Observatorium Al-Azhar Memperingatkan tentang Pelembagaan Islamofobia di Dunia

N Zaid - Fiqih Islam 18/02/2026
Ilustrasi. Foto: Pixabay
Ilustrasi. Foto: Pixabay

Oase.id - Lembaga pemantau di bawah Al-Azhar Mesir memperingatkan bahwa Islamofobia kini tidak lagi sebatas prasangka individu, melainkan telah berkembang menjadi struktur sistematis dalam tatanan global. Fenomena ini dinilai kerap dimanfaatkan untuk membenarkan kebijakan eksklusif dan diskriminatif terhadap umat Islam.

Dalam laporan terbarunya, Al-Azhar Observatory for Combating Extremism menegaskan bahwa Islamofobia telah mengalami institusionalisasi. Mengutip laporan Al-Ahram, lembaga tersebut menyebut sentimen anti-Islam kini dikelola secara sistemik dan digunakan untuk membentuk ulang citra “yang lain” berdasarkan pertimbangan politik dan keamanan, terutama saat terjadi krisis dan dinamika geopolitik besar.

Bukan Sekadar Kebencian Individual

Menurut laporan itu, menyederhanakan Islamofobia sebagai kebencian personal atau reaksi emosional semata justru menutup esensi persoalan. Islamofobia, kata mereka, kerap dijadikan alat politik untuk melegitimasi kebijakan eksklusif serta memperkuat langkah-langkah luar biasa yang berpotensi melanggar prinsip pluralisme dan hak-hak sipil.

Observatorium tersebut juga menyoroti temuan sejumlah lembaga riset Barat yang menyebut bahwa persepsi negatif terhadap Islam sebagian besar dibentuk oleh sistem media dan wacana politik yang terus mereproduksi stereotip, bukan melalui pengalaman interaksi langsung dengan Muslim.

Hal ini, menurut laporan tersebut, menunjukkan peran narasi sistematis dalam menciptakan dan memelihara rasa takut di tengah masyarakat.

Kritik terhadap Pendekatan Selama Ini

Al-Azhar juga mengkritik dominasi narasi korban dalam upaya melawan Islamofobia. Meski narasi tersebut sah dan memiliki dasar kuat, pendekatan itu dinilai belum menghasilkan dampak nyata.

Bahkan, dalam beberapa kasus, pendekatan tersebut tanpa disadari justru memperkuat citra Muslim sebagai pihak pasif. Kondisi ini kemudian dimanfaatkan kelompok sayap kanan ekstrem untuk memperuncing polarisasi “kami versus mereka” dan menggalang ketakutan kolektif.

Dorong Langkah Lebih Strategis dan Terukur

Observatorium menegaskan bahwa upaya melawan Islamofobia tidak cukup hanya dengan kecaman moral. Diperlukan pendekatan yang lebih sistematis dan strategis.

Langkah tersebut, menurut laporan, harus dimulai dengan membongkar struktur kognitif yang melahirkan wacana eksklusif. Selanjutnya, negara perlu mengaktifkan perangkat hukum yang secara tegas mengkriminalisasi diskriminasi berbasis agama.

Selain itu, penting membangun aliansi politik dan sosial yang luas guna membela nilai pluralisme dan kesetaraan kewarganegaraan.

Di akhir laporannya, Al-Azhar menekankan bahwa melawan Islamofobia merupakan proyek jangka panjang. Upaya ini tidak cukup hanya dengan mengangkat suara korban, tetapi harus mampu mentransformasikan nilai menjadi kebijakan, hak menjadi legislasi, serta protes menjadi dampak institusional yang terukur.

Dengan langkah tersebut, siklus eksklusi diharapkan dapat diputus dan ruang publik yang lebih adil serta inklusif dapat terwujud.(iqn)


(ACF)
TAGs: Fiqih Islam