Nabi Ismail dan Pelajaran tentang Pengorbanan yang Tulus

Octri Amelia Suryani - Kisah Nabi dan Rasul Idul Adha 2021 23/06/2021
Gambar oleh 4144132 dari Pixabay
Gambar oleh 4144132 dari Pixabay

Oase.id - Nabi Ismail merupakan anak dari Nabi Ibrahim. Nabi Ismail bersama sang ayah dalam kisahnya mengalami berbagai macam peristiwa yang besar dan mengharukan. Salah satunya peristiwa Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih Nabi Ismail.

Dalam hal ini, Allah menguji ketaatan Ibrahim. Sebagai nabi ke-6, Ibrahim harus mempertaruhkan rasa cinta dan sayangnya kepada sang anak. Hingga peristiwa ini menjadi awal mula perintah Allah bagi seluruh umat muslim untuk melaksanakan ibadah kurban.

Dilansir dari Kisahmuslim.com, berikut Oase.id merangkum kisah Nabi Ismail, dari kelahiran seorang anak saleh hingga perintah untuk berkurban.

Kisah Kelahiran Nabi Ismail
Nabi Ibrahim dengan Sarah (istrinya) tidak langsung dikaruniai seorang anak. Nabi Ibrahim dalam kisah ini pun banyak memanjatkan doa kepada Allah. Dia minta dianugerahkan seorang anak yang saleh dan taat kepada-Nya.

Suatu waktu, Sarah mengetahui apa yang diharapkan oleh suaminya. Namun, ia tidak dapat mewujudkan keinginan suaminya. Sebab, dia memiliki kondisi rahim yang mandul. Sarah kemudian mendapatkan satu rencana untuk mendekatkan Ibrahim dengan budaknya yang bernama Hajar untuk menikah. Harapan Sarah, dengan adanya pernikahan tersebut Nabi Ibrahim bisa mendapatkan keturunan yang saleh dari perkawinannya dengan Hajar.

Sarah menyampaikan rencana tersebut kepada sang suami. Kemudian Nabi Ibrahim berkata, “Kita harus menanyakannya terlebih dahulu kepada Hajar. Apakah dirinya setuju atau tidak?” Lalu Sarah dan Ibrahim menanyakan langsung kepada Hajar. Hajar pun menyetujuinya.

Setelah menikah, Hajar akhirnya dapat mengandung anak dari Nabi Ibrahim. Dari mengandung selama 9 bulan, kemudian Hajar melahirkan seorang anak yang diberi nama Ismail. Kelahiran Nabi Ismail ini merupakan jawaban dari doa yang selalu dipanjatkan Nabi Ibrahim kepada Allah SWT.

Nabi Ismail dan Ibunya di Makkah
Beberapa waktu setelah kelahiran Ismail, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk pergi membawa Hajar dan anaknya ke Makkah. Tidak berpikir lama, Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah tersebut. Dia membawa Hajar dan Ismail pergi melewati gurun dan berhenti di dekat tempat yang saat ini berdiri bangunan Ka’bah.

Tidak lama kemudian, Nabi Ibrahim pergi meninggalkan Hajar dan Ismail di tempat tersebut untuk kembali ke Syam. Seketika Hajar memegang baju Ibrahim, lalu berkata, “Wahai Ibrahim, kamu mau pergi ke mana? Apakah kamu hendak meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang atau sesuatu apa pun di sini?” Hajar terus mengulangi pertanyaannya, tetapi tidak ada satu kata pun sebagai jawaban dari Ibrahim.

Bahkan, Ibrahim tidak menoleh sedikit pun. Sama sekali dia tidak menanggapi pertanyaan istrinya. Hingga akhirnya Hajar berkata, “Apakah Allah memerintahkan kamu atas semua ini?” Seketika juga Ibrahim menjawab, “Ya.” Hajar pun bisa menerimanya. Dia berkata, “Kalau begitu Allah tidak akan menelantarkan kami.”

Bukit Shafa dan Marwah
Sejak mendapatkan jawaban itu, Hajar segera kembali ke tempatnya semula bersama Ismail. Sedangkan Ibrahim kembali melanjutkan perjalanan menuju Syam. Dalam perjalanan itu, Ibrahim menghadap Ka’bah dan mengangkat kedua tangannya. Dia berdoa kepada Allah:

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim : 37)

Di sisi lain, Hajar kembali menemui Ismail. Dia mulai menyusuinya. Selama beberapa hari Hajar hidup dengan persediaan minum yang telah dibawanya. Namun tiba di satu waktu, persediaan air itu semakin lama habis. Hajar menjadi haus, begitu juga dengan bayinya. Ismail kecil hanya bisa menangis. Hajar hanya bisa memandangnya dengan rasa cemas dan kasihan. Karena tidak tahan, kemudian Hajar pergi meninggalkan Ismail untuk mencari bantuan.

Hingga Hajar sampai di bukit Shafa. Sebuah gunung yang tidak jauh dari keberadaannya semula bersama Ismail. Hajar berdiri dan menghadap ke lembah untuk mencari tanda-tanda keberadaan manusia lain dengan harapan bisa membantunya. Namun, tak seorang pun terlihat dari bukit itu.

Lalu, Hajar memutuskan untuk pergi ke lembah hingga sampai di bukit Marwah. Dia berdiri dan mencari pertolongan. Sama seperti di bukit Shafa, tetap tidak ada manusia lain yang terlihat di sana. Bahkan Hajar melakukan perjalanan dari Shafa ke Marwah hingga tujuh kali. Hasilnya sama, masih saja nihil.

Saat berada di puncak Marwah, Hajar mendengar sesuatu. Ia berusaha untuk diam dan kembali mendengarkan suara itu dengan seksama. Suara itu muncul lagi, “Engkau telah memperdengarkan suaramu jika engkau bermaksud memberikan bantuan.”

Suara itu ternyata merupakan suara dari malaikat Jibril yang berada di dekat sumber air zam-zam. Jibril mengambil air dengan sayapnya hingga air keluar memancar. Akhirnya Hajar dapat minum. Setelah itu bisa kembali menyusui Ismail kecil.

Malaikat Jibril kemudian berkata, “Janganlah kamu takut ditelantarkan, karena di sini adalah rumah Allah, yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.”

Kedatangan Suku Jurhum
Kisah Nabi Ismail dan sang ibu yang tinggal di Makkah masih terus berlanjut. Hingga datanglah sekelompok Suku Jurhum. Mereka datang dari bukit Kadaa’. Dari bagian bawah Makkah, mereka melihat sekelompok burung yang berputar-putar di suatu wilayah. Mereka berharap, burung yang berputar-putar itu merupakan tanda adanya sumber mata air.

Kemudian, mereka mengirimkan dua orang untuk mendatangi lokasi burung tersebut. Ternyata benar, burung-burung tersebut mengelilingi sumber air. Lalu, dengan cepat dua orang dari suku Jurhum itu kembali untuk memberitahukan kelompoknya.

Setelah itu, mereka bersama-sama mendatangi sumber mata air tadi. Hajar saat itu sedang duduk di dekat sumber air. Lalu salah satu dari suku Jurhum berkata, “Apakah kamu mengizinkan kami untuk singgah bergabung denganmu di tempat ini?” Hajar menjawab, “Ya, boleh. Namun kalian tidak berhak memiliki air.” Mereka pun menyepakati permintaan Hajar tersebut.

Hajar merasa senang dengan keberadaan keluarga Jurhum. Sebab, dirinya merasa tidak kesepian lagi. Mereka bisa tinggal bersama dengan rukun. Bahkan dari keluarga Jurhum, Ismail mulai belajar bahasa Arab. Ismail tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berakhlak mulia seperti yang diajarkan ibunya.

Hari demi hari, Ismail tumbuh menjadi anak yang dewasa. Saat inilah, Ismail akan bertemu dengan ayahnya, Nabi Ibrahim.

Mimpi Nabi Ibrahim dan Perintah Berkurban
Ismail yang sudah dewasa bersama ibunya bertemu dengan Ibrahim yang datang menemui untuk melepas rasa rindu. Nabi Ibrahim bisa menjalani hari bersama anaknya tercinta.

Pada suatu hari, Ibrahim bermimpi menyembelih putranya, Ismail. Setelah bangun, ia menyadari bahwa mimpi itu merupakan petunjuk dari Allah SWT.

Kemudian, suatu hari Ibrahim mendatangi anaknya. Sang ayah menyampaikan mimpi yang dialaminya. Ibrahim lalu berkata kepada Ismail, “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” 

Ismail pun menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS As Shaafaat : 102)

Nabi Ibrahim lalu membawa Ismail ke Mina. Sesampainya di sana, Ibrahim mengikat kain di atas muka anaknya. Hal tersebut dilakukan supaya ia tidak dapat melihat raut wajah sang anak yang bisa membuatnya terharu. Keduanya pun telah pasrah dan menyerahkan diri kepada Allah.

Setelah itu, Ibrahim mendengar seruan Allah, “Wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.”

Tidak lama kemudian, malaikat Jibril membawa kambing besar dan meletakkannya sebagai pengganti Ismail yang akan disembelih. Dari peristiwa inilah turun perintah Allah SWT bagi seluruh umat muslim untuk menunaikan kewajiban berkurban. Hukum dasar berkurban ini adalah sunnah muakkad. Yaitu, meskipun sunnah, tetapi ibadah ini sangat dianjurkan.


(ACF)