Apa Itu Memberi Udzur kepada Orang Lain? Contoh, Manfaat, dan Kaitannya dengan Anjuran Nabi untuk Menahan Amarah

N Zaid - Inspirasi Doa Ketika Marah 30/07/2026
Apa Itu Memberi Udzur kepada Orang Lain? Foto ilustrasi: Pixabay
Apa Itu Memberi Udzur kepada Orang Lain? Foto ilustrasi: Pixabay

Oase.id - Dalam kehidupan sehari-hari, hampir setiap orang pernah mengalami situasi yang memancing emosi. Seorang teman datang terlambat tanpa kabar, rekan kerja tidak membalas pesan, atau tetangga melakukan sesuatu yang membuat kita tersinggung. Tidak jarang, reaksi pertama yang muncul adalah marah, kecewa, bahkan berburuk sangka.

Padahal, Islam mengajarkan adab yang sangat indah dalam menghadapi keadaan seperti ini, yaitu memberi udzur kepada orang lain. Akhlak ini bukan hanya menjaga hubungan antarsesama, tetapi juga menjadi salah satu cara terbaik untuk menahan amarah sebagaimana dianjurkan Rasulullah ﷺ.

Apa Itu Memberi Udzur?

Secara bahasa, udzur berarti alasan atau sesuatu yang dapat menjadi penyebab seseorang dimaafkan. Dalam adab Islam, memberi udzur berarti berusaha mencari kemungkinan bahwa seseorang memiliki alasan yang dibenarkan sehingga kita tidak tergesa-gesa menyalahkan, mencela, atau menghukumnya.

Perlu dipahami bahwa memberi udzur bukan berarti membenarkan kesalahan atau menoleransi kemaksiatan. Sikap ini lebih kepada menahan diri dari prasangka buruk hingga kebenaran suatu perkara benar-benar jelas. Dengan kata lain, seorang Muslim diajarkan untuk tidak mudah menghakimi hanya berdasarkan dugaan.

Al-Qur'an Mengajarkan Menjauhi Prasangka

Sikap memberi udzur memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur'an. Allah Ta'ala berfirman,

"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa."

(QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa tidak semua dugaan yang muncul dalam hati adalah kebenaran. Bahkan, banyak prasangka justru mengantarkan seseorang kepada dosa karena menuduh orang lain tanpa bukti.

Karena itulah, sebelum menyimpulkan sesuatu, seorang Muslim dianjurkan untuk menahan diri dan membuka kemungkinan bahwa ada alasan yang belum diketahuinya.

Nabi ﷺ Mengajarkan Menahan Amarah

Kemampuan memberi udzur sangat erat kaitannya dengan kemampuan mengendalikan emosi.

Rasulullah ﷺ bersabda,

"Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah."

(HR. Bukhari No. 6114 dan Muslim No. 2609)

Dalam hadis lain, ada seorang sahabat yang meminta nasihat kepada Nabi ﷺ. Menariknya, Rasulullah tidak memberikan penjelasan panjang. Beliau hanya berkata, "Jangan marah." Ketika sahabat itu mengulang permintaannya beberapa kali, Nabi tetap memberikan jawaban yang sama.

"Jangan marah."

(HR. Bukhari No. 6116)

Pengulangan tersebut menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap pengendalian emosi. Banyak dosa, permusuhan, bahkan putusnya silaturahmi berawal dari amarah yang tidak terkendali.

Mengapa Memberi Udzur Bisa Meredakan Amarah?

Sering kali, penyebab utama kemarahan bukanlah tindakan orang lain, melainkan kesimpulan yang kita buat sendiri mengenai niat mereka.

Ketika seseorang terlambat, misalnya, kita mungkin langsung berpikir bahwa ia tidak menghargai waktu atau sengaja meremehkan kita. Saat pesan tidak segera dibalas, kita mudah menyimpulkan bahwa orang tersebut sengaja mengabaikan. Ketika seseorang lewat tanpa menyapa, kita mungkin menganggapnya sombong.

Padahal, kenyataannya bisa sangat berbeda. Orang itu mungkin terjebak kemacetan, telepon genggamnya kehabisan baterai, sedang menghadapi masalah keluarga, atau bahkan sedang sakit sehingga tidak menyadari kehadiran kita.

Dengan membiasakan diri mencari kemungkinan-kemungkinan seperti itu, hati akan lebih tenang. Amarah yang semula berkobar sering kali mereda karena kita menyadari bahwa belum tentu orang lain memiliki niat buruk.

Teladan Ulama Salaf

Para ulama salaf juga sangat menekankan pentingnya berbaik sangka kepada sesama Muslim.

Diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, beliau pernah mengingatkan agar seseorang tidak berburuk sangka terhadap ucapan saudaranya selama masih mungkin ditafsirkan dengan makna yang baik.

Di tengah masyarakat juga dikenal ungkapan, "Carilah untuk saudaramu tujuh puluh udzur." Ungkapan ini memang sangat populer, tetapi para ulama hadis menjelaskan bahwa ia bukan hadis Nabi ﷺ yang sahih. Kalimat tersebut lebih tepat dipahami sebagai nasihat hikmah dari sebagian ulama salaf agar seorang Muslim memperbanyak husnuzan kepada saudaranya.

Karena itu, landasan utama dalam masalah ini tetap kembali kepada Al-Qur'an dan hadis-hadis sahih yang melarang prasangka buruk serta menganjurkan pengendalian amarah.

Memberi Udzur Bukan Berarti Membiarkan Kezaliman

Perlu dipahami bahwa Islam tidak mengajarkan memberi udzur secara membabi buta.

Apabila seseorang terbukti melakukan kezaliman, penipuan, atau terus-menerus menyakiti orang lain, maka keadilan tetap harus ditegakkan. Memberi udzur bukan berarti menghapus tanggung jawab atas kesalahan yang nyata.

Yang diajarkan Islam adalah tidak terburu-buru memvonis sebelum fakta menjadi jelas. Setelah kebenaran diketahui, seorang Muslim tetap diperintahkan berlaku adil, menyampaikan nasihat dengan cara yang baik, dan menyelesaikan persoalan sesuai syariat.

Hikmah Besar dari Memberi Udzur

Ketika seseorang membiasakan diri memberi udzur kepada orang lain, perubahan pertama yang dirasakan biasanya terjadi pada dirinya sendiri. Hatinya menjadi lebih tenang karena tidak mudah dipenuhi prasangka. Ia juga lebih mampu mengendalikan emosi sehingga hubungan dengan keluarga, teman, dan masyarakat menjadi lebih harmonis.

Selain itu, kebiasaan ini membantu seseorang terhindar dari dosa su'uzan, melatih empati kepada sesama, dan mengingatkan bahwa setiap orang memiliki ujian hidup yang mungkin tidak tampak di mata orang lain. Dengan demikian, memberi udzur bukan hanya bentuk kasih sayang kepada sesama, tetapi juga cara menjaga kebersihan hati sendiri. 


(ACF)