Sha'sha'ah, Sang Penyelamat Bayi Masa Jahiliyah

Sobih AW Adnan - Sahabat Nabi Muhammad 20/02/2020
Photo by RitaE from Pixabay
Photo by RitaE from Pixabay

Oase.id- Bangsa Arab memasuki zaman kegelapan. Keseharian mereka hanya disibukkan dengan penyembahan terhadap berhala, juga berbuat kezaliman.

Atas kondisi inilah, masyarakat setempat lazim disebut bangsa jahiliyah. Tradisi yang diberlakukan sebelum Islam datang, sebagian besar hanya berkiblat pada hawa nafsu untuk saling unjuk kekuatan.

Di masa kekosongan dua risalah, yakni selepas dakwah Nabi Isa As menuju kedatangan Rasulullah Muhammad Saw tersebut, salah satu kebiasaan buruk yang kerap dilakukan beberapa kabilah Arab adalah menggugurkan dan juga membunuh bayi-bayi mereka yang diketahui berjenis kelamin perempuan.

Tradisi yang memprihatinkan itu juga direkam dalam Alquran dalam surat At-Takwir ayat 9;

"Karena dosa apa dia dibunuh dengan kejam."

Setidaknya, ada 3 alasan bagi sebagian masyarakat jahiliyah merawat tradisi barbar tersebut. Pertama, para orang tua khawatir terjatuh dalam lembah kemiskinan dengan menanggung biaya hidup anak-anak perempuan mereka. Apalagi, menurut mereka, anak perempuan tidak produktif.

Mereka menyebut kaum perempuan hanya bisa, "Nashruha buka' wa birruha sariqah. Pembelaannya hanya tangis, pengabdiannya hanya mencuri."

Dalih kedua, anak-anak dikhawatirkan jatuh dalam lembah kemiskinan jika mereka hidup sampai dewasa. 

Ketiga, takut menanggung aib ketika terjadi perang dan perempuan lazim menjadi tawanan. Atau mereka terlampau takut dengan kasus pemerkosaan yang kian merajalela, atau pun finah perzinahan dan perselingkuhan yang kerap mengguncang rumah tangga.

Masyarakat jahiliyah sama sekali tak sadar, bahwa Allah Swt akan menjamin rezeki bagi tiap-tiap makhluknya di bumi. Bab ekonomi melulu menjadi alasan utama. Sementara aib perzinahan, tawanan perang, dan perselingkuhan hanyalah sebuat tradisi yang bisa dilawan secara kolektif dan bersama-sama.

Baca: Marak Praktik Klinik Aborsi Ilegal, Ini 5 Fakta di Dalamnya

 

Mereka lebih memilih membunuh anak-anak perempuan mereka cuma karena malu dan rasa khawatir berlebihan. Ekspresi mereka ini diabadikan dalam QS. An-Nahl: 58;

"Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah."

 

Pengorbanan Sha'sha'ah

Lagi-lagi, tidak semua kabilah Arab menyepakati kebiasaan sesat tersebut. Hingga kemudian, muncullah sosok bernama Sha'sha'ah bin Najiyah Al-Tamim. Pria yang kelak memiliki cucu seorang penyair terkenal, Al-Farazdaq tersebut, tak segan-segan berkeliling untuk menebusi setiap bayi yang hendak diekskusi seharga dua ekor unta yang tengah hamil 10 bulan.

Angka itu, tentu terbilang sangat mahal di masanya. 

Untungnya, Sha'sha'ah merupakan pemimpin kabilah Bani Tamim. Sebagian besar harta yang dimilikinya dialokasikan untuk pembebasan bayi-bayi yang nyaris dibunuh orang tuanya. Hingga memasuki masa risalah Nabi Muhammad Saw, Sha'sha'ah berkata;

"Sampai saat Islam datang, aku telah menebus 300 bayi perempuan yang dikuburkan hidup-hidup."

 

Riwayat lain bahkan menyebutkan, Sha'sha'ah berhasil membebaskan 400 sampai 600 bayi selama hidupnya.

 

Masuk Islam

Pengangkatan Nabi Muhammad Saw sebagai Rasul menjadi kabar yang menggembirakan sekaligus mencemaskan bagi Sha'sha'ah.

Membahagiakan, lantaran ia yakin betul bahwa ajaran yang disampaikan putra Abdullah itu akan selaras dengan prinsipnya yang menentang segenap kezaliman.

Mencemaskan, karena secara keyakinan, Sha'sha'ah merasa belum benar-benar menemui kemantapan.

Hingga di sekali waktu, Sha'sha'ah mendatangi Nabi Muhammad dan memintanya melafalkan barang satu ayat.

Mendengar permintaan Sha'sha'ah, Rasulullah menghadiahinya 2 ayat, yakni QS. Al-Zalzalah: 7-8;

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya (7). Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula (8)."

Mendengar ayat yang disampaikan Rasul, Sha'sha'ah terdiam. Sebelum kemudian dia menarik napas lantas bilang;

"Cukuplah ayat ini bagiku sebagai peringatan dan aku tak peduli, sekalipun aku tidak mendengarkan yang lainnya."

Rupanya, ayat ini menusuk batin Sha'sha'ah dengan begitu dalam. Sehingga ia berpendapat, tak perlu menunggu peringatan lain agar ia menjadi bagian dalam golongan beriman. Di hari itulah, kemudian tersiar kabar bahwa Sha'sha'ah telah masuk Islam.

 

Sumber: Disarikan dari keterangan dalam Al-Tahrir Wa Al-Tanwir karya Muhammad Al-Tahir bin Asyur, Ar Rasul Shallallahu Alaihi Wassalam karya Syeikh Said Hawa bin Muhammad Dib Hawwa, serta Tafsir Al Misbah karya Prof. M. Quraish Shihab.


(SBH)