Apakah Jin Makan dan Minum? Ini Penjelasan Lengkap Berdasarkan Hadits Shahih
Oase.id - Pertanyaan tentang apakah jin makan dan minum sering muncul di tengah masyarakat Muslim. Sebagian menganggap jin hanya makhluk gaib tanpa kebutuhan fisik, sementara yang lain meyakini jin memiliki aktivitas mirip manusia. Dalam Islam, persoalan ini tidak didasarkan pada spekulasi, tetapi dijelaskan secara terang melalui hadits-hadits shahih Nabi Muhammad ﷺ.
Dalil Shahih: Jin Memiliki Makanan
Dikutip dari buku Kesurupan Jin dan Cara Pengobatannya Secara Islami yang ditulis Syaikh Wahid Abdus Salam Bali, hadits-hadits shahih secara tegas menunjukkan bahwa jin memang makan dan minum. Dalam Shahih Bukhari, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan pengalamannya saat membantu Rasulullah ﷺ.
Abu Hurairah pernah membawakan bejana berisi air untuk keperluan wudhu dan hajat Nabi ﷺ. Saat itu Rasulullah ﷺ meminta agar ia membawakan batu untuk beristinja, dan berpesan agar tidak membawakan tulang maupun kotoran hewan.
Ketika Abu Hurairah bertanya alasan larangan tersebut, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa tulang dan kotoran hewan adalah makanan jin. Bahkan Nabi ﷺ menyebut pernah didatangi oleh utusan jin dari Nashibin—yang disebut sebagai jin terbaik—yang meminta bekal makanan. Rasulullah ﷺ pun berdoa agar Allah menjadikan setiap tulang dan kotoran hewan sebagai sumber makanan bagi mereka.
Hadits ini menjadi dalil kuat bahwa jin memang memiliki bentuk makanan yang sesuai dengan hakikat mereka sebagai makhluk gaib.
Jin dan Setan Ikut Makan dan Minum
Dalam Shahih Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia makan dengan tangan kanannya, dan apabila minum hendaklah minum dengan tangan kanannya. Karena sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya.”
Hadits ini menunjukkan bahwa setan—yang merupakan bagian dari golongan jin—juga makan dan minum, namun dengan cara yang menyelisihi adab seorang Muslim.
Setan Mendapat Bagian dari Makanan Tanpa Basmalah
Dalam riwayat Shahih Muslim dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, diceritakan bahwa Rasulullah ﷺ tidak memulai makan sebelum beliau sendiri meletakkan tangan dan menyebut nama Allah.
Pada suatu kesempatan, seorang anak perempuan dan seorang Arab badui datang tergesa-gesa hendak mengambil makanan. Rasulullah ﷺ menahan tangan mereka seraya menjelaskan bahwa setan ikut makan dari makanan yang tidak disebut nama Allah. Bahkan beliau menegaskan bahwa tangan setan berada di dalam makanan tersebut sebelum basmalah dibaca.
Setelah itu, Rasulullah ﷺ menyebut nama Allah dan mulai makan, sebagai bentuk perlindungan dari gangguan setan.
Rumah Tanpa Dzikir: Tempat Singgah Setan
Hadits lain dalam Shahih Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu menyebutkan:
“Jika seseorang masuk rumahnya lalu menyebut nama Allah ketika masuk dan saat makan, setan berkata: ‘Tidak ada tempat bermalam dan tidak ada makan malam bagi kalian.’ Namun jika ia tidak menyebut nama Allah saat masuk, setan berkata: ‘Kalian mendapatkan tempat bermalam.’ Dan jika ia tidak menyebut nama Allah saat makan, setan berkata: ‘Kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam.’”
Hadits ini semakin menguatkan bahwa jin dan setan benar-benar makan dan minum, serta bisa ikut menikmati makanan manusia jika lalai dari dzikir.
Perbedaan Pendapat Ulama tentang Jin Makan dan Minum
Para ulama membahas masalah ini dan menyebutkan tiga pendapat utama:
1. Pendapat pertama: Semua jin tidak makan dan tidak minum.
Pendapat ini dinilai lemah dan bertentangan dengan banyak hadits shahih.
2. Pendapat kedua: Sebagian jin makan dan minum, sebagian lainnya tidak.
Pendapat ini dinukil dari Wahab bin Munabbih, yang menyebut bahwa ada jenis jin yang seperti angin dan tidak makan, minum, atau beranak, sementara jenis lain melakukannya.
3. Pendapat ketiga: Semua jin makan dan minum.
Pendapat ini dinilai paling kuat, karena didukung oleh banyak hadits shahih yang jelas dan tegas.
Mayoritas ulama cenderung pada pendapat ketiga, meskipun tetap membuka kemungkinan adanya perbedaan jenis dan cara makan di antara jin.
Tulang yang Disebut Nama Allah
Dalam riwayat Shahih Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa tulang yang disebut nama Allah saat penyembelihannya akan menjadi makanan bagi jin. Sementara dalam riwayat lain (Abu Dawud), disebutkan tulang yang tidak disebut nama Allah.
Para ulama menjelaskan bahwa perbedaan ini bisa dipadukan:
• Riwayat Muslim berlaku untuk jin Muslim
• Riwayat lainnya berlaku untuk setan
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Dari penjelasan hadits-hadits shahih di atas, dapat disimpulkan bahwa jin dan setan benar-benar makan dan minum, meskipun caranya berbeda dengan manusia. Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa menyebut nama Allah saat masuk rumah dan ketika makan, agar terhindar dari gangguan makhluk halus dan mendapatkan keberkahan.
Ilmu ini bukan untuk menimbulkan rasa takut, tetapi untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya dzikir dan adab sehari-hari sebagaimana diajarkan Rasulullah ﷺ.
(ACF)