Mualafnya Mahasiswa Georgia Tech: Berawal dari Penasaran dan Membaca Islam for Dummies

N Zaid - Mualaf 31/01/2026
Mualafnya Mahasiswa Georgia Tech: Berawal dari Penasaran dan Membaca Islam for Dummies. Foto: Pixabay
Mualafnya Mahasiswa Georgia Tech: Berawal dari Penasaran dan Membaca Islam for Dummies. Foto: Pixabay

Oase.id - Bob Palmer tidak pernah membayangkan hidupnya akan membawanya ke sebuah masjid, berdiri di hadapan jamaah, dan berbagi kisah tentang Islam. Pemuda asal Amerika Serikat ini adalah mahasiswa teknik berusia 23 tahun dari Georgia Tech, yang tumbuh dalam keluarga Kristen namun tidak religius. Sejak kecil, ia percaya pada Tuhan, tetapi tidak pernah merasa benar-benar terikat dengan satu agama.

“Saya dibesarkan dalam keluarga yang percaya pada Tuhan, tapi tidak terlalu menjalankan agama. Saya ke gereja, ikut kegiatan pemuda, tapi lebih karena kebersamaannya, bukan karena aspek ibadahnya,” ungkap Bob.

Sejak remaja, Bob kerap merasakan kegelisahan batin. Gaya hidup remaja Amerika—pesta, minuman keras, dan kebiasaan bebas—tidak sepenuhnya cocok dengan nuraninya.

“Ada sesuatu yang terasa salah dengan pesta dan minum-minum. Bahkan saat saya ikut, hati saya tidak pernah benar-benar tenang.”

Meski demikian, hingga usia 17 tahun, Bob nyaris tidak tahu apa pun tentang Islam. Pengetahuannya bahkan keliru.

“Dulu saya pikir Nabi Muhammad itu adalah Yesus dalam Islam. Pemahaman saya benar-benar salah, tapi saya tidak pernah tertarik untuk bertanya.”

Titik balik hidupnya terjadi saat ia berteman dekat dengan seorang perempuan Muslim di masa SMA. Meski perempuan tersebut tidak terlalu menampakkan praktik keislamannya, ada sikap dan keputusan hidupnya yang membuat Bob penasaran.

“Ada hal-hal yang bagi saya normal sebagai remaja, tapi bagi dia terasa berat, seperti pergi ke pesta sekolah. Saya bisa melihat ada konflik batin di sana.”

Ketika hubungan pertemanan mereka mulai menjaga jarak, Bob mulai berpikir bahwa alasannya bukan soal budaya, melainkan keyakinan.

“Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya bertanya: apa itu Islam?”

Rasa ingin tahu itu mendorong Bob membeli terjemahan Al-Qur’an, membaca buku pengantar Islam, dan mencari informasi sendiri.

“Saya pergi ke toko buku dan beli Al-Qur’an. Bahkan saya beli buku ‘Islam for Dummies’. Dari situ, dunia yang sama sekali tidak saya duga mulai terbuka.”

Ia mulai memahami prinsip-prinsip dasar Islam. Bukan ritualnya yang pertama kali menarik perhatiannya, melainkan ajaran tauhid dan nilai moralnya.

“Saya membaca dan terus berpikir, ‘Ini saya. Ini yang selama ini saya yakini.’ Keyakinan bahwa Tuhan itu Esa, bahwa Yesus adalah nabi—semua itu sudah ada dalam hati saya sejak lama.”

Bob menyadari bahwa keimanannya kepada Tuhan telah ada sejak kecil. Bahkan sebuah kenangan masa prasekolah menguatkan perasaan itu.

“Saya menemukan buku kenangan TK, ada catatan percakapan saya dengan teman-teman tentang Tuhan. Dari kecil, saya memang percaya pada Tuhan.”

Keinginannya untuk belajar lebih jauh membuat Bob memberanikan diri mendatangi sebuah masjid. Dari sana, ia berdialog, bertanya, dan mulai mempraktikkan ajaran Islam secara perlahan.

“Saya berhenti makan daging babi, mulai memperhatikan kebiasaan saya, dan setelah beberapa bulan, saya tahu—ini waktunya.”

Bob akhirnya mengucapkan syahadat pada 2008, tak lama setelah Ramadan.

“Rasanya seperti keluar dari kehidupan yang tidak nyata, seperti acara TV. Saya melihat teman-teman lama masih menjalani hidup itu, tapi saya tahu itu bukan jalan saya lagi.”

Perubahan hidup tentu tidak datang tanpa tantangan. Namun Bob merasa bersyukur karena mendapat dukungan penuh dari keluarganya.

“Saat saya bilang ke orang tua saya bahwa saya masuk Islam, mereka cuma bilang, ‘Oke, bagus.’ Bahkan ibu saya sekarang selalu mengingatkan soal makanan halal.”

Lingkungan pertemanannya pun menyesuaikan.

“Kalau kita tidak malu menjadi Muslim, teman-teman justru menghormati. Saya pernah salat di rumah teman, dan mereka langsung minta semua orang diam.”

Salah satu proses yang sempat membingungkannya adalah membedakan antara budaya dan ajaran Islam.

“Saya melihat berbagai pakaian, dari berbagai negara. Awalnya saya bingung, mana Islam, mana budaya. Tapi saya belajar bahwa Islam itu fleksibel—yang penting nilainya.”

Di akhir kisahnya, Bob menegaskan bahwa yang membawanya pada Islam bukanlah debat atau pamflet dakwah, melainkan satu contoh nyata dari seorang Muslim.

“Apa yang membawa saya ke Islam adalah melihat seorang Muslim membuat satu keputusan hidup yang benar.”

Baginya, akhlak dan perbuatan adalah dakwah paling kuat.

“Orang tidak akan mengenal Islam kalau mereka tidak melihatnya. Saya butuh melihat Islam dalam tindakan.”

Kini, Bob Palmer menjalani hidupnya sebagai seorang Muslim dengan keyakinan penuh. Ia percaya, banyak orang di luar sana berada di posisi yang dulu ia alami—percaya pada Tuhan, tapi belum menemukan jalan.

“Kadang, orang tidak butuh petunjuk arah. Mereka butuh melihat seseorang berjalan di jalan itu.”

 


(ACF)
TAGs: Mualaf