Ramadan Ubah Ritme Kerja di Arab Saudi, Jam Kantor Dipangkas tapi Target Tetap

N Zaid - Ramadan 27/02/2026
Ramadan Ubah Ritme Kerja di Arab Saudi, Jam Kantor Dipangkas tapi Target Tetap. Foto: Arabnews
Ramadan Ubah Ritme Kerja di Arab Saudi, Jam Kantor Dipangkas tapi Target Tetap. Foto: Arabnews

Oase.id - Setiap Ramadan, suasana kantor di Arab Saudi ikut berubah. Jam kerja dipersingkat untuk menghormati ibadah puasa, pola tidur bergeser, dan ritme aktivitas harian menyesuaikan waktu salat serta berbuka. Namun di balik penyesuaian itu, dunia kerja tetap berjalan dengan tuntutan target, rapat, dan tenggat waktu yang tidak ikut berkurang. Bagaimana para profesional menyiasati perubahan ini?

Bulan Ramadan membawa perubahan besar dalam ritme kerja para profesional di Arab Saudi. Jam kerja resmi memang dipangkas, namun tuntutan kinerja dan target perusahaan tetap berjalan seperti biasa. Sesuai regulasi ketenagakerjaan di Arab Saudi, jam kerja karyawan selama Ramadan dikurangi menjadi maksimal enam jam per hari atau 36 jam per pekan.

Dalam praktiknya, banyak kantor mulai beroperasi sekitar pukul 09.00 atau 10.00 pagi dan selesai pada pertengahan sore. Kebijakan ini dimaksudkan untuk meringankan beban pekerja yang berpuasa, meski tenggat waktu dan target bisnis tidak ikut berkurang.

“Saya mengatur seluruh hari untuk menghemat energi,” kata Lina Al-Faraj, manajer pemasaran di Riyadh. Ia mengaku menempatkan pekerjaan berat di awal jam kerja dan menyisakan tugas administratif yang lebih ringan menjelang sore.

Ritme Kerja Berubah, Target Tetap

Di banyak kantor, rapat dipindahkan ke paruh pertama hari saat energi masih penuh. Keputusan penting diambil lebih awal, sementara tugas-tugas diringkas dalam waktu yang lebih padat.

Namun, permintaan klien dan target proyek tidak berhenti karena Ramadan. Khaled Al-Tamimi, supervisor operasional di Provinsi Timur, mengatakan ia merasa kurang produktif pada sore hari, tetapi justru lebih fokus pada malam hari.

“Ramadan mengajarkan saya bekerja lebih cerdas, bukan lebih lama. Kita harus lebih pintar menentukan prioritas,” ujarnya.

Pola Tidur dan Ibadah Ikut Menyesuaikan

Perubahan jam kerja juga memengaruhi pola tidur. Banyak profesional membagi waktu istirahat menjadi dua sesi, tidur setelah salat tarawih dan kembali beristirahat sebelum sahur. Sebagian lainnya memanfaatkan waktu siang untuk tidur singkat jika memungkinkan.

Perusahaan pun memiliki pendekatan berbeda. Ada yang memberi fleksibilitas tambahan seperti jam masuk bergilir atau kerja jarak jauh terbatas. Namun, ada pula yang tetap mempertahankan ekspektasi standar meski jam kerja dipersingkat.

Di sektor layanan seperti kafe dan restoran, tekanan justru meningkat pada malam hari. Aisha Al-Mansour, barista di Jeddah, mengatakan kafenya ramai setelah tarawih.

“Ramadan tidak memperlambat pekerjaan kami, hanya menggeser waktu sibuknya,” katanya.

Fokus Lebih Tajam di Tengah Waktu Terbatas

Jam kerja yang lebih pendek membuat banyak karyawan bekerja lebih efisien. Rapat menjadi lebih singkat dan terarah, tugas yang tidak mendesak ditunda, serta komunikasi dibuat lebih ringkas.

Di sektor perhotelan, ritel, dan pemasaran, aktivitas bisnis bahkan cenderung meningkat menjelang malam. Beberapa pekerja kembali membuka laptop setelah tarawih untuk menyelesaikan kampanye atau laporan karena suasana lebih tenang.

Pemanfaatan teknologi digital turut membantu. Aplikasi pesan instan dan manajemen proyek mengurangi kebutuhan rapat tatap muka yang panjang. Konferensi video juga menghemat waktu perjalanan ke kantor.

Disiplin dan Adaptasi

Budaya kerja selama Ramadan juga berubah. Manajer lebih berhati-hati menjadwalkan rapat agar tidak berbenturan dengan waktu berbuka atau tarawih. Ruang salat di kantor pun lebih ramai dari biasanya.

Bagi banyak profesional, Ramadan bukan berarti produktivitas menurun. Justru sebaliknya, waktu yang terbatas mendorong perencanaan yang lebih matang dan disiplin yang lebih kuat.

“Setelah Idulfitri, saya tetap mempertahankan kebiasaan melindungi waktu pagi dan menghindari rapat yang tidak perlu,” kata Al-Tamimi.

Selama 30 hari, ritme kerja di Arab Saudi berjalan berbeda. Tenggat waktu tetap ada, ibadah semakin dalam, dan jadwal menyesuaikan. Ramadan bukan hanya mengubah jam kerja, tetapi juga cara orang memaknai waktu dan produktivitas. (arabnews)


(ACF)
TAGs: Ramadan