Ustadz Muhammad Faizar Ungkap Kondisi Ruh Orang Kafir Saat Kematian

N Zaid - Siksa Kubur 26/02/2026
Ustadz Muhammad Faizar Ungkap Kondisi Ruh Orang Kafir Saat Kematian. Foto: Pixabay
Ustadz Muhammad Faizar Ungkap Kondisi Ruh Orang Kafir Saat Kematian. Foto: Pixabay

Oase.id - Pembahasan tentang kematian kembali menjadi sorotan dalam kajian eskatologi Islam yang disampaikan Ustadz Muhammad Faizar. Dalam ceramahnya, ia memaparkan gambaran kondisi ruh orang kafir dan mereka yang durhaka saat detik-detik meninggal dunia.

Menurutnya, kematian bukan sekadar akhir biologis, melainkan pintu menuju alam yang tak kasatmata.

“Kematian adalah kepastian. Tidak bisa ditunda, tidak bisa dihindari, dan tidak bisa ditawar oleh siapa pun,” ujar Muhammad Faizar dalam kajiannya.

Detik-Detik Ruh di Tenggorokan

Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an menggambarkan momen menjelang wafat ketika ruh telah sampai di tenggorokan, sebagaimana disebut dalam Surah Al-Qiyamah. Pada fase itu, keluarga yang menyaksikan hanya bisa berharap ada pertolongan terakhir.

“Biasanya yang terjadi adalah kepanikan. Orang akan berkata, siapa yang bisa menyembuhkan? Siapa dokter terbaik yang bisa menyelamatkannya?” katanya.

Namun, ia menegaskan, ketika ajal telah ditetapkan, tak ada satu pun manusia yang mampu menghalanginya.

“Sepakar apa pun seorang dokter, dia tidak bisa menahan ruh yang sudah diperintahkan keluar dari jasadnya,” tegasnya.

Percakapan Malaikat dan Penolakan di Langit

Dalam penjelasannya, Muhammad Faizar juga menyinggung tafsir ayat tentang ucapan “waqila man roq”. Ia menyebut terdapat dua makna, yakni seruan manusia yang mencari penyembuh dan percakapan malaikat ketika mencabut ruh orang kafir atau pendosa.

Ia mengutip sejumlah riwayat yang menyebutkan bahwa ruh orang kafir memiliki bau yang sangat busuk. Malaikat yang membawanya akan menyebut namanya dengan sebutan yang paling buruk sesuai amalnya di dunia.

“Ketika ruh itu dibawa naik, para malaikat di langit bertanya tentang bau menyengat tersebut. Tetapi pintu langit tidak dibukakan untuknya. Ruh itu ditolak,” jelasnya.

Dicabut dengan Keras dan Menyakitkan

Mengacu pada Surah Al-Anfal, ia menerangkan bahwa malaikat mencabut ruh orang kafir dengan keras.

“Al-Qur’an menggambarkan malaikat memukul wajah dan punggung mereka sambil mengatakan, ‘Rasakanlah azab yang membakar’,” katanya.

Ia juga menyebutkan riwayat yang menggambarkan malaikat datang dengan rupa menyeramkan dan proses pencabutan ruh diibaratkan seperti mencabut bulu dari besi panas.

“Karena dahsyatnya peristiwa itu, Allah membatasi penglihatan manusia. Jika kita bisa melihatnya, mungkin kita tidak akan sanggup,” ujarnya.

Penyesalan yang Tak Berguna

Setelah ruh terpisah dari jasad, menurutnya, seseorang masih bisa melihat keluarganya menangis, namun seluruh kenikmatan dunia telah terputus.

“Tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, tidak ada lagi tambahan amal,” katanya.

Bagi orang kafir, kondisi itu disebut sebagai awal kesengsaraan panjang. Sementara bagi mukmin yang berdosa besar namun masih memiliki iman, harapan tetap terbuka melalui rahmat Allah dan doa orang-orang yang ditinggalkan.

“Doa anak saleh, doa kaum mukminin, itu sangat berarti. Tapi kalau dia banyak menyakiti orang dan belum meminta maaf, urusannya menjadi berat,” tuturnya.

Ketakutan Memasuki Alam Barzakh

Muhammad Faizar juga menjelaskan tentang alam barzakh sebagai fase peralihan antara dunia dan hari kiamat. Dalam sejumlah riwayat disebutkan, ruh orang berdosa merasa takut ketika hendak dimasukkan ke liang lahat.

“Ruh tetap hidup dan merasakan keadaan sesuai amalnya,” ujarnya.

Ia menutup kajian dengan pesan agar umat Islam tidak menunda taubat dan kebaikan.

“Kita tidak tahu kapan kematian datang. Karena itu, perbanyak amal jariyah, perbaiki hubungan dengan sesama, dan jaga iman sampai akhir hayat,” katanya.

Kajian tersebut menjadi pengingat bahwa kematian adalah keniscayaan, sementara kondisi ruh setelah wafat diyakini berbeda antara orang beriman dan mereka yang ingkar.


(ACF)
TAGs: Siksa Kubur