Isolasi, Cara Nabi Memerangi Wabah dan Epidemi

Fera Rahmatun Nazilah - Kesehatan 26/01/2020
Seorang staf medis mengenakan pakaian pelindung di sebuah rumah sakit di Wuhan, Hubei, Tiongkok. (Foto: AFP)
Seorang staf medis mengenakan pakaian pelindung di sebuah rumah sakit di Wuhan, Hubei, Tiongkok. (Foto: AFP)

Oase.id- Mengawali tahun 2020, publik dihebohkan kemunculan virus korona di Wuhan, China. Virus ini menyebar ke sejumlah wilayah Tiongkok hingga ke beberapa negara tetangga. Demi mengantisipasi penyebaran yang lebih luas, pemerintah setempat mengisolasi kota-kota yang terdampak virus.

Penyebaran wabah penyakit sesungguhnya bukan hanya terjadi di era modern, melainkan telah ada sejak berabad-abad silam. Bahkan, Rasulullah Muhammad Saw juga pernah berpesan tentang bagaimana sebaiknya menyikapi epidemi yang muncul di wilayah tertentu.

Usamah bin Zaid berkata, Rasulullah Saw bersabda, "Wabah adalah kotoran (siksa) yang Allah kirimkan kepada golongan dari Bani Israil atau kepada umat sebelum kalian. Maka, jika kalian mendengar ada wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah tersebut. Dan apabila kalian berada di wilayah yang terkena wabah, janganlah kalian keluar dan lari darinya. (HR Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan hadis di atas, Nabi Muhammad Saw sudah menganjurkan kepada umatnya, apabila mengetahui ada wabah penyakit di suatu wilayah, janganlah memasuki kawasan tersebut. Dan apabila berada di area yang terkena wabah, janganlah keluar dari area tersebut.

Imam Ahmad, Bukhari, dan Muslim meriwayatkan melalui jalur Az-Zuhri bahwa sekali waktu Umar bin Khattab dalam perjalanan ke Syam (sekarang Suriah). Setibanya di wilayah Saragh, yakni perbatasan antara Hijaz dan Syam, ia ditemui komandan perang bernama Abu Ubaidah bin Al-Jarrah beserta rombongan.

Mereka menginformasikan kepada Umar bahwa kota yang ditujunya telah menjadi pusat wabah penyakit menular. Soal bagaimana cara apik menyikapinya, para sahabat Nabi itu akhirnya berdiskusi guna menyelaraskan beragam pendapat yang ada.

Namun, tak lama, ketika musyawarah masih berlangsung, datanglah Abdurrahman bin Auf menyampaikan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda;

"Jika suatu daerah terserang wabah penyakit sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah keluar melarikan diri (mengungsi) darinya. Jika kalian mendengar di suatu daerah sedang terserang wabah penyakit maka janganlah kalian datang mendekatinya.

Mendengar penjelasan itu, Umar pun mengambil keputusan untuk urung mengunjungi Syam.

 

Alhasil, isolasi wilayah yang terdampak wabah penyakit memang dibolehkan. Penutupan akses dari maupun ke kota Wuhan merupakan langkah yang tepat, guna mengantisipasi penyebaran virus korona ke berbagai daerah lainnya.

Meskipun dalam sejarahnya wabah penyakit pernah didefinisikan sebagai azab, akan tetapi bagi umat Muslim, wabah bisa merupakan salah satu bentuk rahmat. 

Aisyah Ra pernah bertanya kepada Rasulullah Saw terkait epidemi, hingga Rasulullah pun bersabda;

“Wabah penyakit adalah sejenis siksa yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorangpun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." 

 

Sumber: Disarikan dari beberapa hadis di Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, serta kisah dari Qashash Al-Anbiya karya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi Asy-Syafi'i atau masyhur disebut Imam Ibnu Katsir. 


(SBH)
TAGs: Kesehatan