Ramadan Jadi Momentum Kebangkitan Serial TV Suriah Usai Perang
Oase.id - Bulan Ramadan tidak hanya identik dengan puasa dan ibadah, tetapi juga musim tayangnya serial drama televisi yang dinantikan pemirsa di Suriah. Selama puluhan tahun, produksi drama Suriah dikenal sebagai salah satu yang terbaik di kawasan Timur Tengah.
Kini, setelah lebih dari 14 tahun perang saudara dan tumbangnya pemerintahan Presiden Bashar Assad, industri televisi Suriah berupaya bangkit dan menata kembali arahnya di era baru.
Industri Televisi di Bawah Bayang-Bayang Perang
Pada masa pemerintahan Assad, ruang ekspresi politik sangat terbatas. Namun, menurut Christa Salamandra, profesor antropologi di Lehman College dan City University of New York yang meneliti drama Suriah, televisi justru menjadi ruang alternatif bagi seniman dan intelektual untuk berkarya.
Gelombang protes anti-pemerintah pada 2011 yang berujung perang saudara membuat industri hiburan ikut terpecah. Banyak sineas dan aktor memilih mengasingkan diri ke luar negeri, sementara yang bertahan di dalam negeri menghadapi pembatasan ketat.
Setelah kejatuhan Assad, para aktor dan sutradara yang sebelumnya terbelah karena perbedaan politik mulai kembali bekerja bersama. Topik-topik yang dulu tabu, seperti penyiksaan di penjara era Assad, kini mulai diangkat dalam produksi terbaru. Namun, perjalanan industri ini di era pascaperang tetap penuh tantangan.
Mengangkat Luka Lama Lewat Layar Kaca
Di Aleppo, sebuah tim produksi baru-baru ini mengubah salah satu jalan di pusat kota menjadi latar era 1970-an untuk serial berjudul “Al-Souriyoun Al-Aada” (Musuh-Musuh Suriah). Serial ini diadaptasi dari novel yang sempat dilarang pada masa Assad karena mengangkat sisi kelam sejarah Suriah, termasuk pembantaian Hama pada 1982.
Peristiwa itu terjadi saat Presiden Hafez Assad, ayah Bashar Assad, memerintahkan serangan untuk meredam pemberontakan di Kota Hama. Ribuan orang dilaporkan tewas atau hilang dalam operasi tersebut.
Dalam versi televisinya, aktris senior Yara Sabri, yang sempat meninggalkan Suriah karena sikap kritisnya terhadap pemerintah, berperan sebagai ibu dari seorang pemuda desa yang kelak menjadi bagian penting dari aparat keamanan represif negara.
Aktor Wissam Rida, yang memerankan tokoh tersebut, mengaku tidak pernah membayangkan bisa beradu akting dengan para bintang yang sebelumnya hidup di pengasingan.
Tantangan Baru di Era Pemerintahan Baru
Meski ruang kebebasan dinilai lebih terbuka, produksi drama tetap menghadapi kendala. Sutradara Allaith Hajjo, yang dikenal lewat serial komedi “Dayaa Dayaa” dan drama sosial “Intizar”, mengatakan pada masa lalu ia harus menyiasati sensor pemerintah.
Kini, menurutnya, tantangan berbeda muncul. Serial yang ia garap mendapat kritik di media sosial karena melibatkan aktor yang dianggap dekat dengan rezim lama. Selain itu, produksi juga mengalami penundaan karena proses perizinan dan sensor dari otoritas baru yang masih menyesuaikan diri.
Komite Nasional Drama Suriah belum memberikan tanggapan resmi terkait kebijakan sensor. Namun, sutradara Rasha Sharbatji menyebut pemerintah baru cukup kooperatif. Ia bahkan mengatakan Presiden sementara Ahmad Al-Sharaa menunjukkan minat terhadap perkembangan industri drama.
Meski demikian, belum jelas sejauh mana pemerintah akan mengizinkan pembahasan isu-isu sensitif pascakejatuhan Assad, termasuk kekerasan sektarian yang sempat melibatkan aparat negara.
Peran Drama dalam Rekonsiliasi
Aktor senior Jihad Abdo, yang pernah meninggalkan Suriah pada 2011 dan kini kembali ke Damaskus, menilai ruang kebebasan berekspresi lebih luas dibandingkan masa lalu. Ia kini memimpin Organisasi Umum Perfilman Suriah, meski menghadapi keterbatasan anggaran.
Menurut Abdo, industri televisi dan film memiliki peran penting dalam proses rekonsiliasi nasional. Dengan menampilkan kisah-kisah manusiawi dan membuka ruang dialog, drama dapat membantu menyatukan kembali masyarakat yang terbelah akibat perang panjang.
“Lukanya masih terbuka. Tapi menjadi tanggung jawab kami, para seniman dan intelektual, untuk mempertemukan kembali semua pihak dan terus berdialog, meski berbeda pandangan,” ujarnya.
Di tengah perubahan politik besar, industri drama Suriah berusaha menemukan jalannya. Ramadan tahun ini bukan sekadar musim tayang, melainkan juga simbol kebangkitan harapan baru bagi dunia hiburan negeri yang lama dilanda konflik. (arabnews)
(ACF)