Muslim Kanada Peringati Tragedi Masjid Quebec, Serukan Perlawanan terhadap Islamofobia
Oase.id - Komunitas Muslim di Kanada pada Rabu memperingati ulang tahun tragedi penembakan masjid di Kota Quebec pada 2017, yang menewaskan enam orang. Peringatan ini sekaligus menjadi momen untuk kembali menyerukan perlawanan terhadap Islamofobia, di tengah kekhawatiran bahwa upaya penanganan kebencian terhadap Muslim mulai melemah.
Di wilayah Pierrefonds, Montreal, warga, aktivis, dan para pemimpin kelompok minoritas berkumpul untuk mengenang para korban penembakan di Quebec Islamic Cultural Centre. Serangan tersebut tercatat sebagai aksi paling mematikan terhadap rumah ibadah dalam sejarah Kanada.
Enam pria Muslim tewas setelah seorang pelaku bersenjata melepaskan tembakan saat salat Isya pada 29 Januari 2017.
Sejumlah tokoh komunitas menyatakan tragedi itu mengubah cara banyak Muslim memandang Kanada. Ola Shaheen dari Canadian Youth Development Center mengatakan peristiwa tersebut mengguncang rasa aman yang selama ini dirasakan komunitas Muslim.
“Hari itu mengubah cara banyak dari kami memandang Kanada. Negara yang kami anggap aman dan memberi rasa memiliki, tiba-tiba terasa jauh lebih rapuh,” ujarnya.
Acara peringatan di Montreal digelar bekerja sama dengan perwakilan khusus pemerintah Kanada untuk penanggulangan Islamofobia. Para peserta menegaskan bahwa mengenang korban harus diiringi dengan tindakan nyata untuk melawan kebencian dan diskriminasi.
Dokter bedah trauma sekaligus dokter perawatan kritis, Dr. Kosar Khwaja, menilai semangat perubahan yang muncul setelah tragedi 2017 kini mulai meredup. Ia mengingatkan bahwa polarisasi sosial kembali meningkat. “Saya merasa kita justru mundur,” katanya.
Kekhawatiran serupa disampaikan para pemimpin Muslim saat Kanada memperingati sembilan tahun tragedi tersebut. CEO National Council of Canadian Muslims (NCCM), Stephen Brown, mengatakan Islamofobia di Kanada bukanlah persoalan sepele.
“Islamofobia itu nyata dan bisa merenggut nyawa,” ujarnya. Brown menilai, meski sempat ada upaya membangun rekonsiliasi pasca-2017, kini muncul kembali narasi ketakutan terhadap Muslim, terutama di Quebec, yang dimanfaatkan untuk kepentingan politik.
Ia menyoroti undang-undang sekularisme di Quebec yang melarang sebagian pegawai publik mengenakan simbol keagamaan, serta wacana perluasan aturan tersebut ke sekolah dan tempat penitipan anak. Kelompok pembela HAM menilai kebijakan itu berdampak tidak proporsional terhadap perempuan Muslim dan kelompok minoritas lainnya, meski pemerintah Quebec membantah tudingan tersebut.
Brown menilai kebijakan tersebut mengirim pesan bahwa menjadi Muslim yang taat dan terlihat di ruang publik dianggap bermasalah, serta memperingatkan bahwa pernyataan dari pejabat berwenang dapat melegitimasi sikap Islamofobia dan berujung pada kekerasan.
Sementara itu, perwakilan khusus pemerintah Kanada untuk penanggulangan Islamofobia, Amira Elghawaby, menegaskan komitmen pemerintah dalam melawan kebencian, termasuk melalui pendanaan untuk kelompok komunitas dan program pencegahan ekstremisme dalam kerangka rencana aksi nasional.
Namun demikian, Elghawaby mengakui bahwa Islamofobia masih meningkat di Kanada. Hal itu tercermin dari data kejahatan bermotif kebencian yang dilaporkan kepada polisi, serta pengalaman diskriminasi yang dialami warga Muslim di tempat kerja maupun di lingkungan sekolah.(Anadolu)
(ACF)