Keutamaan Ilmu dan Ulama dalam Islam

Siti Mahmudah - Hukum Islam Tokoh dan Ulama 26/09/2021
Al Quran (Gambar oleh Afshad Subair dari Pixabay)
Al Quran (Gambar oleh Afshad Subair dari Pixabay)

Oase.id - Islam menempatkan ilmu dan ulama sebagai kedudukan mulia. Sebagaimana Syekh Nawawi al-Bantani dalam Tanqih al-Qaul al-Hatsits fi Syarhi Lubab al-Hadits mengutip ayat Al Quran. 

Allah SWT berfirman: 

“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.” (QS at-Taubah: 122). 

Ayat ini membimbing umat Islam untuk membagi tugas dengan menegaskan bahwa tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin pergi semua ke medan perang, akan tetapi sebagian umat Islam lainnya juga dianjurkan untuk memperdalam pengetahuan tentang agama.  

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (SAW) bersabda, 
“Kelebihan orang berilmu atas orang beribadah seperti kelebihan rembulan di malam purnama atas bintang-bintang yang lain.” (HR. Abu Naumi dari Muadz bin Jabal). 

Allah Swt juga berfirman:

شهد الله انّه لااله الّاهو والملئكة واولو العلم. ال عمران

Artinya: “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan melainkan Dia, yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).”

Ayat tersebut menjelaskan bagaimana Allah SWT memulai dengan diri-Nya, yang kedua dengan para malaikat, dan ketiganya dengan para ahli ilmu. Hal tersebut karena suatu kemuliaan dan keutamaan. 

Nabi ﷺ bersabda kepada Abdullah bin mas’ud Radiyallahu anhu (RA):

يا ابن مسعود, جلوسك ساعة فى مجلس العلم لاتمسّ قلما ولاتكتب حرف خيرلك من عتق الف رقبة ونظرك الى وجه العلم خيرلك منالف فرش تصدّقت بها فى سبيل الله , وسلامك على العلم خيرلك من عبدة الف سنت

Artinya: “Hai Ibnu Mas’ud, dudukmu satu jam di majlis ilmu engkau tidak menyentuh pena dan tidak menulis satu huruf saja, adalah lebih baik bagimu daripada memerdekakakan serbu budak. Dan memandangmu pada muka orang alim, adalah lebih baik bagimu daripada bersedekah seribu kuda di jalan Allah, dan salamu kepada orang alim adalah lebih baik dari pada beribadah seribu tahun.”

Artinya, bahwa menuntut ilmu di majelis pengajian satu jam di waktu malam atau siang tanpa membawa pulpen dan tidak mencatat apa yang diajarkan adalah lebih baik pahalanya dari pada memerdekakan seribu budak atau hamba sahaya. 

Selanjutnya, memandang wajah orang alim karena rasa cinta lebih baik dari pada menyedekahkan seribu kuda di jalan Allah untuk berjihad melawan orang-orang kafir dalam menegakkan agama Allah Swt. Serta mengucapkan salam untuk orang alim lebih baik dari pada beribadah seribu tahun. 

Selaras, apa yang di sebutkan oleh Al Hafidh Al Mundziri dalam Durratul Yatimah dan dari sahabat Umar bin Khattab Radiyallahu anhu (RA) berkata, Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

من مشى الى حلقة عالم كان له بكلّ خطوة مائة حسنة, فاذا جلس عنده واستمع ما يقول كان له بكلّ كلمة حسنة 

Artinya: “Siapa yang berjalan (pergi) ke sarasehan (majlis pengajian) orang alim, ia memperoleh pahala setiap satu langkah seratus kebaikan, apabila ia duduk di sisinya dan mendengarkan apa yang diajarkan, maka baginya berpahala dari setiap kalimat satu kebaikan.”

Senada yang disampaikan Imam An Nawawi dalam Riyadhus shalihin, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

فقيه واحد متورّع اشدّ على الشيطان من الف عابد مجتهد جاهل ورع

Artinya: “Seserang alim fiqih yang perwirah adalah lebih berat bagi setan dari pada seribu orang ahli ibadah yang tekun yang bodoh lagi perwira.”

Maksudnya bahwa seseorang yang alim dengan ilmu syari’ah yang wira’i dan dibebani meninggalkan segala yang diharamkan adalah lebih berat bagi setan untuk menggodanya dari pada seribu orang yang ahli ibadah tetapi bodoh dan wira’i. 

Hal tersebut dikemukakan Al Azizi mengutip dari At-Thibi dan dalam riwayat Turmudzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas: “seseorang faqih lebih berat bagi syetan dari pada seribu orang ahli ibadah”.

Selanjutnya, Nabi ﷺ bersabda:

فضل العالم على العابد كفضل القمر ليلة البدر على سائر الكواكب

Artinya: “Keutamaan seorang alim atas ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan di malam purnama atas seluruh bintang-bintang.”

Maksudnya, seorang alim di atas adalah orang alim yang mengamalkan ilmunya lebih utama dari pada ahli ibadah yang bodoh bagaikan keutamaan bulan di malam purnama atas bintang-bintang. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Mu’adz bin Jabal Radiyallahu anhu (RA).

Riwayat lain juga menjelaskan dari Al Harits bin Abu Usamah dari Abu Sa’id Al Khudri Radiyallahu anhu (RA), Nabi ﷺ bersabda: 

فضل العالم على العابد كفضلى على امّتى

Artinya: “Keutamaan seorang alim atas ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas umatku.”

Maksudnya bahwa kemuliaan seorang alim dibandingkan kemuliaan seorang ahli ibadah, adalah seperti kemuliaan Nabi ﷺ atas kemuliaan orang yang berada dibawah Nabi yaitu para sahabat.

Begitu halnya, Nabi ﷺ bersabda:

من انتقل يتعلّم علما غفرله قبل ان يخطو

Artinya: “Siapa berpindah (pergi) menuntut ilmu maka dosanya diampuni sebelum ia melangkah.”

Maknanya, orang yang berpindah atau pergi dari suatu tempat ke tempat yang lain untuk menuntut ilmu dari ilmu-ilmu syari’at, maka dosa-dosa kecil yang telah lalu diampuni sebelum ia melangkahkan kakinya dari tempat tinggalnya. Hadis tersebut diriwayatkan oleh As-Syairazi dari A’isyah Radiyallahu anha (RA).

Sumber: Disarikan dari keterangan Tanqihul Qaul karya Syekh Nawawi Al-Bantani


(ACF)