Corum Siap Menyusul Gaziantep, Kota Kuliner Turki Ini Bidik Status Gastronomi UNESCO

N Zaid - Kuliner 15/01/2026
 Kota Kuliner Turki Ini Bidik Status Gastronomi UNESCO. Foto: Dailysabah
Kota Kuliner Turki Ini Bidik Status Gastronomi UNESCO. Foto: Dailysabah

Oase.id - Setelah nama Hatay, Gaziantep, dan Afyonkarahisar dikenal sebagai destinasi kuliner kelas dunia, kini giliran Corum, sebuah kota di kawasan Anatolia Tengah, Turki, yang bersiap mencuri perhatian pecinta wisata gastronomi.

Melalui “Proyek Gastro Corum”, Pemerintah Kota Corum resmi memulai langkah untuk bergabung dalam Jaringan Kota Kreatif UNESCO di bidang gastronomi. Proyek ini diperkenalkan dalam sebuah pertemuan di salah satu hotel di Corum, yang sekaligus menjadi ajang perayaan kekayaan rasa khas kota tersebut.

Dalam acara itu, para undangan diajak mencicipi hampir 30 hidangan tradisional Corum yang telah memiliki indikasi geografis. Beberapa di antaranya adalah Iskilip dolmasi, su boregi, olahan daun bawang Kislacik, semur quince Osmancik, keju Kargi Tulum, hingga roti khas era peradaban Hittite.

Wali Kota Corum, Halil Ibrahim Asgin, menegaskan bahwa kota yang dipimpinnya bukan hanya dikenal sebagai pusat industri dan pertanian, tetapi juga menyimpan warisan budaya yang kuat, termasuk dalam hal kuliner.

“Masakan Corum adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya kami,” ujar Asgin. Ia menjelaskan, di 17 fasilitas sosial milik pemerintah kota, hidangan unggulan khas Corum rutin disajikan. Sementara itu, lima pusat pelatihan kuliner aktif mengajarkan resep-resep tradisional kepada calon juru masak.

Menuju Kota Gastronomi UNESCO

Asgin menyebut Proyek Gastro Corum sebagai tonggak penting bagi masa depan kota. Menurutnya, inisiatif ini melengkapi berbagai upaya pembangunan di sektor pertanian, perdagangan, industri, sejarah, dan budaya.

“Corum ingin menjadi kota keempat di Turki yang diakui dalam Jaringan Kota Kreatif UNESCO, setelah Gaziantep, Hatay, dan Afyonkarahisar,” katanya. Ia mengakui, meski banyak pihak memuji kualitas kuliner Corum, pengakuan internasional resmi masih belum diraih.

Target pengajuan ke UNESCO dijadwalkan pada 2027, dengan menekankan pentingnya kolaborasi lintas lembaga dan pemantauan proses yang berkelanjutan.

Peneliti kuliner regional sekaligus konsultan proyek, Adnan Sahin, menilai kekuatan kuliner Corum terletak pada sejarahnya yang panjang. Kota ini telah dihuni selama lebih dari 8.000 tahun dan menjadi titik pertemuan berbagai peradaban besar.

“Tidak semua kota harus menjadi kota gastronomi,” kata Sahin. Namun, menurutnya, Corum memiliki keunikan dan kekuatan yang layak mendapat pengakuan dunia. “Jika ditanya kota mana yang paling siap, saya akan menjawab dengan yakin: Corum.”

Sementara itu, Yasemin Turkan Cerit Dogan memaparkan tahapan penyusunan berkas pengajuan UNESCO, dan konsultan budaya kuliner internasional Filiz Hosukoglu—yang telah terlibat dalam proyek gastronomi di lebih dari 20 negara—menyebut Corum sebagai kota dengan karakter kuliner yang istimewa.

Acara ini ditutup dengan sesi mencicipi Iskilip dolmasi, hidangan ikonik Corum yang menjadi simbol kekayaan rasa Anatolia. Sejumlah pejabat daerah, akademisi, dan pemangku kepentingan pariwisata turut hadir, menandai keseriusan Corum melangkah menuju panggung gastronomi dunia.

Menag menyoroti prinsip thaharah atau kesucian sebagai salah satu syarat sah salat. Prinsip tersebut, menurutnya, mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan dan kesucian tidak hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada lingkungan sekitar.

Selain itu, keteraturan waktu dan gerakan salat dinilai mengandung pesan kedisiplinan, moderasi, dan pengendalian diri. Nilai-nilai ini, kata Menag, sangat relevan dalam mengelola sumber daya alam agar tidak dieksploitasi secara berlebihan.

Lebih jauh, Menag menegaskan bahwa esensi Isra Mikraj menunjukkan Islam sebagai ajaran yang memiliki fondasi etika ekologis. Konsep tauhid mengajarkan kesatuan ciptaan, bahwa alam semesta merupakan bagian dari ayat-ayat kauniyah yang mencerminkan kebesaran Allah subhanahu wa ta'ala.

“Merusak lingkungan berarti mengabaikan tanda-tanda kekuasaan Allah. Sebaliknya, menjaga dan merawat alam adalah bagian dari manifestasi keimanan,” tegasnya.

Melalui peringatan Isra Mikraj 1447 H, Menag mengajak umat Islam menjadikan momentum ini sebagai refleksi untuk meneguhkan peran manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ia menilai krisis lingkungan saat ini menuntut kesalehan yang utuh, yakni kesalehan spiritual, sosial, dan ekologis sekaligus.

“Kesalehan sejati bukan hanya yang menghubungkan kita kepada Allah, tetapi juga yang menjaga bumi tempat kita berpijak,” pungkasnya.


(ACF)
TAGs: Kuliner