Tren Makanan Halal di Vietnam Merambah ke Timur Tengah

N Zaid - Produk Halal 30/12/2025
Produk halal Vietnam. Foto: Malaymail
Produk halal Vietnam. Foto: Malaymail

Oase.id - Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan menguatnya proteksionisme perdagangan, Kota Ho Chi Minh, Vietnam, mulai memfokuskan strategi ekspornya ke pasar halal dunia. Langkah ini dinilai sejalan dengan pertumbuhan populasi Muslim global yang mencapai sekitar 2,2 miliar jiwa, mayoritas berada di kawasan Timur Tengah dan negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Kantor Berita Vietnam (VNA) melaporkan, pemerintah Kota Ho Chi Minh secara aktif mendorong pelaku usaha untuk menembus pasar halal sebagai upaya diversifikasi ekspor. Strategi ini diambil seiring semakin ketatnya standar dan regulasi di pasar tradisional seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang, yang selama ini menjadi tujuan utama ekspor Vietnam.

Tekanan geopolitik, perang tarif, dan kebijakan proteksi perdagangan dinilai membuat negara dengan ekonomi terbuka seperti Vietnam harus mencari pasar alternatif yang lebih stabil dan bertumbuh cepat.

Timur Tengah Jadi Pasar Strategis

Dalam konteks ini, kawasan Timur Tengah muncul sebagai pasar impor yang sangat potensial. Total nilai impor barang tahunan kawasan tersebut diperkirakan mencapai lebih dari US$1,2 triliun, atau setara sekitar Rp18.840 triliun per tahun. Sejumlah negara di kawasan ini juga mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) rata-rata 5–6 persen per tahun, jauh melampaui negara maju yang hanya tumbuh di kisaran 1–2 persen.

Data hingga 11 bulan pertama tahun 2025 menunjukkan, ekspor Vietnam ke Uni Emirat Arab telah mencapai sekitar US$5,4 miliar (sekitar Rp84,8 triliun), sementara ekspor ke Arab Saudi mencapai US$1,9 miliar atau sekitar Rp29,8 triliun.

Produk ekspor utama meliputi barang berteknologi tinggi seperti ponsel dan komponen elektronik yang menyumbang hampir 35 persen nilai ekspor, serta alas kaki, tekstil, garmen, kacang mete, hasil laut, kendaraan, dan produk pertanian.

Namun demikian, para pengamat menilai potensi perdagangan antara Kota Ho Chi Minh dan pasar Timur Tengah, khususnya sektor halal, masih belum tergarap secara optimal.

Ritel Halal Minat Produk Vietnam

Sejumlah jaringan ritel besar di Timur Tengah, seperti Lulu Hypermarket di Uni Emirat Arab dan Al Othaim Markets di Arab Saudi, dilaporkan menunjukkan minat kuat untuk menyerap produk-produk berkualitas dari Vietnam. Hal ini membuka peluang besar bagi pelaku usaha untuk masuk langsung ke jaringan distribusi berskala besar dan mengamankan kontrak ekspor jangka panjang.

Direktur Pusat Promosi Investasi dan Perdagangan Kota Ho Chi Minh (ITPC), Tran Phu Lu, menyatakan bahwa sebagai pusat ekonomi Vietnam, Kota Ho Chi Minh terus mendorong integrasi ekonomi internasional dengan berbagai kebijakan pendukung dunia usaha.

“Kami berupaya membantu pelaku usaha mengatasi tantangan operasional, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperkuat keterlibatan dalam rantai pasok global,” ujarnya.

Seiring meningkatnya permintaan global terhadap produk halal, pemerintah kota pun menetapkan pembangunan ekosistem halal sebagai salah satu arah strategis pembangunan ekonomi.

Pasar Halal Bernilai Ribuan Triliun Rupiah

Pasar halal global saat ini mencakup sekitar 25 persen populasi dunia dan diproyeksikan mencapai nilai ekonomi sekitar US$10 triliun sebelum 2028, atau setara Rp157.000 triliun.

Khusus sektor pangan halal, nilainya diperkirakan tumbuh dari US$2,71 triliun pada 2024 (sekitar Rp42.547 triliun) menjadi lebih dari US$5,91 triliun pada 2033 (sekitar Rp92.787 triliun), dengan laju pertumbuhan rata-rata sekitar 9 persen per tahun.

Kawasan Timur Tengah sendiri, dengan populasi sekitar 500 juta jiwa, memiliki total PDB sekitar US$3,6 triliun atau Rp56.520 triliun. Wilayah ini sangat bergantung pada impor pangan. Pada 2023, impor pangan tercatat mencapai sekitar US$1,32 miliar (sekitar Rp20,7 triliun), sementara negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mengimpor sekitar 85 persen kebutuhan pangan mereka.

Dorongan Diplomasi Ekonomi Halal

Direktur Jenderal Departemen Timur Tengah–Afrika Kementerian Luar Negeri Vietnam, Nguyen Phuong Tra, mendorong penguatan kerja sama dengan mitra Timur Tengah, termasuk pemberian insentif fiskal dan kemudahan pembiayaan bagi pelaku usaha.

Ia juga mengimbau perusahaan Vietnam untuk aktif mengikuti ajang perdagangan internasional seperti Saudi Food Expo, Halal Trade Expo Dubai, serta MIHAS di Malaysia guna memperluas jejaring distribusi global.

Upaya Kota Ho Chi Minh menembus pasar halal global tidak hanya bertujuan memperluas tujuan ekspor, tetapi juga memanfaatkan potensi ekonomi umat Islam dunia sebagai sumber pertumbuhan berkelanjutan. Akses ke 2,2 miliar konsumen Muslim dinilai dapat menjadi motor baru ekonomi, sekaligus memperkuat posisi Vietnam dalam rantai nilai industri halal global.(malaymail)
 


(ACF)
TAGs: Produk Halal