Gus Baha: Jangan Terlalu Yakin pada yang Tampak Kuat, Semua Ada dalam Kendali Allah

N Zaid - Rukun Iman 14/06/2026
Gus Baha: Jangan Terlalu Yakin pada yang Tampak Kuat. Ilustrasi: Pixabay
Gus Baha: Jangan Terlalu Yakin pada yang Tampak Kuat. Ilustrasi: Pixabay

Oase.id - Manusia sering kali menilai segala sesuatu berdasarkan apa yang tampak di hadapan mata. Yang besar dianggap lebih kuat, yang kaya dianggap lebih berpeluang sukses, dan yang berilmu dianggap lebih mudah meraih keberhasilan. Namun menurut ulama kharismatik KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, cara pandang seperti itu belum tentu sejalan dengan hakikat keimanan.

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha mengingatkan bahwa seorang mukmin harus selalu menyadari bahwa segala sesuatu berada dalam kendali Allah subhanahu wa ta’ala. Karena itu, manusia tidak boleh terlalu yakin pada ukuran-ukuran lahiriah semata.

Untuk memudahkan pemahaman, Gus Baha memberikan ilustrasi sederhana tentang jam tangan berbahan besi dan selembar kertas.

"Secara materi, tentu kita mengatakan besi lebih kuat daripada kertas. Itu benar. Tetapi seorang yang beriman harus menambahkan satu keyakinan, yaitu terserah Allah sebagai pengendalinya," ujarnya.

Menurut Gus Baha, sesuatu yang tampak kuat bisa saja hancur dalam hitungan menit jika Allah menghendakinya. Sebaliknya, sesuatu yang terlihat lemah justru dapat bertahan lama karena Allah menjaganya.

"Bisa saja besi itu saya hancurkan lima menit lagi, sementara kertas yang tampak lemah saya simpan baik-baik hingga bertahun-tahun. Di situlah letak iman. Kita tetap menggunakan ilmu, tetapi tidak melupakan bahwa Allah adalah pengendali segala sesuatu," katanya.

Belajar Tawadhu dari Kenyataan Hidup

Dari pemahaman tersebut, Gus Baha mengajak umat Islam untuk membangun sikap tawadhu atau rendah hati. Menurutnya, kesombongan sering muncul karena seseorang merasa dirinya sangat penting bagi lingkungan atau masyarakat.

Padahal, jika direnungkan lebih dalam, dunia tetap berjalan sebelum dirinya lahir dan akan terus berjalan setelah dirinya tiada.

"Sebelum ada saya, agama sudah berjalan. Di daerah yang tidak mengenal saya pun agama tetap berjalan. Dengan ilmu seperti itu, seseorang akan mudah bersikap tawadhu," tuturnya.

Ia mencontohkan seorang profesor yang bangga dengan gelar akademiknya. Namun jika direnungkan, orang tuanya yang tidak tamat sekolah justru mampu melahirkan seorang profesor. Kesadaran semacam itu akan membuat seseorang lebih mudah merendahkan hati di hadapan Allah dan sesama manusia.

Ikhlas Adalah Mengakui Fakta

Selain tawadhu, Gus Baha juga menjelaskan makna ikhlas dari sudut pandang yang sederhana tetapi mendalam.

Menurutnya, ikhlas pada dasarnya adalah keberanian mengakui fakta tanpa menuntut imbalan.

Ia mencontohkan seseorang yang mengatakan kertas berwarna putih. Pernyataan itu tidak membutuhkan bayaran karena memang sesuai kenyataan.

"Allah itu Tuhan adalah fakta. Sama seperti kita mengatakan kertas ini putih. Kalau itu fakta, kenapa harus menunggu imbalan untuk mengakuinya?" ujarnya.

Karena itu, seorang Muslim semestinya beribadah bukan semata-mata karena mengharapkan balasan duniawi, melainkan karena menyadari bahwa Allah memang Tuhan yang berhak disembah.

Dalam Kebaikan Pun Ada Kekurangan

Salah satu pesan yang paling menarik dalam ceramah tersebut adalah pandangan Gus Baha tentang keterbatasan manusia. Menurutnya, bahkan dalam kebaikan yang dilakukan seseorang, sering kali terdapat dampak yang tidak disadari terhadap orang lain.

Ia mencontohkan seorang tokoh besar yang selalu hadir dalam berbagai acara. Di satu sisi itu terlihat baik, tetapi di sisi lain bisa saja mengurangi kesempatan bagi tokoh lain untuk berkembang.

Begitu pula seorang yang terlalu fokus pada keluarganya bisa saja tanpa sadar mengabaikan orang tua atau sahabatnya.

Karena itulah, Gus Baha menegaskan pentingnya memperbanyak istigfar dan meminta maaf kepada sesama.

"Pilihan apa pun yang kita ambil, sering kali tetap ada unsur salahnya. Maka manusia selalu membutuhkan istigfar," katanya.

Memaafkan Membuka Jalan ke Surga

Gus Baha juga mengutip sebuah hadis yang menggambarkan besarnya keutamaan memaafkan sesama Muslim.

Dalam kisah tersebut, ada seseorang yang menuntut haknya kepada orang lain di akhirat karena utang yang belum dibayar. Ketika berbagai perhitungan dilakukan, Allah subahanahu wa ta’ala kemudian menunjukkan sebuah surga yang sangat indah kepada pihak yang dirugikan.

Saat ia bertanya siapa penghuni surga tersebut, Allah menjawab bahwa surga itu diperuntukkan bagi siapa saja yang mau memaafkan saudaranya.

Mendengar itu, orang tersebut akhirnya mengikhlaskan haknya dan memaafkan saudaranya. Keduanya kemudian mendapatkan rahmat Allah.

Bagi Gus Baha, kisah tersebut menunjukkan bahwa ukhuwah atau persaudaraan memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam.

"Jangan sampai kita menjadi penyebab saudara kita mendapat kesulitan di akhirat hanya karena kita tidak mau memaafkan," pesannya.

Melalui ceramahnya, Gus Baha mengingatkan bahwa inti kehidupan seorang mukmin adalah menyadari status dirinya sebagai hamba Allah. Ketika kesadaran itu tertanam kuat, manusia akan lebih mudah bersikap tawadhu, ikhlas, gemar memaafkan, dan tidak terjebak pada penilaian lahiriah yang sering kali menipu.

 


(ACF)
TAGs: Rukun Iman