Kisah Hijrah Sandi Widodo yang Meninggalkan Profesi Seniman Tato
Oase.id - Hidayah sering datang dengan cara yang tak terduga. Begitulah kisah Sandi Widodo, seorang mantan pembuat tato yang kini dikenal sebagai sosok inspiratif dalam perjalanan hijrah dan taubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dari dunia seni tato yang lekat dengan gemerlap maksiat, Sandi memilih jalan sunyi: memperdalam ilmu agama dan berusaha menunaikan kewajiban-kewajiban dalam Islam.
Dalam salah satu majelis Inspirasi Hijrah yang dipandu Ustadz Khalid Basallamah, Sandi mengaku mulai tertarik pada dunia musik sejak SMP. Musik rock dan para musisinya menjadi idola. Saat itu, tato baginya bukan simbol dosa, melainkan identitas yang terlihat “keren”.
“Musisi yang saya kagumi rata-rata bertato. Dari situ muncul persepsi kalau tato itu keren,” ujarnya.
Setelah lulus SMA, Sandi ingin melanjutkan sekolah musik atau seni, namun orang tuanya tidak mengizinkan. Ia tetap bergaul dengan komunitas musik, hingga akhirnya berteman dekat dengan seorang pembuat tato. Dari situlah perjalanannya dimulai.
Awalnya, Sandi hanya membantu membuat sketsa gambar untuk klien temannya. Hingga suatu hari, ia mencoba langsung mesin tato. Sejak 2006, profesi itu mulai ia tekuni secara serius, bahkan menjadi sumber penghasilan utama.
Namun, Ustadz Khalid Basalamah menghentikan sejenak cerita Sandi untuk menekankan satu hal penting: soal persepsi.
“Dalam Islam, tato itu dosa besar. Tidak boleh ada anggapan bahwa sesuatu yang dilarang itu keren,” tegas Ustadz Khalid.
“Keren itu ke masjid. Keren itu hafal Al-Qur’an. Keren itu hadir di majelis ilmu.”
Sandi mengakui, meski mendapat penghasilan dari tato, orang tuanya tidak pernah berhenti menasihatinya. Namun, saat itu nasihat hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Bahkan, karena konflik, ia sempat keluar dari rumah dan membuka studio tato sendiri.
Selama bertahun-tahun, Sandi hidup di dunia tato. Hingga pada 2011, ia mendapat tawaran bekerja di kota yang menurutnya sangat bebas. Di sanalah titik balik pertama terjadi.
Di sebuah studio, Sandi melihat lafaz Allah disejajarkan dengan simbol agama lain. Pemandangan itu mengguncang batinnya. “Saat itu saya tidak nyaman. Seperti ada bisikan di hati,” kata Sandi.
Meski masih menjalani salat secara tidak konsisten, kegelisahan itu tumbuh. Ia mulai rindu masjid, rindu salat, namun malu bertanya. Lingkungan pergaulan justru menertawakan keinginannya mendekat pada agama.
Sekembalinya ke Jakarta, Sandi pulang ke rumah orang tuanya. Ia masih membuat tato, tetapi mulai salat. Saat azan berkumandang, pekerjaannya dihentikan sementara. Ia berada di titik tengah: antara taat dan maksiat.
Perubahan berikutnya datang dari pencarian pribadi. Sandi mulai menonton kajian agama di media sosial. Awalnya, ia mencari pembenaran hukum tato. Namun, ia tidak menemukannya.
“Tidak ada satu pun ustadz yang membolehkan tato,” ujarnya.
Salat yang mulai rutin perlahan mengubah hatinya. Ia merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dari situlah muncul kesadaran bahwa tato tidak berdiri sendiri, melainkan sering beriringan dengan maksiat lain: khamar, narkoba, dan pergaulan bebas.
Pada 2013, Sandi akhirnya mengambil keputusan besar: meninggalkan dunia tato sepenuhnya.
Sebagai pengganti penghasilan, ia membuka usaha percetakan, lalu menikah. Setelah itu, ia beralih ke usaha kuliner. Namun, rasa bersalah terhadap masa lalu masih mengganjal.
“Saya berpikir, bagaimana dengan orang-orang yang pernah saya tato?” katanya.
Dari kegelisahan itu, lahirlah ikhtiar baru. Bersama sang istri, Sandi menggalang donasi untuk membeli mesin laser penghapus tato. Program hapus tato gratis pun dimulai pada 2017, khusus bagi mereka yang ingin bertobat.
Responsnya luar biasa. Lebih dari 1.400 orang mendaftar. “Mereka datang karena merasa tato itu salah dan ingin punya hujah di hadapan Allah,” ujar Sandi.
Satu mesin laser bisa membantu hingga 10 orang per hari untuk ukuran tato kecil. Prosesnya bertahap, tidak instan. Namun, bagi banyak peserta, itu adalah bagian dari perjalanan hijrah.
Ustadz Khalid menutup sesi dengan menekankan pesan utama dari kisah ini.
“Salat yang dilakukan dengan ikhlas dan doa yang terus dipanjatkan akan mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar,” ujarnya.
“Hijrah itu proses. Tapi yang penting, ada langkah nyata.”
(ACF)