Kisah Fatimah binti al-Mutsanna, Guru dari Filsuf Termasyur Islam, Ibnu Arabi 

Siti Mahmudah - Perempuan muslim Kisah Inspiratif 17/09/2021
Perempuan muslim (Gambar oleh Pezibear dari Pixabay)
Perempuan muslim (Gambar oleh Pezibear dari Pixabay)

Oase.id - Nama lengkapnya Fatimah binti Ibnu al-Mutsanna al-Qurthubi. Beliau lahir di Kordoba, Spanyol. Fatimah binti al-Mutsanna adalah guru dari Filsuf termasyur dalam sejarah Islam, Ibnu Arabi. Fatimah mengajarkan Ibu Arabi tentang pengetahuan esoterik.

Konon diceritakan, pengalaman hidup Fatimah yang penuh derita mengantarkan Ibnu Arabi pada pengetahuan esoterik yang mendalam. Esoterik adalah hal yang berkaitan dengan ilmu-ilmu yang berkaitan sisi dalam dari ajaran  agama.

Kisah Hidup Fatimah binti al-Mutsanna

Sejak kecil, Fatimah sudah diajarkan ayahnya untuk hidup sederhana. Kehidupannya  sangat miskin. Saat sudah baligh, Fatimah dinikahkan oleh ayahnya dengan seorang laki-laki yang sakit lepra. Selama 24 tahun, hidup Fatimah diabadikan untuk mengurus dan merawat suaminya sampai ia meninggal. Sesudah itu, ia hidup sendiri, dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia bekerja sebagai penjahit.

Suatu ketika tangan Fatimah terluka, sehingga ia tidak lagi bekerja menjahit dan tidak memiliki pekerjaan lain. Hidupnya sangat sulit. Untuk mempertahankan hidupnya, ia mencari makanan dari sisa-sisa makanan orang kaya yang membuangnya ke tempat sampah.

Meski hidup sengsara, ia tetap bersyukur kepada Tuhan dan memaknainya sebagai ujian yang dialami para nabi. Sejak saat itu, Fatimah memilih untuk hidup di jalan sufi, dan kemudian menjadi tokoh besar menjadi al-‘arifat atau perempuan yang telah mengenal Tuhan, waliyullah perempuan.

Jadi Rujukan pada Ulama

Pandangannya dalam bidang spiritualisme Islam menjadi rujukan para ulama. Bahkan, Ibnu Arabi dalam karya yang sangat terkenalnya, Al-Futuhat al-Makiyyah, ia mengatakan,

“Aku mengabdi kepada seorang perempuan wali di Seville yang bernama Fatimah binti al-Mutsanna al-Qurthubi. Aku mengabdi kepadanya selama 2 tahun. Saat itu, ia berusia 95 tahun. Aku malu memandang wajahnya, meski usianya sudah begitu lanjut. Pipinya kemerah-merahan. Wajahnya masih tampak cantik bagai perempuan usia 14 tahun. Ia perempuan yang mengabadikan dirinya kepada Allah. Pribadi dan pengetahuannya banyak memengaruhi pikiranku.”

Ibnu Arabi bersama dua orang temannya yang juga merupakan santri Fatimah membantu membangun rumah sederhana terbuat dari bambu untuk tempat tinggal gurunya. 

Tidak hanya itu, Ibnu Arabi memperoleh pencerahan intelektual dan spiritual dari Fatimah. Ia mengatakan tentang gurunya sebagai Kanat rahmah li hadza al-hadza al-‘alam, hadir membawa rahmat bagi dunia. 

Fatimah juga adalah perempuan perawan, pribadinya sangat menarik. Kata-kata dari bibirnya begitu teratur dan indah. Ia seorang perempuan ulama yang sangat rajin beribadah, bersahaja, dan rendah hati. Ia bagai matahari di antara para ulama, dan taman surga bagi para begawan sastra. Ilmunya adalah perilakunya.

Suatu hari, ia mengatakan, “kekasihku memberiku Al-Fatihah. Lalu, aku membacanya untuk suatu hal. Maka, hal itu pun ada, mewujud.”
Ada kisah menarik terkait karamah Syekhah Fatimah. Ibnu Arabi memberikan kesaksian atas karamah gurunya. Diceritakan, seorang perempuan datang mengadu nasib bahwa suaminya meninggalkannya tanpa nafkah hidup. Syekhah Fatimah lantas membaca al-Faatihah. Tiba-tiba surah Al-Fatihah itu berubah menjadi awan.

Kemudian, Syekhah Fatimah, sembari membaca surah Al-Fatihah, meminta awan tersebut untuk mendatangkan suami si perempuan tadi ke Seville. Akhirnya, tidak lama kemudian, selama tiga hari, sang suami tersebut tiba dan berkumpul dengan istrinya. Saat ditanya, suami itu kebingungan dan tidak mengerti bagaimana hatinya memutuskan kembali ke rumah. Hal tersebut merupakan salah satu karamah yang dimiliki Syekhah Fatimah.

Akhir cerita, Fatimah binti al-Mutsanna wafat dan dkuburkan di Siddah, dekat kota Al-Musayyab, Karbala. Sufi besar itu wafat tidak meninggalkan karya dan istana, Akan tetapi, yang ditinggalkan warisan hidup abadi. Yakni, seorang manusia cemerlang, sufi besar, Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi. Seorang guru besar, sufi legendaris dan menulis ratusan buku terkait pengalaman sebagai sufisme.

Sumber: Disarikan dari keterangan dalam buku Perempuan Ulama Di Atas Panggung Sejarah karya KH. Husein Muhammad


(ACF)