Ramadan di Tengah Gejolak Dunia: Menguatkan Iman Saat Ujian Datang

N Zaid - Ramadan 02/03/2026
Ramadan di Tengah Gejolak Dunia: Menguatkan Iman Saat Ujian Datan. Foto: Pixabay
Ramadan di Tengah Gejolak Dunia: Menguatkan Iman Saat Ujian Datan. Foto: Pixabay

Oase.id - Bulan suci Ramadan kembali hadir sebagai momentum puasa, muhasabah, dan pembaruan iman bagi umat Islam di seluruh dunia. Namun tahun ini, suasana Ramadan dibayangi ketegangan geopolitik menyusul pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sejak 28 Februari 2026.

Sejumlah laporan menyebutkan lebih dari seribu target telah diserang, termasuk infrastruktur sipil seperti sekolah dan rumah sakit. Iran pun membalas dengan menargetkan pangkalan serta aset militer Amerika Serikat dan Israel di berbagai wilayah Timur Tengah. Situasi ini meningkatkan eskalasi konflik dan memicu kekhawatiran global.

Di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian ini, umat Islam diingatkan untuk kembali kepada tuntunan Rasulullah ﷺ. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya; pendusta dianggap jujur dan orang jujur dianggap pendusta; pengkhianat dipercaya dan orang amanah dianggap berkhianat; dan Ruwaibidah berbicara (mengatur urusan).”

Para sahabat bertanya, “Siapakah Ruwaibidah itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang hina yang mengatur urusan masyarakat.” (HR. Sunan Ibn Majah no. 4036)

Hadis ini menjadi pengingat bahwa di masa penuh fitnah dan simpang siur informasi, seorang mukmin tidak boleh larut dalam emosi atau propaganda. Ramadan mengajarkan kita untuk menenangkan hati dan menguatkan hubungan dengan Allah subhanahu wa ta'ala.

Al-Qur’an memberi pedoman yang jelas dalam menghadapi situasi sulit:

“Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung.” (QS. Al-Qur'an 3:173)

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Qur'an 2:153)

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”
(QS. Al-Qur'an 65:3)

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa dalam setiap ketakutan dan ketidakpastian, umat Islam diperintahkan untuk bersabar, memperbanyak doa, dan bertawakal.

Di tengah kabar korban jiwa dan kehancuran akibat perang, kompas moral Islam tetap tegas: menjaga kesucian nyawa manusia, menegakkan keadilan, serta menjunjung tinggi martabat kemanusiaan. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan amarah, menjaga lisan, dan memperkuat empati.

Saat keluarga berkumpul untuk berbuka puasa, doa-doa pun dipanjatkan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bagi para korban konflik, warga sipil tak berdosa, dan para pemimpin agar diberi kebijaksanaan. Kerinduan akan perdamaian dan keadilan adalah bagian dari fitrah kemanusiaan.

Dalam pandangan Islam, kemenangan sejati bukanlah dominasi atau kehancuran pihak lain, melainkan tegaknya rahmat, keadilan, dan keberanian untuk memperjuangkan perdamaian. Ramadan mengajarkan bahwa di tengah gelapnya ujian, cahaya iman harus tetap menyala.(islamweb)


(ACF)
TAGs: Ramadan