Keutamaan Malam Nisfu Syakban dan Hukum Mengamalkan Hadis Dhaif

Fera Rahmatun Nazilah - Hadis Hari Ini 06/04/2020
Photo by Jasmin Merdan from Gettyimage
Photo by Jasmin Merdan from Gettyimage

Oase.id- Nisfu Syakban alias pertengahan bulan Syakban1441 H akan jatuh bertepatan pada Rabu malam, 8 April 2020. Bagi sebagian besar Muslim di dunia, momentum ini kerap digunakan untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Sebenarnya, tidak banyak kentuan khusus dan terang mengenai amalan-amalan Nisfu Syakban. Akan tetapi, ada beberapa hadis yang membahas tentang keutamaan Nisfu Syakban, meskipun bersanad lemah atau dhaif.

Berikut beberapa hadis tentang Nisfu Syakban;

 

Riwayat Tirmidzi

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani', telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Al Hajjaj bin Arthah dari Yahya bin Abu Katsir dari 'Urwah dari 'Aisyah dia berkata; 

“Pada suatu malam aku kehilangan Rasulullah Muhammad Saw. Lalu aku keluar, ternyata aku dapati beliau sedang berada di Baqi'. Rasulullah bersabda, "Apakah kamu takut akan didzalimi oleh Allah dan Rasul-Nya?" 

“Wahai Rasulullah, saya mengira engkau mendatangi sebagian istri-istrimu," ucap Aisyah.

Beliau kemudian bersabda, "Sesungguhnya Allah Swt turun ke langit dunia pada malam pertengahan bulan Syakban, lalu mengampuni manusia sejumlah rambut kaum Ghanam Kalb." 

Hadis ini lemah (dhaif), sebagaimana dinyatakan Safiyurahman Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jami’ At-Tirmidzi.

Di sanadnya terdapat Al-Hajjaj bin Arthah dan ia dikenal sebagai mudallis, yakni orang yang menyembunyikan cacat periwayatan dengan menggunakan kalimat yang membuat pendengar menyangka bahwa perawi benar-benar mendengar hadis itu dari gurunya, Yahya bin Abu Katsir. 

Padahal Al-Hajjaj bin Arthah tidak pernah mendengar hadis ini dari Yahya bin Abu Katsir. Demikian juga Yahya bin Abu Katsir tidak pernah mendengar riwayat ini dari Urwah. Sehingga dalam riwayat ini, ada dua sanad yang terputus. 

Imam at-Tirmidzi menyatakan, hadis yang bertumpu ke Aisyah ini hanya ada satu jalur, yakni dari Hajaj. Imam Bukhari juga menyatakan kelemahan hadis ini. 

Selain Imam At-Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Al-Baihaqi dan Imam Ahmad juga meriwayatkan hadis ini, hanya saja bermuara pada jalur yang sama, yakni Al-Hajjaj bin Arthah, Yahya bin Abi Katsir hingga Urwah.

Akan tetapi, Imam Al-Bazzar dan Imam Al-Baihaqi meriwayatkan hadis ini dari jalur Abu Bakar ash-Shiddiq dengan sanad yang sedikit dipermasalahkan, tetapi masih dalam kadar bisa diterima (Laa ba’sa bih).

Baca: Anjuran Menyediakan Tempat Khusus untuk Salat di Rumah 

 

Riwayat Ibnu Majah

Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Ali Al Khallal berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq berkata, telah memberitakan kepada kami Ibnu Abi Sabrah dari Ibrahim bin Muhammad dari Mu'awiyah bin Abdullah bin Ja'far dari Bapaknya dari Ali bin Abu Thalib Ra ia berkata, 

"Rasulullah Saw bersabda, 'Apabila malam Nisfu Syakban (pertengahan bulan Syakban), maka salatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman; 

'Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rezeki, maka Aku akan memberinya rezeki. Adakah orang yang mendapat cobaan, maka Aku akan menyembuhkannya. Adakah yang begini, dan adakah yang begini…hingga terbit fajar.

Hadis ini juga lemah, karena ada Ibnu Abi Sabrah di sanadnya. Nama aslinya adalah Abu Bakr bin Abdillah bin Ahmad bin Abi Sabrah.

Ada beberapa kritikan mengenai Ibnu Abi Sabrah. 

Imam Bukhari menyatakan Ibnu Abi Sabrah dhaif, sedang Imam Nasa’i mengecapnya matruk, yakni perawi yang dituduh berdusta dalam periwayatannya, lantaran ia sudah biasa berbohong saat berbicara sehari-hari.

Bahkan Imam Ahmad menilai Ibnu Abi Sabrah memalsukan hadis.

 

Riwayat Ahmad

Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, telah menceritakan kepada kami Huyai bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli, dari Abdullah bin 'Amru, bahwa Rasulullah Saw bersabda: 

"Allah Ta'ala mengamati makhluk-Nya pada malam pertengahan bulan Syakban, lalu Dia mengampuni dosa-dosa hamba-Nya kecuali dua saja; orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh seseorang."

 

Hadis ini juga dhaif lantaran ada perawi yang bernama Ibnu Lahi’ah. Ibnu Majah juga meriwayatkan hadis ini dari jalur Abi Musa Al-Asy’ari, hanya saja di sanadnya juga terdapat Ibnu Lahi’ah. 

Akan tetapi hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, Ibnu Hibban dan Imam Thabrani dari sanad yang berbeda, yakni dari jalur Makhul yang bermuara pada Muadz bin Jabal. 

Dalam Al-Ihsan fii Taqrib Shahih Ibnu Hibban disebutkan bahwa hadis ini sahih dengan dukungan syawahidnya (hadis lainnya), semua perawinya tepercaya (tsiqah), hanya saja sanadnya terputus, karena Makhul tidak pernah bertemu dengan Malik bin Yukhamir. Sedangkan Safiyurahman al-Mubarakfuri menilai hadis ini mursal jayyid. 

Dalam Mu’jam al-Musthalahat al-Haditsiyah, Makhul ad-Dimasyqi memang dinyatakan sebagai salah satu tabiin yang sering memursalkan hadis. 

 

Riwayat Baihaqi

Ada pula hadis mursal lainnya yang diriwayatkan Imam Baihaqi:

Telah menceritakan kepada kami Abu Nashr bin Qatadah ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Manshur Muhammad bin Ahmad al-Azhari al-Harawi ia berkata, telah menceritakan kepada kami al-Husain bin Idris, telah menceritakan kepada kami Abu Ubaidillah bin Akhi bin Wahb, telah menceritakan kepada kami pamanku, telah menceritakan kepada kami Muawiyah bin Shalih, dari ‘Ala bin al-Harits, sesungguhnya Aisyah Ra berkata:

“Rasulullah Saw bangun malam untuk salat, beliau sujud sangat lama hingga aku mengira beliau wafat. Melihat itu, akupun bangun dan menggerakkan jempolnya, beliau pun bergerak, maka aku kembali. Saat beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan selesai dari salatnya, beliau berkata;

“Wahai Aisyah –atau Humaira- apa kau mengira Nabi ini mengkhianatimu?”

“Tidak, demi Allah, ya Rasulallah, aku mengira (nyawamu) dicabut lantaran sujudmu yang terlalu lama,” jawab Aisyah.

“Apakah kau tahu malam apa ini?” tanya Rasulullah

“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” jawab Aisyah

Beliau kemudian bersabda “Ini adalah malam Nisfu Syakban, sesungguhnya Allah Azza wa jalla mengamati hambanya di malam Nisfu Syakban, lalu mengampuni orang-orang yang beristigfar, dan merahmati orang yang mengharapkan rahmat, dan menangguhkan (ampunan) orang yang memiliki dendam.”

Imam Tirmidzi menyatakan hadis ini Mursal jayyid, karena ‘Ala bin Al-Harits menyembunyikan nama Makhul, seharusnya dalam riwayat ini ia menyebutkan nama Makhul sebelum Aisyah Ra.

 

Dasar pengamalan

Meskipun hadis-hadis di atas dhaif, namun beberapa masih boleh diamalkan untuk fadilah amal, sebagaimana pernyataan Mahmud Tahhan;

“Para ulama berbeda pendapat tentang kebolehan beramal dengan hadis dhaif, adapun mayoritas ulama menyatakan dianjurkan (mustahab) beramal dengan hadis dhaif untuk fadilah amal, Imam Ibnu Hajar memberikan 3 syarat, yakni;

  1. Penyebab lemahnya hadis itu tidak parah (misalnya bukan karena ada perawi yang pendusta), 
  2. Hadis tersebut berinduk pada hadis pokok yang boleh diamalkan (yang lebih valid)
  3. Tidak meyakini bahwa hadis itu shahih pada saat mengamalkannya, melainkan harus ada sikap kehati-hatian, agar tidak menisbatkan kepada Nabi Saw

Baca: Doa agar Tetap Diberi Kelancaran Rezeki di Tengah Ekonomi yang Serba Sulit

 

Hadis sahih

Selain itu, ada riwayat shahih tentang keistimewaan Bulan Syakban, salah satunya tercantum dalam Shahih Muslim: 

Aisyah Ra berkata;

"Rasulullah Saw sering berpuasa hingga kami mengira bahwa beliau akan puasa seterusnya. Dan beliau sering berbuka (tidak puasa) sehingga kami mengira beliau akan berbuka (tidak puasa) terus-menerus. Dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa terus sebulan penuh kecuali Ramadan. Aku juga tidak pernah melihat beliau puasa sunah dalam sebulan yang lebih banyak daripada puasanya di bulan Syakban. Beliau berpuasa pada bulan Syakban hingga sisa harinya tinggal sedikit." (HR Muslim)

Selain berpuasa, Rasulullah Saw memang senantiasa bangun malam untuk salat, bermunajat dan istighfar. Maka tak ada salahnya jika kita pun menghidupkan malam Nisfu Syakban dengan salat, membaca Al-Qur’an, zikir, dan memperbanyak memohon ampunan. 

 

Sumber: Disarikan dari penjelasan dalam Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jami’ At-Tirmidzi karya Safiyurahman Al-Mubarakfuri, Taisir Mushtalah Al-Hadits karya Mahmud Thahhan, Al-Ihsan fii Taqrib Shahih Ibnu Hibban karya Ibnu Hibban yang disusun kembali oleh Ali bin Balban. Serta keterangan dalam Mu’jam Al-Musthalahaat Al-Haditsiyah karya Sayyid Abdul Majid Al-Ghauri.


(SBH)