WHO Ganti Sebutan Social Distancing dengan Phsycal Distancing, Ini Bedanya

Phooby Kamaratih - Kesehatan 25/03/2020
Photo by Cristian Dina from Pexels
Photo by Cristian Dina from Pexels

Oase.id- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mendorong penggunaan frasa physical distancing yang berarti "menjaga jarak fisik" ketimbang sebutan social distancing alias menjaga jarak sosial.

Menurut WHO, gagasan pengubahan itu adalah untuk menjernihkan pemahaman bahwa perintah untuk tetap di rumah selama wabah virus korona (Covid-19) saat ini bukan tentang memutuskan kontak dengan teman dan keluarga, tetapi menjaga jarak fisik untuk memastikan penyakit itu tidak menyebar.

 

Interaksi tetap dibutuhkan

WHO juga menjelaskan, langkah menjaga jarak fisik dan mengarantina diri bila sakit memang baik untuk menahan penyebaran Covid-19, akan tetapi hal itu bukan berarti membuat orang-orang menjadi terisolasi secara sosial.

Baca: Bekerja atau Sekolah dari Rumah? Ikuti 3 Langkah Ini agar Tetap Produktif

 

Masyarakat tetap perlu melakukan interaksi, terutama dengan memanfaatkan teknologi informasi, dan menggunakan media sosial. 

"Kami berubah untuk menerapkan jarak fisik dan itu sengaja karena kami ingin orang-orang masih tetap terhubung," ucap Kepala Unit Penyakit Emergensi WHO Dr Maria Van Kerkhove melalui konferensi virtual sebagaimana dikutip dari Rappler

"Anda mungkin pernah mendengar kami menggunakan frasa jarak fisik (physical distancing), bukan jarak sosial (social distancing) dan salah satu hal untuk menyoroti apa yang dikatakan Mike tentang menjaga jarak fisik dari orang-orang sehingga kami dapat mencegah virus dari transfer ke satu lain; itu sangat penting." ucap Van Kerkhove.

 

Disiplin dan kerja sama

Baik menggunakan istilah social distancing maupun physical distancing, proses pemutusan mata rantai penyebaran virus ini hanya bisa terwujud jika masyarakat secara rela dan bekerja sama untuk kompak dan disiplin menjalankannya. 

Direktur Manajemen Penanganan Bencana dan Kebakaran Kementerian Dalam Negeri Safrizal mengatakan, aneka imbauan seperti work from home, school from home, atau stay at home mesti berjalan efektf.

"Kalau tidak, maka perlu tindakan yang lebih keras lagi dalam rangka mendisiplinkan masyarakat," kata Safrizal, sebagaimana dilansir dari Medcom.id pada Rabu, 25 Maret 2020.

Menurut dia, Pemerintah akan kewalahan jika penularan wabah ini makin tidak terkendali. Tenaga medis yang dimiliki Indonesia tidak akan sanggup membantu. 

Baca: Yuk! Patuhi Imbauan Social Distancing, Ini Manfaatnya Secara Psikologis

 

"Rumah sakit sudah mulai penuh, kalau ditambah terus pasiennya nanti tidak tertangani," ujar Syafrizal.
 
Syafrizal pun tidak ingin pemerintah menggunakan kebijakan yang lebih keras seperti pembatasan ruang gerak (lockdown) atau pembatasan di wilayah (partial lockdown). Karena itu, dia minta warga Indonesia disiplin jaga jarak.
 
"Perlu kerja sama semua pihak, baik masyarakat maupun dunia usaha, pemerintah dan segala macamnya," tutur Syafrizal.


(SBH)
TAGs: Kesehatan