Apakah Thomas Edison Pasti Masuk Neraka? Ini Penjelasan Ustaz Ahmad Ubaidillah Nasiden
Oase.id - Perdebatan tentang nasib akhir seorang tokoh nonmuslim kembali mencuat setelah video viralnya pernyataan tokoh aktivis Nahdlatul Ulama Islah Bahrawi. Kali ini, nama Thomas Alva Edison ikut disorot karena jasanya yang besar bagi peradaban manusia—terutama melalui penemuan lampu yang hingga kini menerangi berbagai aktivitas, termasuk ibadah umat Islam.
Dalam sebuah ceramahnya, Ustaz Ahmad Ubaidillah Nasiden mengangkat pernyataan Islah Bahrawi yang mengatakan, “Apakah adil jika sosok seperti Edison dipastikan masuk neraka, meskipun jasanya begitu besar?”
“Thomas Alva Edison yang menciptakan lampu ini bukan orang Islam. Tapi dia menerangi Masjidil Haram, menerangi masjid, menerangi orang mengaji, sampai hari ini,” ujar Islah dalam sebuah forum.
Manfaat penemuan Edison dirasakan luas oleh umat manusia, termasuk dalam kegiatan ibadah. Orang wudu, orang salat, orang ngaji—semua terbantu dengan adanya lampu. Namun, menurut Ustaz Ahmad Ubaidillah, persoalan surga dan neraka tidak bisa ditentukan hanya dari besarnya manfaat duniawi. Ia menegaskan bahwa dalam Islam, terdapat kaidah yang jelas terkait vonis terhadap seseorang.
Vonis Mutlak dan Vonis Individu
Ustaz Ahmad menjelaskan bahwa dalam akidah Islam, terdapat dua jenis penilaian: vonis mutlak (umum) dan vonis muayyan (individu).
“Vonis mutlak itu misalnya kita katakan, siapa yang meninggal dalam keadaan kafir maka dia masuk neraka. Ini banyak dalilnya dalam Al-Qur’an dan hadis,” jelasnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa vonis tersebut tidak serta-merta bisa diterapkan kepada individu tertentu. “Untuk vonis per orang, kita tidak boleh memastikan dia di surga atau neraka, kecuali ada dalil khusus yang menyebutkan,” tegasnya.
Ia mengutip pandangan ulama seperti Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyah yang menegaskan bahwa perkara akhirat adalah ranah gaib yang hanya diketahui Allah.
“Kita tidak tahu bagaimana akhir hidup seseorang, apa yang ada di dalam hatinya, dan bagaimana ia meninggal,” ujarnya.
Tidak Boleh Mudah Memvonis
Lebih lanjut, Ustaz Ahmad mengkritik dua sikap ekstrem yang sering muncul: terlalu mudah memvonis seseorang masuk neraka, atau sebaliknya terlalu mudah memastikan seseorang masuk surga.
“Tidak boleh kita langsung bilang si fulan di neraka, atau sebaliknya pasti di surga. Cukup kita katakan: kita tidak tahu. Itu urusan Allah,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa penentuan surga dan neraka bukan berdasarkan perasaan manusia.
“Bukan karena kita kasihan lalu kita bilang dia harusnya di surga. Ini bukan ranah perasaan. Yang menentukan adalah Allah,” ujarnya.
Bagaimana dengan Edison?
Terkait sosok Edison, Ustaz Ahmad menegaskan bahwa secara lahiriah ia diketahui bukan seorang Muslim. Namun, detail kondisi akhir hidupnya tidak diketahui secara pasti.
“Kita hanya tahu secara umum dia nonmuslim. Tapi bagaimana akhir hidupnya, apa yang ada di hatinya, itu kita tidak tahu,” jelasnya.
Ia menambahkan, jika seseorang meninggal dalam keadaan kufur setelah sampai kepadanya dakwah Islam, maka secara umum termasuk dalam ancaman neraka. Namun, hal itu tetap tidak bisa dijadikan dasar untuk memastikan nasib individu tertentu.
“Cukup kita pegang dalil umum, tanpa memastikan secara spesifik,” katanya.
Pelajaran bagi Umat
Di akhir ceramahnya, Ustaz Ahmad mengingatkan agar umat Islam lebih fokus pada keselamatan diri sendiri daripada sibuk menilai orang lain.
“Kita pikirkan diri kita masing-masing, apakah kita masuk surga atau neraka. Itu yang lebih penting,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar tidak muncul pemahaman yang menyimpang dari prinsip dasar Islam, termasuk anggapan bahwa semua agama sama benarnya.
“Yang berbahaya adalah kalau sampai muncul narasi seolah-olah semua orang pasti di surga. Ini yang harus diluruskan,” tegasnya.
Dengan demikian, perdebatan tentang nasib tokoh seperti Edison seharusnya disikapi dengan kehati-hatian, berpegang pada prinsip akidah, serta menyerahkan keputusan akhir sepenuhnya kepada Allah.
(ACF)