Islam mengajarkan 5 Kiat Ini untuk Meredam Marah

N Zaid - Doa Ketika Marah 06/07/2022
Ilustrasi. Pixabay
Ilustrasi. Pixabay

Oase.id - Manusia secara alamiah memiliki potensi emosi yang berbeda-beda. Bisa bahagia, sedih, kecewa, jijik, terkejut, takut, dan marah. Dari enam emosi dasar itu, “marah”  menjadi emosi yang paling sering diasosiasikan dengan dampak negatif.

Islam, sebagai agama yang sempurna, yang mengajarkan tidak hanya ibadah namun juga panduan kehidupan bagi manusia memberi perhatian khusus pada pembahasan tentang emosi kemarahan. Islam memperingatkan bahwa emosi marah, adalah keadaan yang harus diwaspadai manusia, agar tidak semakin liar.

Marah dapat diibaratkan seperti api. Bila membesar dan tak terkendali maka akan membakar sekeliling. Kerugian akan ditimbulkan jika seseorang tidak mampu mengatasi kemarahannya, sehingga larut dalam melampiaskan emosinya. Dampak kemarahan yang tidak diredam bisa beragam, dari ringan sampai paling ekstrem. Nabi Muhammad ﷺ pun berwasiat agar seseorang berusaha untuk meredam kemarahan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6116]

Riwayat ini tidak menyebutkan siapa nama sahabat yang meminta nasihat kepada Rasulullah ﷺ. Namun disebutkan, sebagaimana dikutip dari laman Rumaysho, bahwa inti pesan Nabi ﷺ adalah seseorang saat timbul kemarahan dalam dirinya, untuk dapat menahan diri sampai kemarahan reda. Maksud yang kedua adalah seseorang yang sedang marah dianjurkan untuk tidak bertindak atas dasar dorongan melampiaskan kemarahannya.

Dalam keadaan marah, seseorang dapat dengan mudah bertindak tanpa perhitungan, membabi-buta dan tidak lagi memikirkan akibatnya. Islam sendiri memiliki kiat untuk menghindarkan seseorang dari kondisi ‘gelap mata’ akibat kemarahan yang tak terkendali. Sebab kemarahan kecenderungannya membawa mafsadat bila dilayani, sehingga akhirnya hanya berujung penyesalan.

Ada sejumlah kiat yang bisa membantu seseorang untuk terhindar dari ketidakmampuan mengekang emosi saat marah.

1.  Membaca ta'awudz

Dengan memohon perlindungan dari setan (membaca, ‘A’udzubillahi minas-syaitani’). Sebab kemarahan bisa datang dari setan.

"Sifat marah merupakan bara api yang dikobarkan oleh setan dalam hati manusia untuk merusak agama dan diri mereka, karena dengan kemarahan seseorang bisa menjadi gelap mata sehingga dia bisa melakukan tindakan atau mengucapkan perkataan yang berakibat buruk bagi diri dan agamanya," tulis Ustaz Abdullah bin Taslim al-Buthoni dalam "Atasi Marahmu, Gapai Ridho Rabbmu".

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah menyampaikan faedah membaca ta'awudz ketika seseorang sedang tersulut emosi (marah).

Sulaiman bin Shurod radhiyallahu ‘anhu berkata suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam sedang dua orang lelaki sedang saling mengeluarkan kata-kata kotor satu dan lainnya. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya jika sekiranya ia mau membaca, ‘A’udzubillahi minas-syaitani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.” (HR Bukhari, no. 3282)

2. Diam

Saat marah, seseorang cenderung untuk melampiaskannya dengan perbuatan dan perkataan. Dengan pikiran yang kalut dan adrenalin yang terpacu, kemarahan akan mendorong orang untuk mengucapkan kata-kata sesuai isi hatinya. Hal ini tentunya sangat berisiko dan dapat memperkeruh keadaan sehingga menimbulkan masalah yang lebih besar.

Terkait ini ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: “Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad, 1: 239. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan lighairihi)

3.  Mengubah posisi

Saat sedang marah seseorang cenderung mengambil sikap berdiri. Bahkan saat posisi semula sedang duduk, seseorang yang marah, akan terpicu untuk bangun seiring dengan emosi yang naik baik perlahan atau dengan cepat.  Ini adalah dorongan alami di mana kemarahan adalah bentuk dari sikap mempertahankan diri. Berdiri adalah tanda fisik untuk melakukan perlawanan.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ketika seseorang sedang marah maka untuk meredakannya, dengan mengubah posisi serendah mungkin.

Dari Abu Dzar al-Gifari bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri maka hendaknya dia duduk, kalau kemarahannya belum hilang maka hendaknya dia berbaring” (HR Abu Dawud no. 4782).

4.  Wudhu

“Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu.” (HR. Abu Daud, no. 4784)

5.  Mengingat kabar gembira bagi yang menahan amarah

Selain menahan amarah untuk menghindari hal-hal buruk setelahnya, mengingat atau merenungkan firman Allah dan hadist Nabi  Muhammad ﷺ yang mengabarkan keutamaan bagi orang yang berjuang menahan amarahnya, dapat memberi motivasi untuk tidak mudah melepas amarah, dan menuruti nafsu dan melampiaskannya sesuai suasana hati yang sedang mendidih.

Banyak kabar gembira bagi seseorang yang menahan amarah karena Allah menyukai orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.  

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 133-134:

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."

Dalam sebuah hadist, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya.” (HR Abu Dawud (no. 4777).


(ACF)