Pendiri Klub Muslimah Raih Penghargaan di Parlemen Inggris, Malah Dihujani Serangan Islamofobia

N Zaid - Diskriminasi Islam 30/07/2026
Khadija Patel. Foto: TII
Khadija Patel. Foto: TII

Oase.id - Seorang aktivis komunitas Muslim di Inggris, Khadija Patel, justru menjadi sasaran gelombang ujaran kebencian di media sosial setelah menerima penghargaan bergengsi di Palace of Westminster, London. Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasinya memberdayakan anak-anak dan remaja melalui olahraga serta program kesejahteraan.

Khadija, warga Bolton, dianugerahi British Citizen Award berkat kiprahnya mendirikan KRIMMZ Youth Club, organisasi yang menyediakan berbagai kegiatan olahraga, pembinaan mental, dan pengembangan diri bagi anak-anak.

Foto Penghargaan Viral, Berujung Gelombang Kebencian

Dikutip dari Theislamicinformation, perjalanan penghargaan Khadija berubah menjadi kontroversi setelah Lancashire Football Association (Lancashire FA) mengunggah foto dirinya menerima penghargaan bersama presenter televisi Matt Allwright.

Foto tersebut dengan cepat menjadi viral di media sosial. Namun, alih-alih menuai pujian, unggahan itu dibanjiri komentar bernada Islamofobia yang sebagian besar menyoroti cadar (niqab) yang dikenakan Khadija.

Aktivis sayap kanan Inggris, Tommy Robinson, ikut membagikan foto tersebut dan mempertanyakan bagaimana Khadija bisa menerima penghargaan atas kontribusinya dalam pemberdayaan perempuan muda.

"Mereka Hanya Melihat Pakaian Saya"

Menanggapi serangan tersebut, Khadija mengaku sedih karena banyak orang menilai dirinya dari penampilan, bukan dari pengabdiannya kepada masyarakat.

"Mereka melihat pakaian saya, bukan pekerjaan saya," ujar Khadija.

Ia menegaskan bahwa mengenakan niqab merupakan pilihan pribadi yang membuatnya merasa nyaman dan percaya diri, serta tidak mencerminkan seluruh identitas maupun kontribusinya kepada masyarakat.

Khadija mengaku pernah mengalami Islamofobia sebelumnya, tetapi kali ini serangan yang diterimanya jauh lebih besar.

"Ada begitu banyak komentar negatif. Saya memahami bahwa sebagian orang memiliki pandangan berbeda terhadap pakaian saya. Namun itu tidak menghentikan saya untuk terus melayani komunitas," katanya.

Ia bahkan mengundang para pengkritiknya untuk datang langsung ke KRIMMZ Youth Club agar melihat sendiri berbagai kegiatan yang dijalankan organisasinya.

Klub Perempuan Juga Dipersoalkan

Selain soal penampilannya, KRIMMZ Youth Club juga menuai kritik karena menyelenggarakan sejumlah sesi olahraga khusus perempuan.

Presenter GB News, Patrick Christys, menilai pemberian penghargaan kepada organisasi yang memisahkan peserta laki-laki dan perempuan dalam beberapa kegiatan olahraga merupakan bentuk normalisasi nilai-nilai Islam.

Namun Khadija menegaskan bahwa program tersebut bertujuan meningkatkan akses dan rasa aman bagi peserta, bukan untuk mendiskriminasi kelompok tertentu.

Menurutnya, banyak perempuan, termasuk yang bukan Muslim, memilih mengikuti sesi khusus perempuan karena merasa lebih nyaman dan aman saat berolahraga.

"Kami ingin menciptakan lingkungan yang membuat mereka merasa nyaman dan aman," jelasnya.

Tokoh Penghargaan Bela Khadija

Pelindung British Citizen Award, Lord Mott, mengecam keras gelombang ujaran kebencian yang diterima Khadija setelah memperoleh penghargaan tersebut.

Ia menyebut pengabdian Khadija dalam membuka kesempatan bagi perempuan muda melalui olahraga, sekaligus membangun rasa percaya diri, ketangguhan, dan kebersamaan, merupakan contoh nyata nilai-nilai yang ingin diapresiasi oleh British Citizen Award.

"Sangat mengecewakan melihat Khadija Patel menjadi sasaran pelecehan daring setelah diakui atas kontribusi luar biasanya kepada masyarakat," kata Lord Mott.

Sosok yang Sudah Berkali-kali Berprestasi

Ini bukan penghargaan pertama bagi Khadija Patel. Sebelumnya, ia juga pernah menerima BBC Sports Personality of the Year Unsung Hero Award untuk wilayah North West Inggris atas dedikasinya membina generasi muda melalui kegiatan olahraga dan sosial.

Kasus yang menimpa Khadija kembali memicu perdebatan di Inggris mengenai meningkatnya Islamofobia di media sosial, kebebasan beragama, serta pentingnya menghargai kontribusi seseorang berdasarkan karya dan pengabdiannya, bukan penampilan atau keyakinan yang dianut.


(ACF)