Menag: Silaturahmi Tak Sekadar Antar Manusia, Juga dengan Alam hingga Dimensi Spiritual

N Zaid - Silaturahmi 31/03/2026
Ilustrasi: Pixabay
Ilustrasi: Pixabay

Oase.id - Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan bahwa makna silaturahmi dalam Islam jauh lebih luas dari sekadar hubungan antar manusia. Ia mengajak masyarakat memahami silaturahmi sebagai keterhubungan yang mencakup alam, makhluk hidup lain, hingga dimensi spiritual.

Pesan tersebut disampaikan dalam tausyiah pada acara halalbihalal Keluarga Besar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), seperti dikutip laman Kemenag, Senin (30/3/2026).

Menurut Nasaruddin, tradisi halalbihalal yang berkembang di Indonesia memang tidak memiliki makna literal dalam literatur, namun dipahami sebagai bentuk silaturahmi yang melengkapi ibadah Ramadan dan perayaan Idulfitri.

Ia menjelaskan, dalam perspektif Islam, silaturahmi memiliki dimensi ekoteologis yang menghubungkan manusia dengan Tuhan dan seluruh ciptaan. Al-Qur’an, kata dia, tidak mengenal konsep benda mati karena seluruh unsur alam memiliki dimensi kehidupan dan senantiasa bertasbih.

“Kalau kita memperlakukan alam dengan cinta, maka alam akan memberikan respons yang nyata,” ujar Nasaruddin.

Ia mencontohkan bahwa tanaman yang dirawat dengan penuh kasih dapat tumbuh lebih baik. Bahkan, benda seperti mesin disebut bisa lebih awet jika diperlakukan dengan perhatian.

Selain itu, Menag juga menyoroti pentingnya empati terhadap makhluk hidup lain, termasuk hewan. Ia mengangkat kisah Nabi Muhammad yang menunjukkan kasih sayang kepada seekor kijang sebagai bukti bahwa hewan memiliki perasaan dan mampu merespons manusia.

Nasaruddin menegaskan, konsep silaturahmi juga melampaui batas agama dan kebangsaan. Tradisi halalbihalal dinilai sebagai warisan budaya inklusif yang mencerminkan nilai persaudaraan universal.

Dalam dimensi spiritual, ia menjelaskan bahwa hubungan silaturahmi tidak terputus oleh kematian. Menurutnya, kematian hanyalah perpindahan fase kehidupan, sementara hubungan dengan orang yang telah wafat tetap bisa dijalin melalui doa.

Ia mengibaratkan doa sebagai kiriman berharga bagi mereka yang telah meninggal dunia. Doa tersebut menjadi penghubung antara yang hidup dan yang telah berpindah ke alam lain.

Lebih lanjut, Nasaruddin juga menekankan pentingnya membangun komunikasi spiritual, termasuk dengan Tuhan. Ia menyebut bahwa Tuhan membuka ruang dialog dengan seluruh makhluk, sehingga manusia tidak seharusnya menutup diri dari komunikasi dan refleksi spiritual.

Dalam kerangka ekoteologi, manusia dipandang sebagai bagian dari ekosistem yang saling terhubung. Karena itu, menjaga hubungan dengan alam menjadi kebutuhan penting untuk keberlangsungan hidup.

Ia berharap tradisi keagamaan seperti halalbihalal tidak hanya berhenti pada seremoni, tetapi menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan dengan lingkungan.

Nasaruddin juga menyinggung relevansi ajaran Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan modern, seperti fenomena alam yang menyuburkan tanah hingga metode penyimpanan hasil pertanian yang telah dicontohkan sejak zaman Nabi Yusuf.

Menurutnya, nilai-nilai dalam kitab suci tetap relevan dan selaras dengan perkembangan sains.

“Silaturahmi sejati adalah membangun hubungan harmonis dengan seluruh ciptaan, baik yang terlihat maupun yang tidak, yang hidup maupun yang telah tiada,” ujarnya.


(ACF)
TAGs: Silaturahmi