Dari Roben Menjadi Abu Bakar: Perjalanan Panjang Mencari Makna Hidup hingga Memeluk Islam
Oase.id - Nama aslinya Roben. Ia dibesarkan di Australia dengan latar keluarga ateis. Namun rangkaian peristiwa berat yang datang bertubi-tubi di masa kuliah justru mengantarkannya pada sebuah perjalanan spiritual panjang, hingga akhirnya ia memeluk Islam dan kini dikenal dengan nama Abu Bakar.
Kisah itu bermula saat ia duduk di tahun pertama universitas. Dalam satu tahun, hidupnya seakan runtuh dari berbagai sisi.
“Orang tua saya berpisah, anjing saya mati—itu hari yang sangat berat—lalu saya mengalami dua kecelakaan mobil hanya dalam waktu satu minggu. Ditambah lagi, seorang teman saya meninggal dunia,” tuturnya.
Deretan musibah itu membuatnya mulai mempertanyakan makna hidup. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri tentang tujuan hidup dan alasan untuk terus bangun setiap pagi.
“Saya mulai bertanya, kenapa saya ada di dunia ini? Apa tujuan hidup? Kenapa saya harus bangun pagi? Kenapa tidak duduk saja di sofa, nonton TV, Jerry Springer, atau apa pun?”
Pertanyaan-pertanyaan itu mendorongnya melakukan pencarian spiritual. Sebagai orang Australia, langkah pertamanya adalah menelusuri agama Kristen. Ia mengunjungi berbagai gereja dan mengikuti kegiatan keagamaan.
“Saya pernah ikut church camp. Semua orang bernyanyi, suaranya indah, tapi saya tidak tahu apa yang mereka katakan. Mereka bilang Tuhan sangat mencintai saya. Dalam hati saya berpikir, ‘Tuhan mencintai saya? Anjing saya baru saja mati.’”
Ia lalu mendalami berbagai aliran Kristen—Katolik, Anglikan, Baptis—bertemu pendeta dan pastor, serta mengajukan banyak pertanyaan. Namun, jawaban yang ia dapat justru membuatnya bingung.
“Setiap saya bertanya, mereka tidak membuka Alkitab untuk menjawab. Mereka menjawab berdasarkan opini masing-masing. Saya melihat satu kitab, tapi begitu banyak interpretasi yang berbeda.”
Pencariannya berlanjut. Ia berdiskusi dengan rekan kerjanya yang beragama Hindu, menelusuri Mormonisme, bahkan menyentuh Yudaisme—terlebih namanya, Roben, kerap disangka nama Yahudi. Namun tak satu pun benar-benar memberinya ketenangan.
Ia sempat merasa hampir menemukan jawabannya dalam Buddhisme.
“Orang-orangnya terlihat damai, hidup selaras dengan dunia. Itu sangat menarik bagi saya. Tapi semakin saya pelajari, saya sadar ini bukan agama tentang Tuhan, melainkan hanya cara hidup yang baik.”
Ironisnya, Islam justru sempat ia tolak mentah-mentah.
“Saya bilang, ‘Islam? Itu teroris. Saya tidak akan menyentuh agama itu.’”
Namun takdir berkata lain. Suatu hari, dalam pencarian yang ia sebut sebagai “eternal quest”, ia justru masuk ke sebuah masjid—tanpa tahu adab sama sekali. Ia masuk dengan sepatu, berjalan di atas sajadah, bahkan hampir menginjak kepala orang yang sedang sujud.
“Saya benar-benar tidak tahu apa yang saya lakukan.”
Di sana, ia bertemu seorang pria berjanggut lebat yang mendekatinya. Dalam benaknya, ketakutan langsung muncul.
“Saya pikir, ini hari terakhir hidup saya.”
Namun yang keluar justru sapaan ramah khas Australia, “G’day mate, how you going?”
Sikap hangat itu membuatnya terkejut. Ia pun duduk dan mulai berdiskusi. Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang berbeda.
“Setiap kali saya bertanya, mereka tidak menjawab dengan opini. Mereka mengambil Al-Qur’an dan berkata, ‘Baca ini, bro.’ Selalu begitu.”
Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit—tentang hijab, poligami, dan aturan Islam lainnya. Namun semua dijawab dengan rujukan ayat Al-Qur’an.
“Saya sampai frustrasi dan bertanya, ‘Kenapa kalian tidak memberi pendapat pribadi?’ Salah satu dari mereka menjawab, ‘Bagaimana saya bisa punya pendapat, jika ini adalah firman Tuhan?’ Kalimat itu benar-benar menghantam saya.”
Ia pun membawa pulang Al-Qur’an dan mulai membacanya dengan serius. Baginya, Al-Qur’an terasa berbeda.
“Rasanya bukan seperti membaca cerita, tapi seperti sedang diperintah, diarahkan, diberi petunjuk.”
Suatu malam, ia meminta tanda langsung dari Tuhan. Ia menyalakan lilin, membuka jendela, dan menunggu sesuatu yang luar biasa terjadi. Namun tak ada apa-apa. Hingga ia membuka kembali Al-Qur’an dan membaca ayat berikutnya.
“Bagi orang-orang yang meminta tanda, bukankah Kami telah menunjukkan tanda-tanda itu? Lihatlah sekelilingmu—matahari, bintang, air—itulah tanda bagi orang-orang berilmu.”
“Saya gemetar. Saya sadar betapa sombongnya saya, meminta tanda khusus, padahal semua tanda sudah ada di depan mata.”
Keesokan harinya, ia mantap mengambil keputusan. Setelah enam bulan mempelajari Islam, ia datang ke masjid untuk mengucapkan syahadat—tanpa tahu apa yang harus diucapkan.
Malam itu bertepatan dengan malam pertama Ramadan. Ribuan orang memenuhi masjid.
“Saya sangat gugup. Mereka bilang saya harus mengucapkan syahadat dalam bahasa Arab. Saya pikir, kalau saya salah ucap, saya mati lagi.”
Namun saat ia mulai mengucapkan kalimat syahadat, semua ketakutan lenyap.
“Rasanya seperti kepala saya disiram air dingin. Saya merasa benar-benar bersih.”
Setelah itu, para jamaah memeluk dan menciuminya.
“Saya belum pernah dicium sebanyak itu oleh pria seumur hidup saya. Tapi itu hari yang indah.”
Sejak hari itu, Roben resmi menjadi Abu Bakar. Ia mengaku hidupnya berubah. Keluarganya yang semula khawatir, perlahan melihat perubahan nyata.
“Ayah saya pernah bilang, ‘Sejak kamu jadi Muslim, kamu jadi orang yang lebih baik. Lebih bisa diandalkan.’ Bahkan, dia pernah meminta Al-Qur’an.”
Dari seorang pemuda dengan mohawk, kaus Metallica, dan hidup tanpa arah, Abu Bakar menemukan makna hidup dalam Islam.
“Sejak hari itu, saya tidak pernah menoleh ke belakang.”
(ACF)