Tradisi Ramadan di Uzbekistan: Nishalda, Patir, dan Pilav yang Menghangatkan Meja Berbuka
Oase.id - Ramadan di Uzbekistan bukan hanya tentang ibadah dan menahan lapar, tetapi juga tentang tradisi kuliner yang khas dan sarat makna. Di negeri Asia Tengah ini, masyarakat menyambut waktu berbuka—yang mereka sebut “agiz acar”—dengan hidangan istimewa yang hanya muncul atau semakin populer saat bulan suci tiba.
Di antara sajian yang tak pernah absen dari meja iftar adalah nishalda, patir (roti khas Uzbekistan), dan pilav khas Uzbek yang melegenda.
Pilav, Warisan Rasa dari Bukhara
Pilav atau nasi khas Uzbekistan menempati posisi istimewa dalam budaya kuliner setempat. Hidangan ini bahkan diyakini telah dikenal sejak masa ilmuwan besar Muslim, Ibnu Sina, yang lahir di kota bersejarah Bukhara.
Dalam tradisi Uzbekistan, pilav bukan sekadar makanan, tetapi simbol penghormatan kepada tamu. Beras dimasak bersama daging, wortel, dan bawang dengan bumbu khas hingga menghasilkan cita rasa gurih dan harum. Setiap daerah memiliki variasinya sendiri, bahkan disebutkan ada lebih dari seratus jenis pilav berbeda tergantung bahan dan cara memasaknya.
Tak hanya saat Ramadan, pilav juga selalu hadir dalam acara penting seperti pernikahan dan perayaan besar. Masyarakat Uzbek hampir tak pernah membiarkan tamu pulang tanpa mencicipi hidangan ini.
Nishalda, Manisnya Ramadan yang Dinanti
Berbeda dengan pilav yang bisa ditemukan sepanjang tahun, nishalda justru menjadi simbol khas Ramadan di Uzbekistan. Hidangan penutup ini hanya dibuat selama bulan suci dan sangat dinanti masyarakat.
Nishalda dipercaya membantu pencernaan setelah berbuka puasa. Bahan utamanya berasal dari putih telur, gula, dan akar tanaman liar dari keluarga cengkih yang dikenal dengan nama “yetmek”. Akar tanaman tersebut dikeringkan dan direbus lama hingga menghasilkan sari yang kemudian dicampur dengan putih telur serta sirup gula.
Menariknya, proses pengumpulan bahan nishalda sudah dimulai jauh sebelum Ramadan. Para pembuatnya naik ke pegunungan untuk mengumpulkan akar tanaman tersebut. Tradisi ini diwariskan turun-temurun, di mana para pria biasanya bertugas membuat nishalda, sementara para perempuan menjualnya di pasar.
Selama Ramadan, pasar-pasar di kota-kota Uzbekistan membuka lapak khusus untuk menjual nishalda. Setiap desa biasanya memiliki beberapa pembuat nishalda, dan meski resep dasarnya sama, warna serta teksturnya bisa berbeda-beda.
Patir dan Roti Samarkand, Cita Rasa yang Melegenda
Selain hidangan utama dan pencuci mulut, roti menjadi bagian penting dalam sahur dan berbuka masyarakat Uzbekistan. Salah satu yang paling populer adalah patir, roti bundar yang dipanggang di dalam oven tanah liat tradisional (tandoor) dengan campuran susu dan mentega.
Di antara berbagai jenis roti, roti Samarkand memiliki tempat tersendiri. Kota bersejarah Samarkand dikenal dengan roti yang tahan lama dan bercita rasa khas. Bahkan terdapat kisah menarik tentang pendiri Kekaisaran Mughal, Babur.
Dikisahkan, setelah meninggalkan tanah kelahirannya di Andijan dan menetap di India, Babur sangat merindukan roti Samarkand. Ia pun memanggil para pembuat roti dari kampung halamannya. Namun ketika mencicipinya di India, rasanya tetap berbeda. Sang pembuat roti menjelaskan bahwa semua bahan telah dibawa dari Samarkand, tetapi udara dan air kota itu tak mungkin dipindahkan.
Kisah tersebut memperlihatkan betapa roti bukan hanya soal rasa, melainkan juga identitas dan kenangan.
Ramadan yang Sarat Tradisi
Di kota-kota besar seperti Tashkent, suasana Ramadan terasa hangat dengan kehadiran hidangan-hidangan khas tersebut. Meja iftar bukan hanya tempat menyantap makanan, tetapi juga ruang berkumpul keluarga dan mempererat silaturahmi.
Tradisi nishalda, patir, dan pilav menunjukkan bahwa Ramadan di Uzbekistan dijalani dengan penuh kekayaan budaya dan rasa syukur. Dari hidangan utama hingga pencuci mulut, semuanya menjadi bagian dari perjalanan spiritual dan kebersamaan umat Muslim di negeri Asia Tengah itu.(gzt)
(ACF)