Kisah Nabi Saleh AS: Ujian Iman Kaum Tsamud dan Mukjizat Unta Betina

N Zaid - Kisah Nabi Saleh 31/12/2025
Ilustrasi: Pixabay
Ilustrasi: Pixabay

Oase.id - Dalam perjalanan sejarah umat manusia, Allah SWT mengutus para nabi sebagai penunjuk jalan ketika manusia mulai larut dalam kesombongan dan kemaksiatan. Salah satu kisah yang diabadikan dalam Al-Qur’an adalah kisah Nabi Saleh ‘alaihissalam, utusan Allah bagi kaum Tsamud, sebuah bangsa besar yang hidup di wilayah Al-Hijr, yang kini dikenal sebagai Madain Saleh, di barat laut Jazirah Arab.

Kaum Tsamud merupakan generasi penerus kaum ‘Ad, bangsa yang sebelumnya dikenal sangat kuat, makmur, dan memiliki peradaban tinggi. Namun kesombongan dan penolakan terhadap dakwah Nabi Hud ‘alaihissalam membuat kaum ‘Ad dibinasakan oleh Allah SWT. Al-Qur’an mengingatkan bagaimana kekuatan fisik dan kemegahan bangunan tidak berarti apa-apa ketika manusia menolak kebenaran (QS. Fussilat: 15).

Berbeda dengan kaum ‘Ad yang jejaknya nyaris lenyap, peninggalan kaum Tsamud masih dapat disaksikan hingga hari ini. Mereka memahat rumah, istana, dan makam langsung dari gunung-gunung batu. Allah SWT mengabadikan kisah mereka dalam Surah Al-Fajr ayat 6–13 dan bahkan menamai satu surah khusus, Surah Al-Hijr, sebagai pengingat bagi umat manusia.

Kemakmuran yang Menjerumuskan

Awalnya, kaum Tsamud mengenal tauhid dan menyembah Allah Yang Maha Esa. Namun seiring kemajuan peradaban dan kekayaan melimpah, mereka mulai terbuai oleh dunia. Istana megah, patung-patung, dan simbol kekuasaan dibangun. Kekayaan tidak lagi dibagi, kaum lemah ditindas, dan kehidupan akhirat dilupakan. Al-Qur’an menggambarkan bagaimana mereka sibuk membangun bangunan megah seakan akan hidup selamanya (QS. Asy-Syu’ara: 128–129).

Nabi Saleh AS, Sosok Terpercaya di Tengah Kaum Tsamud

Nabi Saleh AS bukanlah orang asing bagi kaumnya. Ia dikenal sebagai sosok berakhlak mulia, jujur, dan bijaksana. Bahkan sebelum diangkat menjadi nabi, ia hampir dipilih sebagai pemimpin kaum Tsamud. Namun segalanya berubah ketika Allah SWT mengangkatnya sebagai rasul.

Nabi Saleh AS mulai menyeru kaumnya kepada tauhid:

“Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia…”
(QS. Hud: 61)

Seruan ini justru mengecewakan kaum Tsamud. Mereka berkata, “Wahai Saleh, dahulu engkau adalah orang yang kami harapkan. Mengapa kini engkau melarang kami menyembah apa yang disembah leluhur kami?” (QS. Hud: 62).

Fenomena ini mirip dengan yang dialami Nabi Muhammad ﷺ. Sebelum kenabian, beliau dikenal sebagai Al-Amin. Namun setelah membawa risalah tauhid, penolakan dan permusuhan pun bermunculan.

Mukjizat Unta Betina: Tanda dari Allah

Kaum Tsamud menantang Nabi Saleh AS untuk mendatangkan mukjizat. Mereka menunjuk sebuah batu besar dan meminta agar dari batu itu keluar seekor unta betina yang besar, indah, sedang hamil, dan mampu memberi susu untuk seluruh penduduk.

Atas izin Allah SWT, mukjizat itu benar-benar terjadi. Dari batu besar tersebut keluar unta betina sebagai tanda kebesaran Allah. Nabi Saleh AS memperingatkan agar unta itu tidak diganggu dan diberi hak minum secara bergiliran dengan penduduk (QS. Al-A’raf: 73, QS. Al-Qamar: 28).

Mukjizat ini membuat sebagian orang beriman. Namun bagi kaum pembangkang, unta tersebut justru menjadi simbol yang mengganggu kesombongan mereka.

Kejahatan dan Pembangkangan Kaum Tsamud

Rasa dengki dan kebencian mendorong para pembesar kaum Tsamud untuk merencanakan pembunuhan terhadap unta tersebut. Al-Qur’an menyebut bahwa orang paling celaka di antara mereka bangkit untuk melaksanakan kejahatan itu (QS. Asy-Syams: 12–13).

Unta betina itu akhirnya disembelih. Mereka menantang Nabi Saleh AS untuk mendatangkan azab yang dijanjikan. Nabi Saleh AS pun berkata:

“Bersenang-senanglah kalian di rumah kalian selama tiga hari. Itu adalah janji yang tidak akan didustakan.”
(QS. Hud: 65)

Kesombongan kaum Tsamud semakin menjadi. Bahkan mereka merencanakan pembunuhan terhadap Nabi Saleh AS dan keluarganya. Namun Allah SWT menggagalkan rencana itu dan memerintahkan Nabi Saleh AS beserta orang-orang beriman untuk meninggalkan negeri tersebut.

Azab Allah dan Pelajaran bagi Umat Manusia

Azab Allah pun turun. Kaum Tsamud dibinasakan oleh suara keras dan gempa dahsyat. Tidak ada satu pun yang mampu menolong mereka. Sementara Nabi Saleh AS dan para pengikutnya diselamatkan.

Dengan hati yang sedih, Nabi Saleh AS berkata:

“Wahai kaumku, sungguh aku telah menyampaikan amanat Tuhanku dan menasihati kalian, tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.”
(QS. Al-A’raf: 79)

Madain Saleh Hari Ini: Bukan Tempat Wisata Biasa

Rasulullah ﷺ mengingatkan agar umat Islam tidak mendatangi bekas negeri kaum Tsamud dengan sikap bersenang-senang. Tempat itu seharusnya menjadi pengingat dan pelajaran agar manusia tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Kisah Nabi Saleh AS mengajarkan bahwa kesombongan, penolakan terhadap kebenaran, dan penyalahgunaan nikmat Allah hanya akan membawa kehancuran. Mukjizat bukan untuk dipermainkan, dan iman bukan sekadar pengakuan, tetapi ketaatan.(myislam)
 


(ACF)