Jabal Ikmah, Perpustakaan Terbuka AlUla yang Menghidupkan Jejak Peradaban Arab Kuno
Oase.id - Jabal Ikmah atau Gunung Ikmah menjadi salah satu situs arkeologi paling bersejarah di kawasan AlUla, Arab Saudi. Kawasan ini kini menghadirkan pengalaman baru bagi para pengunjung melalui rangkaian acara Winter at Tantora, yang berlangsung hingga 10 Januari.
Terletak tak jauh dari kota kuno Dadan, Jabal Ikmah menegaskan posisi AlUla sebagai pusat kebudayaan dan keagamaan penting di Jazirah Arab jauh sebelum munculnya peradaban Nabathiyah. Di tempat inilah jejak kehidupan masyarakat Arab kuno masih terpelihara dengan kuat, terutama melalui ratusan prasasti yang terpahat di dinding-dinding ngarai.
Situs ini kerap dijuluki sebagai “perpustakaan terbuka”, karena menyimpan ratusan tulisan kuno yang dibuat ribuan tahun lalu. Menariknya, pengunjung kini dapat merasakan pengalaman unik dengan mengukir nama mereka sendiri menggunakan aksara kuno, lalu membawa pulang batu ukiran tersebut sebagai kenang-kenangan sejarah.
Tulisan-tulisan kuno di Jabal Ikmah sebagian besar menggunakan bahasa Dadanitik dan Lihyanitik. Prasasti tersebut mencatat berbagai aspek kehidupan, mulai dari persembahan keagamaan, hukum, nama-nama penguasa, hingga aktivitas keseharian masyarakat. Semua ini memberikan gambaran berharga tentang sistem sosial, keyakinan, dan budaya kerajaan Arab awal.
Salah satu pemandu lokal generasi muda AlUla, Omer Mohammad, menjelaskan bahwa pengalaman bertajuk “Secrets of the Scribe — Ikmah After Dark” dirancang untuk menghidupkan kembali tradisi lama melalui suasana malam yang khusyuk dan penuh makna.
“Ketika tamu datang, kami menyambut mereka dengan minuman hangat agar segar kembali. Jika rombongan besar, kami membaginya menjadi dua kelompok. Satu kelompok belajar mengukir batu, sementara yang lain menjelajahi ngarai,” ujarnya.
Jalur ngarai yang dilalui pengunjung dibuat menyerupai perjalanan masa lampau, dengan cahaya lilin menerangi jalan setapak. Sepanjang perjalanan, para pemandu menceritakan kisah kehidupan masyarakat Dadan yang pernah menetap di wilayah tersebut.
“Dari prasasti dan gambaran di pegunungan ini, pengunjung bisa memahami bagaimana kehidupan orang-orang Dadan di masa lalu,” kata Omer.
Setelah menyelesaikan perjalanan, seluruh pengunjung berkumpul kembali untuk beristirahat, berbincang, dan menikmati sajian sederhana seperti kurma dan teh—sebuah tradisi jamuan yang mencerminkan budaya keramahan Arab sejak ribuan tahun silam.
Menurut Omer, bertutur kisah memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat di kawasan tersebut sejak 3.000 tahun lalu.
“Dulu orang-orang dari berbagai wilayah datang membawa hewan mereka, beristirahat di sini. Ada aliran air, ada kehidupan. Tempat ini menjadi persinggahan yang penuh cerita,” ujarnya.
Dengan mengenakan busana khas masa lampau dan menyampaikan kisah secara puitis, para pemandu berupaya mengajak pengunjung merenungi sejarah dalam suasana malam yang tenang dan penuh cahaya.
Bagi Omer, keterlibatannya dalam proyek ini memiliki makna personal yang mendalam. Ia merasa bersyukur dapat mengenal sejarah leluhurnya dan ingin terus menyebarkan pengetahuan tersebut lintas generasi.
“Ini adalah tanah para leluhur saya. Saya mencintai sejarah dan ingin terus mempelajarinya, termasuk sejarah saya sendiri,” tuturnya.
“Saya baru mengenal sejarah kuno ini tiga tahun lalu sejak bekerja di sini. Saat memahaminya, saya merasa sangat bahagia. Semua orang seharusnya datang dan merasakan pengalaman ini.”
Jabal Ikmah bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang perenungan sejarah yang mengajak manusia mengenali akar peradaban, memahami perjalanan umat terdahulu, dan mensyukuri warisan ilmu yang ditinggalkan generasi sebelum Islam hadir menerangi Jazirah Arab.(arabnews)
(ACF)