Laporan Ungkap Mahasiswa Muslim di AS Hadapi Iklim yang Tidak Bersahabat di Kampus

N Zaid - Diskriminasi Islam 15/02/2026
Ilustrasi: Pixabay
Ilustrasi: Pixabay

Oase.id - Hak untuk menyampaikan protes dan menjalankan ibadah bagi mahasiswa Muslim di kampus-kampus Amerika Serikat dilaporkan semakin menyempit. Temuan ini terungkap dalam laporan terbaru lembaga advokasi Muslim, Council on American-Islamic Relations (CAIR).

Dalam laporan yang dirilis Kamis, CAIR menyebut sejumlah universitas ternama di Amerika kini menjadi lingkungan yang paling tidak ramah bagi mahasiswa Muslim serta pihak yang menyuarakan penolakan terhadap genosida. Dari seluruh kampus yang diteliti, tidak satu pun memperoleh penilaian positif.

Melalui program riset Unhostile Campus Campaign, CAIR menilai 51 perguruan tinggi di AS. Hasilnya, Columbia University dan City University of New York (CUNY) menempati posisi terbawah sebagai kampus paling tidak ramah, dengan skor masing-masing hanya 2 persen.

Sejumlah kampus lain yang juga dinilai memiliki kondisi kurang kondusif bagi mahasiswa Muslim antara lain University of Michigan, University of Chicago, dan Case Western Reserve University.

Mayoritas Kampus Dinilai Tidak Ramah

CAIR menegaskan tidak ada satu pun kampus yang masuk kategori “Unhostile” atau ramah. Hanya enam kampus yang masuk status “Under Watch” atau perlu pemantauan, dengan nilai tertinggi diraih University of Alabama sebesar 87 persen. Secara keseluruhan, nilai rata-rata seluruh kampus hanya 37,92 persen.

Hampir tiga perempat kampus mendapat skor di bawah 50 persen. Lebih dari separuh juga tidak secara tegas memasukkan definisi Islamofobia atau bias anti-Muslim dalam kebijakan anti-diskriminasi mereka.

Laporan itu juga mencatat 12 kampus telah mengadopsi definisi antisemitisme versi IHRA yang menuai kontroversi. Sejumlah pengkritik menilai definisi tersebut kerap digunakan untuk membatasi kritik terhadap kebijakan Israel.

Banyak Aksi Protes Berujung Pemanggilan Polisi

Sekitar separuh institusi yang diteliti menghadapi pengaduan Title VI terkait dugaan diskriminasi. Selain itu, lebih dari 75 persen kampus dilaporkan memanggil aparat kepolisian untuk membubarkan atau menangani demonstrasi terkait Gaza setelah Oktober 2023.

CAIR juga menyebut 90 persen kampus membuat perubahan kebijakan besar tanpa melibatkan masukan dari mahasiswa maupun staf pengajar.

Pakar Riset dan Advokasi CAIR, Maryam Hasan, mengatakan banyak pimpinan universitas gagal menjalankan komitmen mereka terhadap kebebasan berbicara dan kebebasan akademik.

Sementara Direktur Riset dan Advokasi CAIR, Corey Saylor, menilai sejumlah kampus justru bertindak represif terhadap mahasiswa Muslim dan pihak yang menentang jatuhnya korban sipil di Gaza. Menurutnya, laporan ini dapat menjadi peringatan bagi calon mahasiswa dan tenaga pengajar tentang situasi yang mungkin mereka hadapi di lingkungan kampus.(dailysabah)


(ACF)