dengan syahwat yang cenderung kepada hal-hal haram, kelalaian sering kali berasal dari sesuatu yang sebenarnya mubah atau diperbolehkan.
Ia mencontohkan bermain gim, memancing, bermain sepak bola, atau menggunakan telepon genggam.
“Pada asalnya boleh. Tapi karena kadarnya berlebih sampai lalai dari salat, lalai dari zikir, maka ini namanya lalai,” ujarnya.
Menurutnya, zikir tidak hanya terbatas pada ucapan Subhanallah, Alhamdulillah, atau Allahu Akbar. Salat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, dan mendengarkan kajian juga termasuk bentuk zikir kepada Allah.
Karena itu, aktivitas apa pun yang membuat seseorang jauh dari kewajiban dan mengingat Allah perlu diwaspadai.
5. Membersihkan Hati dari Riya, Sum’ah, dan Ujub
Perkara terakhir adalah membersihkan hati dari penyakit yang merusak keikhlasan, seperti riya, sum’ah, dan ujub.
Ustadz Mujiman mengingatkan bahwa amal sebesar apa pun bisa kehilangan nilainya jika dilakukan demi pujian manusia.
“Penting bagi kita memurnikan tujuan ibadah, yaitu mencari rida Allah. Jauhi ingin mendapatkan pujian dan penilaian dari manusia. Jauhi pencitraan,” tegasnya.
Ia kemudian mengutip hadis tentang orang yang berperang bukan karena Allah, melainkan karena keberanian, fanatisme kelompok, atau popularitas.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa yang termasuk fi sabilillah hanyalah orang yang berjuang untuk meninggikan kalimat Allah.
Dalam kesempatan itu, Ustadz Mujiman juga menyampaikan ilustrasi menarik tentang perbedaan antara ibadah dan urusan muamalah.
Menurutnya, jika ibadah dianjurkan untuk disembunyikan demi menjaga keikhlasan, maka dalam urusan perdagangan justru sebaliknya.
“Sekarang zamannya aneh. Ibadah yang mestinya disembunyikan dipamerkan, dagangan yang mestinya dipamerkan malah disembunyikan,” ujarnya disambut senyum jamaah.
Jalan Menuju Salamatul Qalb
Menutup ceramahnya, Ustadz Mujiman kembali merangkum lima kunci meraih hati yang bersih sebagaimana dijelaskan Imam Ibnu Qayyim, yaitu membersihkan syirik untuk menegakkan tauhid, meninggalkan bid’ah untuk menghidupkan sunnah, memerangi syahwat agar taat kepada Allah, menjauhi kelalaian dengan memperbanyak zikir, serta menjaga keikhlasan dari riya, sum’ah, dan ujub.
“Ketika kita sudah berusaha mencapai salamatul qalb, insyaallah kita akan diringankan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,” pungkasnya.
(ACF)