Ketika Setan Meminta Izin Menguji Nabi Ayyub as

N Zaid - Nabi Ayub 05/02/2026
Ilustrasi Kisah Nabi Ayub. Foto: AI Generated
Ilustrasi Kisah Nabi Ayub. Foto: AI Generated

Oase.id - Kisah Nabi Ayyub as. adalah salah satu narasi paling kuat tentang kesabaran dalam menghadapi ujian. Dalam sejumlah riwayat tafsir, diceritakan bagaimana setan meminta izin untuk mengguncang seluruh sendi kehidupan Ayyub—hartanya, keluarganya, bahkan tubuhnya—namun tidak pernah diizinkan menyentuh hatinya. 

Dari rentetan musibah yang datang tanpa jeda, muncul potret keteguhan iman yang tidak runtuh. Berikut kisahnya dikutip dari Buku Kesurupan Jin dan Cara Pengobatannya Secara Islami, yang ditulis Syaikh Wahid Abdus Salam Bali.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam tafsirnya dari Ibnu Abbas sebuah kisah dramatis tentang awal ujian Nabi Ayyub as. Dikisahkan, setan datang memohon izin kepada Allah untuk menggoda Ayyub.

Setan berdoa, “Wahai Tuhan, berikan kekuasaan kepadaku terhadap Ayyub.”

Allah memberi izin dengan batas yang tegas:

“Aku telah membuatmu berkuasa atas harta dan anaknya, tetapi Aku tidak membuatmu berkuasa atas jasadnya.”

Dengan izin itu, setan turun bersama seluruh tentaranya. Ia berdiri di hadapan mereka dan berkata, “Aku telah diberi kekuasaan atas Ayyub. Maka perlihatkan kepadaku kekuatan kalian.”

Para pengikutnya pun bergerak. Mereka membentuk api dan membentuk air, menyebar dari timur ke barat. Sebagian menuju ladang Ayyub, sebagian ke kawanan unta, sebagian ke sapi, dan sebagian lagi ke kambingnya. Targetnya jelas: melumpuhkan seluruh sumber penghidupan.

Setan berkata kepada mereka, “Sesungguhnya dia tidak terlindung dari kalian kecuali dengan kesabaran.” Maka musibah pun diturunkan bertubi-tubi.

Musibah Datang Tanpa Jeda

Satu per satu utusan datang membawa kabar kehancuran.

Pengelola tanaman berlari dan berkata, “Wahai Ayyub, tidakkah kamu tahu bahwa Tuhanmu telah mengirimkan api ke ladangmu hingga membakarnya?”

Belum selesai kabar itu, penggembala unta datang, “Wahai Ayyub, tidakkah kamu tahu bahwa Tuhanmu telah mengirim musuh kepada ontamu hingga membinasakannya?”

Lalu penggembala kambing menyusul dengan berita serupa,
“Wahai Ayyub, tidakkah kamu tahu bahwa Tuhanmu telah mengirim musuh kepada kambingmu hingga membinasakannya?”
Harta dan ternak—yang selama ini menjadi penopang kehidupan—lenyap dalam waktu singkat.

Tragedi Anak-Anak Ayyub

Ujian belum selesai. Seluruh anak Nabi Ayyub saat itu sedang berkumpul di rumah anaknya yang tertua. Mereka makan dan minum bersama. Tiba-tiba angin kencang datang menerjang, merobohkan tiang-tiang rumah. Bangunan runtuh dan menimpa mereka seluruhnya.

Setan lalu datang kepada Ayyub dengan menyamar sebagai seorang anak kecil yang memakai dua anting di telinganya. Ia berkata, “Wahai Ayyub, tidakkah kamu tahu bahwa Tuhanmu telah 
mengumpulkan semua anakmu di rumah anakmu yang paling besar. 

Ketika mereka sedang makan dan minum, tiba-tiba datang angin kencang merobohkan rumah hingga menimpa mereka. Andai kau lihat ketika darah mereka bercampur dengan makanan dan minuman mereka.”

Ayyub menatapnya lalu bertanya,
“Di manakah kamu berada waktu itu?”
Anak kecil itu menjawab, “Aku bersama mereka.”
Ayyub bertanya lagi, “Bagaimana kamu bisa lolos?”
Ia menjawab, “Saya bisa lolos.”

Saat itu Ayyub mengetahui hakikatnya. Ia berkata tegas, “Kamu setan.”

Alih-alih meratap, Ayyub justru berkata,
“Keadaanku hari ini seperti ketika dilahirkan oleh ibuku.”
Ia bangkit, mencukur rambutnya, lalu berdiri mengerjakan salat.

Setan Meminta Izin Kedua

Melihat keteguhan itu, Iblis menjerit keras hingga suaranya terdengar oleh penduduk langit dan bumi. Ia kembali memohon,
“Ya Tuhan, sesungguhnya dia telah terpelihara. Maka berikan aku kekuasaan atasnya. Aku tidak mampu menghadapinya kecuali dengan kekuasaan-Mu.”

Allah berfirman, “Aku telah beri kekuasaan kepadamu atas jasadnya, tetapi Aku tidak beri kekuasaan kepadamu atas hatinya.”

Setan pun turun kembali. Ia meniup kedua kaki Ayyub, menimbulkan luka yang menyebar dari kaki hingga kepala, hingga seluruh tubuhnya menjadi satu luka besar. Ayyub terbaring di atas abu, tubuhnya rusak parah sampai perutnya tampak.

Kesetiaan Sang Istri

Dalam keadaan sakit dan miskin, hanya istrinya yang setia merawatnya. Suatu hari ia berkata dengan pilu,
“Wahai Ayyub, tidakkah kamu tahu takdir Allah telah turun kepadamu berupa kepayahan dan kemiskinan. Aku bahkan telah menjual perhiasanku untuk membeli roti makananmu. Maka berdoalah kepada Allah agar menyembuhkanmu.”

Ayyub menjawab, “Celaka kamu. Kita telah merasakan kesenangan selama tujuh puluh tahun. Maka bersabarlah hingga kita mengalami kesengsaraan tujuh puluh tahun juga.”

Disebutkan, masa cobaan berat itu berlangsung selama tujuh tahun.

Pujian di Tengah Kehilangan Total

Riwayat lain dari Ibnu Abi Hatim, melalui Yazid bin Maisarah, menggambarkan kedalaman spiritual Ayyub saat seluruh harta, keluarga, dan anaknya telah tiada.

Dalam keadaan tidak tersisa apa pun, Ayyub justru berdoa,
“Aku memuji-Mu, Rabbul arbab, yang telah berbuat baik kepadaku. Engkau berikan kepadaku harta dan anak hingga tidak ada relung hatiku kecuali telah dimasukinya. Kemudian Engkau ambil semuanya darinya dan Engkau kosongkan hatiku, hingga tidak ada sesuatu yang menghalangi antara aku dan Engkau. Seandainya musuhku Iblis tahu apa yang telah Engkau perbuat, niscaya ia akan iri terhadapku.”

Riwayat menyebut, Iblis sangat membenci ucapan itu.


(ACF)
TAGs: Nabi Ayub