Kisah: Asma binti Abu Bakar, Perempuan Generasi Islam Pertama yang Sangat Dermawan

Siti Mahmudah - Perempuan muslim 30/03/2021
Gambar oleh Вадим Гайсин dari Pixabay
Gambar oleh Вадим Гайсин dari Pixabay

Oase.id - Asma binti Abu Bakar adalah putri Abu Bakar ash-Shiddiq. Ia termasuk As-Sabiqun Al-Awwalun. Orang yang masuk generasi Islam pertama. Para sejarawan terkemuka seperti Ibnu Hajar dan Ibnu Ishak menyebutnya orang kedelapan belas yang kali pertama masuk Islam. 

Umar Ridha Kahalah dalam buku A’lam an-Nisa menjelaskan, Asma merupakan perempuan yang ikut hijrah, akalnya cerdas, memiliki kepribadian luhur (terhormat), dan kemauannya kuat. Ia juga terkenal sebagai seorang penyair. Kalau berbicara tegas, lugas dan jelas.

Bahkan Ibnu Zubair seraya menyaksikan mengatakan, Asma dikenal sebagai seorang perempuan dermawan. Ibnu Zubair, tidak pernah melihat ada perempuan yang sangat dermawan kecuali Aisyah dan Asma. Kedermawanan keduanya sedikit berbeda.

Aisyah suka mengumpulkan sesuatu atau barang dan apabila sudah tersimpan banyak ia membagikannya kepada sekitarnya. Sedangkan, Asma tidak pernah menyimpannya sampai esok hari. Ia memilih langsung membagikannya.

Senada, Fatimah binti al-Mundzir juga mengatakan, manakala menjelang wafat, Asma memerdekakan semua hamba sahayanya. Ia berpesan kepada para perempuan agar memperbanyak bersedekah dan jangan menunggu ada uang lebih. Usahakan menyegerakan.

Mengutip Husein Muhammad dalam buku "Perempuan Ulama di Atas Panggung Sejarah", Aisyah berkata;

“Jika kalian menunggu ada kelebihan uang, niscaya kalian takkan memiliki kelebihan-kelebihan sedikit pun. Namun, jika kalian menyedekahkan maka kalian takkan merasa kekurangan.”

Selanjutnya, ada kisah lain yang cukup mengharukan dan patut untuk diteladani. Yakni, saat Asma menikah dengan Zubair. Ia tulus dan ikhlas menerima suaminya walaupun tidak memiliki apapun, kecuali seekor kuda. 

Atas dasar ketulusan hatinya, Asma memberi makan dan memelihara kuda milik suaminya. Ia melatihnya, menumbuk biji kurma untuk makanannya, memberi air minum dan memberi adonan roti untuk kuda tersebut. Ia pula yang mencukupi segala kebutuhannya.

Suatu ketika diceritakan, Asma datang kepada Nabi , ia bertanya, "Wahai Rasulullah, tak ada sesuatu yang berharga di rumah saya kecuali kuda yang dibawa Zubair. Bolehkah saya memberikan sebagian pendapatan saya kepadanya?”

Rasul pun menjawab, “Berikanlah sesuai kemampuanmu dan janganlah bakhil, sehingga orang lain akan bakhil terhadapmu.”

Kisah lain yang juga menarik adalah bahwa ibunya, Futailah adalah seorang yang musyrik (menyekutukan Allah). Ketika itu, ibunya datang menemui Asma di rumahnya. Futailah membawa gajih dan kurmanya untuk berikan kepada Asma, anaknya.

Asma ragu untuk menerimanya. Lalu, ia kemudian menemui Rasul dan bertanya, “Apakah boleh bersilaturahmi dan menerima pemberian dari ibunya yang musyrik itu?”

Rasul dengan rasa toleransinya menjawab, “Iya, boleh. Temui dan bersilaturahmi lah dengan ibumu.”


(ACF)
Achmad Firdaus
Posted by Achmad Firdaus