Kisah Mualaf Mariana Tavares: Berawal dari Mimpi Mengenakan Hijab Saat Belum Memeluk Islam

N Zaid - Mualaf 24/02/2026
Kisah Mualaf Mariana Tavares. Foto: YouTube TRTWorld
Kisah Mualaf Mariana Tavares. Foto: YouTube TRTWorld

Oase.id - Perjalanan hidayah setiap orang berbeda-beda. Bagi Mariana Tavares, jalan menuju Islam bermula dari luka masa kecil, pencarian panjang tentang Tuhan, hingga mimpi mengenakan hijab saat dirinya belum memeluk Islam.

Kesaksian tersebut ia sampaikan dalam dokumenter YouTube Awakening Sisters produksi TRT World.

Masa Kecil Penuh Luka dan Kehilangan Iman

Mariana berasal dari Portugal. Ia tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis. Sosok di rumahnya kerap melakukan kekerasan, termasuk terhadap ibunya yang tunanetra.

Saat menginjak usia remaja, Mariana mengaku menjadi pribadi yang memberontak di sekolah. Polisi akhirnya membawanya ke panti asuhan, tempat ia tinggal hingga usia 18 tahun.

“Panti asuhan itu sangat berat. Saya merasa ayah tidak menginginkan saya, ibu tidak menginginkan saya. Saya bertanya-tanya, apa tujuan hidup saya?” tuturnya.

Rasa kesepian dan trauma membuatnya mulai meragukan keberadaan Tuhan. “Saya berpikir, kalau Tuhan itu nyata, mengapa ini terjadi? Mengapa kami harus bersembunyi selama 10 tahun?” katanya.

Setelah keluar dari panti asuhan, ia menyimpulkan bahwa Tuhan tidak ada.

Dari Ateis ke Pengkhotbah Kristen

Beberapa tahun kemudian, sebuah pikiran tiba-tiba muncul di benaknya. Ia merasa jika tetap tidak percaya kepada Tuhan dan ternyata Tuhan itu ada, maka ia akan menyesal.

Ia pun mencoba berdoa dengan cara yang ia ketahui sebagai seorang Kristen. “Saya berlutut di kamar. Saat itu saya menangis dan merasakan kedamaian serta seperti ada pengampunan di hati saya,” ujarnya.

Mariana kemudian aktif di gereja kecil dekat rumahnya. Ia belajar Alkitab, mengikuti kelas-kelas penginjilan, bahkan berdakwah ke berbagai negara dengan mayoritas Muslim.

“Saya kira saya sudah mengkhotbahi setidaknya 15.000 anak di Afrika untuk masuk Kristen,” katanya. Kini, ia mengaku sangat menyesal atas hal tersebut.

“Saya berharap suatu hari bisa kembali dan mengatakan kepada mereka bahwa saya menjadi Muslim. Saya merasa telah menyesatkan mereka,” ucapnya. Ia menegaskan keyakinannya saat ini, “Yesus bukan Tuhan. Hanya ada satu Tuhan.”

Debat dengan Muslim dan Mimpi Jadi Muslimah

Perubahan besar terjadi ketika ia bertemu sekelompok Muslim saat berdakwah. Ia terkejut mengetahui bahwa Muslim juga beriman kepada Nabi Isa.

Ia mulai mempelajari Islam, meski awalnya dengan niat mencari kesalahan. “Saya memandang Islam dari sudut pandang Islamofobia. Saya pikir itu dari antikristus, dari setan,” katanya.

Namun perlahan, hatinya berubah. Ia mulai mengalami mimpi-mimpi yang mengguncang batinnya.

“Saya bermimpi menjadi seorang Muslimah. Saya memakai hijab. Saya juga bermimpi tentang Nabi Muhammad ﷺ. Saat bangun, saya merasa seperti seorang Muslim,” tuturnya.

Dari Islamofobia Menjadi Pro-Palestina

Pandangan Mariana terhadap Palestina juga berubah drastis. Awalnya ia mengira warga Palestina hanya berpura-pura menjadi korban. Namun sebuah peristiwa di rumah sakit mengubah hatinya. Ia melihat seorang anak kecil yang gemetar dan menangis ketakutan saat ditanya dokter.

“Saya sadar anak ini tidak mungkin berpura-pura. Dari matanya terlihat trauma yang dalam,” katanya.

Sejak itu, sebelum resmi masuk Islam, ia lebih dulu menjadi pendukung Palestina. Ia menyimpulkan bahwa konflik yang ia pahami selama ini berbeda dari narasi Alkitab yang ia pelajari.

Ia akhirnya memeluk Islam setelah peristiwa 7 Oktober dan bahkan mengunjungi Palestina. Di sana, ia menyaksikan langsung keteguhan iman warga Palestina meski hidup dalam keterbatasan.

“Mereka tidak punya masjid lagi, tidak punya rumah lagi, mungkin bahkan tidak bisa mendengar azan. Tapi mereka tetap salat,” ujarnya. “Semua yang saya percaya tentang Islam ternyata salah. Mereka bukan teroris. Mereka adalah korban.”

Memahami Konsep Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Dalam dokumenter tersebut, Mariana juga berdialog tentang konsep amar ma’ruf nahi mungkar dalam Islam.

Ia mendapat penjelasan bahwa hidup diibaratkan seperti berada dalam satu perahu. Jika satu orang merusaknya demi mengikuti hawa nafsu, seluruh penumpang akan tenggelam. Karena itu, umat Islam diperintahkan untuk mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran demi keselamatan bersama.

Sebagai simbol sambutan, ia kemudian menerima hadiah Al-Qur’an, yang disebut sebagai “pesan dari Sang Pencipta untuk seluruh umat manusia”.

Kisah Mariana Tavares menjadi bukti bahwa hidayah bisa datang dengan cara yang tak terduga—bahkan melalui mimpi mengenakan hijab, saat hati masih jauh dari Islam.

 


(ACF)
TAGs: Mualaf