Dipimpin WHO, 72 Negara Kaya Komitmen Alokasi Vaksin Covid-19

Medcom.id - Corona (Covid-19) 03/09/2020
Photo by AFP
Photo by AFP

Oase.id- Sebanyak 76 negara kaya sekarang berkomitmen untuk bergabung dengan rencana alokasi vaksin covid-19 global yang dipimpin bersama oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Alokasi ini bertujuan untuk membantu membeli dan mendistribusikan suntikan secara adil.

Kepala Eksekutif Aliansi Vaksin GAVI Seth Berkley mengatakan rencana terkoordinasi, yang dikenal sebagai COVAX sekarang termasuk Jepang, Jerman, Norwegia, dan lebih dari 70 negara lain yang telah mendaftar. Mereka pada prinsipnya setuju untuk mendapatkan vaksin covid-19 melalui fasilitas untuk populasi mereka.

"Kami memiliki, saat ini, 76 negara berpenghasilan menengah ke atas dan negara berpenghasilan tinggi yang telah menyerahkan konfirmasi niat untuk berpartisipasi dan kami berharap jumlah itu akan meningkat," kata Berkley, seperti dikutip Medcom.id, Kamis 3 September 2020.

"Ini kabar baik. Ini menunjukkan bahwa fasilitas COVAX terbuka untuk bisnis dan menarik jenis minat di seluruh dunia yang kami harapkan," tegasnya.

Koordinator COVAX sedang dalam pembicaraan dengan Tiongkok tentang apakah mereka mungkin juga bergabung. "Kami melakukan diskusi kemarin dengan pemerintah (Tiongkok),” ucap Berkley.

"Kami belum memiliki kesepakatan yang ditandatangani dengan mereka," tetapi Beijing telah memberikan "sinyal positif," tambahnya.

COVAX dipimpin bersama oleh GAVI, WHO dan Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI), dan dirancang untuk mencegah pemerintah nasional menimbun vaksin covid-19 dan untuk fokus pada vaksinasi pertama orang-orang yang paling berisiko tinggi di setiap negara.

Para pendukungnya mengatakan bahwa strategi ini harus mengarah pada biaya vaksin yang lebih rendah untuk semua orang dan lebih cepat mengakhiri pandemi yang telah merenggut sekitar 860.000 nyawa secara global.

Negara-negara kaya yang bergabung dengan COVAX akan membiayai pembelian vaksin dari anggaran nasional mereka. Selain itu mereka akan bermitra dengan 92 negara miskin yang didukung melalui sumbangan sukarela untuk rencana memastikan vaksin dikirimkan secara adil.

 

Negara-negara kaya yang berpartisipasi juga bebas untuk mendapatkan vaksin melalui kesepakatan bilateral dan rencana lainnya.

Amerika Serikat mengatakan pada Selasa bahwa mereka tidak akan bergabung dengan COVAX karena keberatan pemerintahan Trump atas keterlibatan WHO. Ini adalah sebuah langkah yang digambarkan oleh beberapa kritikus sebagai "mengecewakan". Berkley mengatakan dia tidak terkejut dengan keputusan AS, tetapi akan berusaha untuk melanjutkan pembicaraan dengan Washington.

Dalam apa yang tampaknya menjadi perubahan posisi pada Rabu, Uni Eropa mengatakan negara-negara anggotanya dapat membeli vaksin covid-19 potensial melalui COVAX.

Koordinator COVAX berusaha menambah fleksibilitas untuk bergabung dalam perjanjian untuk mendorong partisipasi yang lebih besar.

WHO menggambarkan COVAX sebagai "polis asuransi yang tak ternilai" bagi semua negara untuk mengamankan akses ke vaksin covid-19 yang aman dan efektif saat dikembangkan dan disetujui. Koordinator rencana tersebut telah menetapkan batas waktu 18 September bagi negara-negara yang mendaftar untuk membuat komitmen yang mengikat.

Tujuan COVAX adalah untuk mendapatkan dan mengirimkan 2 miliar dosis vaksin yang disetujui pada akhir tahun 2021. Saat ini COVAX memiliki sembilan kandidat vaksin covid-19 dalam portofolionya yang menggunakan berbagai teknologi dan pendekatan ilmiah yang berbeda.

Beberapa sudah dalam uji klinis tahap akhir dan dapat memiliki data yang tersedia pada akhir tahun.


(FER)
Fera Rahmatun Nazilah
Posted by Fera Rahmatun Nazilah