Ramadan di Komunitas Muslim Tiongkok: Tabuhan Genderang, Doa, dan Semangkuk Hidangan Hangat

N Zaid - Ramadan 20/02/2026
Tradisi Ramadan di China. Foto: AA
Tradisi Ramadan di China. Foto: AA

Oase.id - Selama Ramadan, ritme kehidupan warga berubah. Belanja pagi menjadi kebiasaan, dan mi beras menjadi pilihan favorit karena ringan dan mudah dicerna.

Keluarga berkumpul untuk sahur sebelum memulai puasa. Menjelang Maghrib, mereka kembali berkumpul untuk berbuka.

Di masa lalu, tradisi memukul drum sebelum sahur dilakukan secara rutin. Kini, tradisi itu masih ada meski tidak sesering dulu.

Setelah bekerja seharian, warga biasanya menuju masjid untuk berbuka puasa bersama. Banyak masjid mengatur iftar secara kolektif, memperkuat rasa persaudaraan.

“Ada lonceng yang dibunyikan setiap hari sebagai tanda waktu berbuka. Kami berbuka di masjid sebelum salat, lalu pulang untuk makan bersama keluarga,” ujar Ma.

Ia mengenang masa kecilnya ketika harus bangun sahur lalu berangkat sekolah. “Saya sering tertidur di bus setelah sahur,” kenangnya sambil tertawa.

Kenangan Ramadan dari Qinghai hingga Yunnan

Haiyun Ma, seorang sejarawan asal Qinghai di China barat laut, juga mengenang Ramadan sebagai momen yang sangat membekas. Islam telah hadir di wilayah tersebut selama berabad-abad, menjadikan Ramadan terasa sangat mengakar dan penuh kebersamaan.

“Salah satu momen paling menyenangkan adalah pergi ke masjid pada malam hari. Keluarga-keluarga berbagi kurma dan makanan untuk berbuka bersama,” ujarnya.

Anak-anak terkadang mendapat bingkisan kecil berisi permen dan kurma sebelum salat, membuat Ramadan terasa “lebih suci dan lebih manis.”

Menu khas Ramadan di Qinghai antara lain kue goreng tradisional, sup gandum, sup daging dan sayur, hingga olahan daging kambing yang disantap langsung dengan tangan. Sahur biasanya terdiri dari teh, roti kukus isi daging atau sayuran, mentega, serta hidangan sederhana namun mengenyangkan.

Saat berbuka, keluarga biasanya memulai dengan kurma merah rebus bercampur gula, lalu dilanjutkan teh dan nasi atau mi dengan aneka lauk.

“Hangat, menenangkan, dan penuh kebersamaan,” kata Ma.

Ramadan: Tentang Kebersamaan dan Kebaikan

Di berbagai komunitas Muslim China, Ramadan selalu menghadirkan rasa kolektif yang kuat. Hampir setiap malam ada undangan makan bersama. Masjid menjadi pusat ibadah sekaligus pusat interaksi sosial.

Menjelang Idulfitri, suasana semakin meriah. Keluarga mengunjungi orang tua dan kerabat, anak-anak menerima angpao atau “uang salam”, dan rumah-rumah dipenuhi tamu.
Bagi banyak Muslim di China, Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.

“Ramadan adalah tentang kebersamaan, kedermawanan, makanan, kenangan, dan kebahagiaan,” ujar Ma.

Di tengah dinamika kehidupan modern, semangat Ramadan tetap hidup—mengikat umat dalam doa, tradisi, dan kasih sayang yang tak lekang oleh waktu. (AA)


(ACF)
TAGs: Ramadan